Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
33| Thank You & Good Bye



...Thank You & Good Bye...


ANDAR menatap putri semata wayangnya dengan sendu, entah mengapa perasaan lelaki paruh baya itu begitu melow saat akan melepaskan Amara untuk berlibur tanpa dirinya.


"Ya ampun Pah ... kaya Amara nggak akan balik lagi aja" ujar Amara sambil menggandeng lengan Sang Papa. "Mukanya jangan sedih gitu dong ...," ucap gadis itu sambil mengeratkan pelukan dilengan Papanya.


"Kalau sudah sampai, segera kabari Papa, ya?!" pinta Andar.


"Iya Papah ku sayang ...," ucap Amara sambil memeluknya.


Kemudian gadis itu memeluk dan mengecup Liana yang ada disebelahnya. "Amara jalan-jalan dulu ya, Ma" Gadis itu berkata sambil tersenyum.


Dan pelukan itu segera berpindah pada Fatma, dan tak lupa juga mencium tangan Ayah Emir.


Sedangkan Emir yang berdiri di belakang orangtuanya itu hanya menatap sendu ke arah gadis yang memakai sweater kuning kesayangannya.


Didalam Mobil milik Melani, Amara sempat melirik ke arah Emir. Namun gadis itu enggan berpamitan, hanya sebuah senyuman tipis yang diberikan olehnya pada lelaki dengan tatapan malang itu.


"Udah ready nih?" tanya Melani memastikan.


Saat Sandrina menjawab dengan penuh semangat, Amara hanya diam saja.


"Amara? Ready to go ...?" pertanyaan Melani menggantung, menunggu reaksi Amara berikutnya.


"Aye aye Captain!" pekik Amara yang disambut tawa oleh kedua sahabatnya itu. Kemudian mobil pun melaju meninggalkan kediaman Amara.


Setelah melepas kepergian Amara beserta teman-temannya. Mereka semua pun kembali pada rutinitas masing-masing.


"Emir," panggil Andar yang baru akan masuk kedalam rumah.


Emir pun menoleh. "Iya, Om" sahutnya sambil mendekat.


"Om akan menunggu kamu di ruang kerja. Sekarang" titahnya. Dan Emir pun mengangguk.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk, Mir" ujar Andar yang sudah mengetahui siapa pengetuk pintu itu.


Andar sudah duduk di sofa dalam ruang kerjanya. Dan dengan menggerakkan dagunya, Andar menyuruh Emir duduk disampingnya.


"Sudah fix ya, lusa kamu berangkat?" tanya Andar sesaat Emir terduduk.


"Iya, Om. InsyaAllah" sahut Emir menganggukan kepala.


Kemudian Andar menyodorkan beberapa dokumen untuk keberangkatan Emir. "Om sangat berharap, semua yang kamu impikan dapat terwujud" ucap Andar.


"Terimakasih, Om. Emir akan berusaha" sahut Emir begitu yakin.


"Dan ... ini, ambillah" Andar memberikan sebuah buku tabungan beserta ATM yang sepertinya bukan dari Negara dia berasal. Dan Emir melirik sejenak ke arah benda itu.


"Untuk apa, Om?" tanya Emir bingung.


"Untuk berjaga-jaga. Walau disana semua kebutuhan kamu dijamin oleh Kampus, tapi ini akan membantu kamu untuk membeli keperluan yang tidak dianggarkan oleh dana beasiswa" Emir terlihat ingin menolak. "Om, sangat memohon! Terimalah!" paksa Andar dengan sangat.


Andar begitu menyayangi Putra dari teman baiknya. Ahmad.


Sejak kedatangan Emir ke rumah itu, tepat di saat dia berusia Enam tahunan, Andar selalu memberikan fasilitas kelas atas untuk menunjang kehidupan Emir. Tak beda jauh dengan putri kandungnya. Amara.


"Tapi, Om Andar, sudah terlalu banyak memberikan apapun pada Emir" ujar anak lelaki itu tertunduk malu.


Andar mengusap punggung Emir yang kini terasa lebih lebar dan keras. "Ayah kamu dulu banyak membantu, Om. Jadi apa yang Om berikan pada kamu sekarang ini, bukanlah apa-apa. Tolong terima. Mungkin ini hal terakhir yang bisa Om berikan" ungkap Andar.


...Bersambung...