Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
35| Langit Tak Secerah Yang Terlihat



...Langit Tak Secerah Yang Terlihat...


SUDAH dua hari ini, Amara, Sandrina dan Melani berlibur di Puncak. Niatnya mereka akan menginap selama satu minggu di Vila milik Melani.


Siang ini Amara terlihat berdiri di Balkon kamar lantai dua sambil menyandarkan tubuhnya pada pagar besi penghalang yang kokoh. Kedua tangannya menangkup wajahnya yang bulat, hingga membuat kedua pipinya terangkat.


Awan biru siang ini memang cerah, namun terasa ada yang kurang dari pemandangan langit biru yang kini tengah dipandang Amara.


Tak ada embusan angin siang itu. Walau cuaca di Puncak begitu dingin, namun semilir angin tak jua menerpa tubuh dan wajahnya.


Amara terdiam dalam lamuanannya, menerawang dan membayangkan wajah Emir yang mungkin tak akan dilihatnya dalam beberapa tahun kedepan.


Ada rasa penyesalan saat dia membayangkan Emir yang berjalan menuju lorong ke arah pesawat. Harusnya dia ada disana bukan? Sebagai teman kecil yang sudah puluhan tahun hidup bersama.


Ternyata apa yang dikhawatirkan Mama nya benar terjadi, Amara belum siap jauh dari Emir. Harusnya gadis itu buang semua rasa gengsinya, dan berani jujur akan perasaanya pada ...


Ah! Kenapa sekarang gadis itu malah terisak. Bahkan sampai meluluhkan tubuhnya hingga dia berjongkok sambil menangkup wajahnya--sesenggukan.


"Ya Allah!" Sandrina yang baru saja datang langsung beringsut memeluk tubuh Amara di balkon itu. "Kamu kenapa, Ra?" Gadis itu terlihat panik. "Melaniiiii!!" pekik Sandrina memanggil bantuan.


Tangisan Amara semakin menjadi, gadis itu sesenggukan dengan suara tangis yang seolah tertahan namun tetap tak bisa, sehingga membuat Sandrina yang tengah mencoba menenangkannya menjadi ikut menangis juga.


Melani datang dengan nafas tersengal-sengal. Wajahnya semakin pucat saat melihat kedua temannya itu sudah terduduk sambil berpelukan.


Bahkan tangisan sesenggukan dari Amara dan Sandrina membuat gadis yang dikenal paling dewasa itu pun ikut beringsut dan menangis bersama tanpa tau apa penyebab yang sebenarnya.


Seketika Sandrina melepas pelukannya pada tubuh Amara, kemudian dia beralih memandang wajah Amara yang masih menangis sesenggukan.


"Kamu nangis karena apa, Amara?" Pertanyaan yang dilontarkan Sandrina sontak membuat Melani mengerutkan keningnya dengan menatap tajam ke arah Sandrina yang sudah tak menangis lagi.


Jangan bilang kalau kamu cuma ikut-ikutan nangis tanpa tau sebabnya ya, Na?! Batin Melani seolah tersampaikan pada Sandrina yang kini memasang wajah bingung.


"E-emir..." ucap Amara sesenggukan.


"Apa?!" Seolah terkejut. Sandrina tak percaya dengan apa yang digumamkan sahabatnya.


Lain halnya dengan Melani yang langsung merengkuh tubuh Amara. Dia menangkup wajah Amara yang basah akibat air matanya. "Apa perlu kita susul Emir?" ucapnya kemudian.


Ucapan Melani barusan berhasil membuat kedua sahabatnya menoleh pada nya.


Kemudian Sandrina memalingkan wajahnya ke arah Amara. "Kamu s-suka sama Kacung itu?" lirih gadis itu yang baru menyadari semuanya.


Melani menatap Sandrina tak percaya. "Kamu baru tau, Na? tanya Melani dengan kening berkerut.


Sandrina mendengus "Gimana aku mau tau?! Yang punya perasaan aja baru nyadarnya sekarang pas si Kacung itu udah pergi?!" seru Sandrina menatap Amara tak percaya.


Ya Allah ... apa yang udah aku perbuat! Batin Sandrina seolah menyesali semua tindakannya.


...Bersambung...