
ANDAI saat itu Emir dapat meredam ambisinya untuk sebuah pengakuan, mungkin akan lain jalan ceritanya.
Dan bila saat itu dirinya lebih berani untuk memerdekakan perasaannya, pastilah keduanya akan merasakan bunga asmara kala diusia belia.
Namun, nasi sudah menjadi bubur. Sama halnya dengan waktu yang tak bisa lagi untuk diundur. Kini yang lelaki itu butuhkan adalah sebuah legalitas untuk perasaannya, keinginannya dan juga harapannya.
"Aku dan Mama, mau dipulangin ke rumah Mommy?" Saat Aidan bertanya seperti itu, wajah bocah lelaki yang sudah menyangka Emir adalah Ayah kandungnya menampakkan wajah sendu ke arah pria yang dia panggil dengan sebutan papa.
Emir sontak menoleh ke arah pintu kamar, dimana Aidan tengah berdiri saat ini.
Amara yang menyadari raut wajah putranya khawatir, langsung mematikan sambungan teleponnya dengan Sandrina secara sepihak.
Amara merasa semua hal ini bermula dari rasa takutnya akan status dirinya dan Aidan, yang akan menjadi bahan pembicaraan jika mereka memutuskan tinggal di Kampung halaman Emir--Majalengka.
"Bukannya, Papa mau ngajak aku ke rumah Nenek?" tanya bocah lelaki itu lagi. Dia begitu penasaran.
Emir mengulurkan tangannya untuk menyentuh tubuh Aidan yang semakin mendekat. Lalu dia dudukan bocah itu di atas pangkuannya.
"Tentu!" Emir menyahuti cepat. "Tapi setelah kamu bantu Papa," katanya lagi.
Aidan mengerutkan kening. Lalu bocah itu memiringkan kepalanya seolah meminta penjelasan.
"Kamu ingat pembicaraan 'antar pria' yang pernah Papa katakan waktu itu?" bisik Emir yang jelas masih terdengar oleh Amara.
Beberapa bulan yang lalu, saat pertama kali Emir bertemu dengan anak lelaki yang memiliki kemiripan dengan Amara, Emir sudah jatuh hati.
Tanpa Melani memberitahu siapa anak itu, sebenarnya Emir sudah yakin bahwa anak bernama Aidan itu adalah anak Amara.
Saat Aidan memanggil dirinya dengan sebutan 'papa', sungguh hati Emir menghangat. Dan secara impulsif Emir merentangkan tangan seolah sudah siap untuk menyandang sebuah predikat yang tak pernah dia duga sebelumnya.
Saat pertama kali berbincang dengan anak lelaki yang bahkan usianya belum menginjak enam tahun, Emir sempat dibuat bungkam.
Awalnya Emir sempat bingung. Foto seperti apa yang dimaksud Aidan. Namun, saat bocah itu membawa sebuah album foto pernikahan. Emir mengerti seolah melewatkan sesuatu.
'Kita bisa buat yang tidak kalah bagus dari ini,' Saat itu, Emir menjawab demikian, tanpa pikir panjang dan dilakukan secara spontan. Bahkan lelaki itu sudah menjabarkan sendiri konsep seperti apa yang akan dia buat dihadapan Aidan.
Kalau ada yang tanya apakah Amara tahu? tentu saja jawabannya, tidak!
Hal ini dia lakukan sebelum Emir melamar Amara. Dan alasan inilah yang membuat lamaran Emir hambar dan tak ada romantis-romantisnya. Demi kejar target.
Kembali ke waktu sekarang. Saat Aidan mengingat semua pembicaraan itu, tentu saja dia mengangguk paham dengan antusias.
Dan Amara hanya mengernyitkan dahinya, bingung dengan tingkah dari kedua lelaki didekatnya.
...----------------...
Sudah satu minggu berlalu sejak terakhir kali Sandrina menelpon.
Kondisi rumah peninggalan Almarhum ayah Amara kini terasa lebih hangat. Sebab Orangtua Emir memutuskan tinggal sementara dirumah itu untuk menemani Amara dan Aidan. Karena Emir sedang menyelesaikan beberapa urusan penting terkait kantor baru dan juga permasalahan hukum yang menyangkut kecelakaan yang dialami Amara, Aidan serta Sandrina beberapa minggu yang lalu.
"Apa kamu yakin dengan keputusan yang dibuat Emir, Bu?" tanya Ahmad, Ayah Emir.
Kini orangtua Emir sedang duduk di teras belakang rumah sambil memandangi kebun bunga mawar putih yang semakin terlihat subur.
Disebelah Ahmad, sang istri sedang mengupas kulit buah jeruk untuk Aidan yang sedang asik mewarnai.
"Sebagai seorang Ibu .... Aku hanya bisa mendoakan dan memberi dukungan saja, Pak." Wanita yang memiliki garis wajah timur tengah itu menjawabnya sambil memandang Aidan.
...Bersambung...