
...Another girl...
SEPERTI biasa, suasana disekolah selalu ramai dengan segala aktivitas para murid dilingkungan itu.
Hari ini Amara datang lebih pagi, tidak seperti minggu lalu saat dirinya harus dikejar waktu dan bermacet ria diatas motor bersama Emir.
"Amara!" Suara cempreng yang tak kalah berisik dari Amara, memanggilnya dari balik punggung gadis itu.
Amara menoleh. "Hai ...," sahutnya saat melihat sahabatnya itu. Sandrina.
Bisa kembali bersekolah bersama teman yang sudah akrab sewaktu di SMP adalah hal yang paling bahagia. Sandrina adalah teman terdekat Amara dari sekian teman-teman yang sering bermain bersama. Sehingga kedekatan mereka bisa dikatakan lebih dari teman biasa.
"Aku baru denger dari anak-anak, katanya minggu lalu kamu pingsan?" ucap Sandrina yang baru mengetahui kabar itu.
Walaupun Sandrina satu sekolah dengan Amara, namun mereka berdua tidak pernah duduk dikelas yang sama selama sekolah disana.
"Ya Ampun. Itu berita lama Na. Udah basi tau ...," sahut Amara sambil melanjutkan jalannya dilorong kelas.
Sambil celingak-celingukan melihat sekitar halaman sekolah, Sandrina berkata, "Tumben nggak ada pengawal," celetuknya yang membuat Amara mengerutkan keningnya. "Emir. Maksudku anak itu, kemana dia?" tanyanya kemudian.
Kebersamaan Amara dan Emir sudah dikenal oleh seluruh penghuni disekolah itu, sebab sudah hampir dua tahun ini mereka selalu bersama, dimanapun dan kapanpun. Oleh karenanya jika salah satu dari mereka tak terlihat bersama, maka orang-orang seperti Sandrina akan keheranan.
Iya. Segalanya tentang Emir, gadis itu mengetahuinya. Bahkan bayang-bayang tubuh bagian atas Emir yang polos--minggu lalu membuat Amara tak bisa menghilangkan rona merah dipipinya yang chubi setiap kali dia teringat kejadian itu.
Kegiatan belajar mengajar berjalan lancar seperti biasa. Sama halnya didalam kelas 2A, kelas yang ditempati Emir dan Amara. Kebetulan hari ini adalah presentasi tugas kelompok dari mata pelajaran Biologi. Dan kelompok Emir adalah yang pertama untuk menunjukan hasil studi tim-nya.
Didepan kelas sudah berdiri dua orang perwakilan dari kelompok yang Emir pimpin. Salahsatunya tentu saja Emir, namun perwakilan yang lainnya bukanlah Amara. Walaupun gadis itu berada dalam satu kelompok bersama Emir, tapi yang mendampingi Emir untuk melakukan presentasinya adalah Helma, salah satu anak yang masuk peringkat tiga dikelas itu.
Melalui benda yang dibuat mirip dari styrofoam, kelompok Emir menjelaskan tentang bagian sel dengan begitu asiknya, belum lagi penjelasan yang disampaikan Helma dengan cara yang komunikatif, membuat semua murid yang menyaksikan begitu menikmati materi yang dibawa oleh dua orang didepan kelas itu.
"Bagus! Kalian sangat cocok dan kompak" puji Pak Dahlan. Guru pembimbing. "Cara kalian menjelaskan tentang Sel, membuat saya bersemangat" ungkapnya lagi. "Saya harap kelompok lain bisa seperti mereka" imbuh Pak Dahlan yang membuat kelompok lain menciut.
Pujian dan kekaguman yang diutarakan Guru itu membuat hati Amara tergores. Belum lagi teman-teman kelompoknya yang menyadari bahwa Emir terlihat lebih bersinar jika bersama Helma.
Sebab selama ini dimata mereka, Emir bagaikan pria yang mengekor Amara seperti penjaga. Namun kejadian langka hari ini membuktikan, bahwa Emir memiliki aura bintang yang memancar jika tak bersama gadis yang hampir dua belas tahun bersamanya.
Pandangan sinis diarahkan Amara pada keduanya saat Emir dan Helma berjalan ke arah meja kelompok yang juga ada Amara disana.
...Bersambung...