
...My Nine One-One...
KIKI terlihat kaget saat dentingan spatula itu terjatuh. Namun dia lebih terkejut lagi saat melihat kilasan wajah Amara yang memucat, baru saja Kiki ingin menanyakan--Amara sudah keburu lari kearah belakang.
Dengan paniknya, Amara berlari ke loker karyawan yang masih terletak tak jauh dari Ballroom itu, dia mengambil tas selempangnya dan merogoh ponselnya dengan terburu-buru.
Sebuah nomor kontak langsung dia tekan, dan tak berapa lama nada sambung itu langsung terhubung.
[Iya Beib,] suara cempreng disertai alunan musik jaz dari penyanyi Ibu Kota yang juga tadi Amara lihat--ikut masuk kedalam sambungan telpon.
"Na! Temuin Aku di Lobi utama" kata Amara sambil terengah-engah karena masih berlari.
Wanita itu meninggalkan Kiki dan juga tanggung jawabnya sebagai Pekerja sambilan sore ini. Tak apa menurutnya tak dibayar. Asalkan ia bisa menghindar.
[What?! Lobi mana?] sahutan Sandrina terdengar sama paniknya dengan Amara.
"Aku di Hilton! Cepet Na! Please"
Tak lama kemudian sambungan itu pun terputus.
Amara sudah menunggu Sandrina di Lobi Utama Hilton dengan raut wajah pucat. Sepuluh menit kemudian Sandrina berhasil menemukan Amara yang sedang berjongkok seperti anak hilang. Wanita itu berlari terseok-seok akibat sepatu tingginya.
"Ya Tuhan!" seru Sandrina saat melihat dengan mata kepalanya sendiri, bahwa ini adalah nyata sahabatnya. "Ngapain kamu disini?" tanya Sandrina panik sambil membantu Amara berdiri.
"Aku lihat Emir, Na!" desis Amara dengan suara tertahan.
Sandrina sekarang mengerti situasinya. Name tag yang masih tergantung dileher sahabatnya itu menandakan bahwa Amara bekerja di Hilton--dan dia sedang menjadi bagian dari pelayan yang mengurus acara reuni sekolah mereka.
"Dia lihat kamu?" tanya Sandrina yang masih sama syok nya dengan Amara. Dan Amara pun menggeleng cepat untuk menyahutinya.
"Ya udah, kamu tunggu disini. Aku ambil mobil dulu" pinta Sandrina yang langsung menuju ke arah basement dengan tergesa-gesa.
Dan dari jarak yang tak terlalu jauh ada Edo yang ternyata sudah menguping pembicaraan antara Amara dan Sandrina.
Dua hal yang pria itu takutkan. Yang pertama--dia takut akan dipecat oleh Emir karena telah menyuruh pemilik rumah yang juga wanita pujaan dari Bos nya itu malah jadi Pembantu. Kedua--Edo takut dituding menutupi keberadaan Amara.
Ah! Memikirkannya saja Edo bisa gila. Eh, tapi dia tidak salah, sebab Edo memang tidak tahu jika Amara yang sekarang dia lihat adalah Amara Salim--yang fotonya terpajang di ponsel Bos nya itu.
Dengan segera Edo menelpon Emir untuk memberitahukan prihal berita gembira ini.
Lain halnya di Lobi Utama yang terlihat tegang, di dalam Ballroom dimana acara tengah berlangsung, Emir masih bercengkerama dengan teman-teman semasa mereka bersekolah.
Mereka saling melempar pujian satu sama lain. Apalagi terhadap Emir yang tak pernah mereka sangka telah berhasil membangun Perusahaan yang bergerak dibidang teknologi yang belakangan ini menjadi pesaing besar dari Perusahaan Cina yang juga masuk ke Negara ini.
Saat tengah asik mengobrol, tiba-tiba sebuah panggilan telpon membuatnya teringat--bahwa tadi dia pergi bersama Asistennya.
"Kemana aja Kamu, Do?" kata Emir saat sudah mengangkat telpon itu. Namun beberapa detik kemudian, ketegangan mulai terlihat dari raut wajah tampan Emir. "Apa?!" pekik Emir yang membuat semua rekannya beralih menatap wajah Pria itu.
Dan seketika Emir bergegas pergi dari ruangan itu, bahkan tanpa pamit.
Dada pria itu begitu terasa sesak--sampai membuatnya harus membuka kancing jas yang baru saja dia pakai, bahkan dasi yang melilit dilehernya langsung ia longgarkan, karena membuat ia tercekik.
Padahal tak lama lagi dia harus naik podium untuk sekedar berbasa-basi. Namun peduli setan, acara ini hanyalah akal-akalan saja untuk Emir mencari keberadaan Amara. Jadi hal-hal seperti itu bisa dia urus nanti.
Setelah sampai di tempat yang Edo beritahu lewat telpon tadi, Emir mencoba mencari sosok Amara di Lobi Utama, namun keberadaan wanitanya tak terlihat.
Kemudian Emir meraih kembali ponselnya dan berniat menghubungi Edo. Namun hal itu dia urungkan saat melihat seorang wanita dengan potongan rambut seatas bahu tengah berdiri diluar Pintu Utama.
Emir pun berjalan perlahan kearah wanita yang postur nya sedikit mirip Amara. Sebenarnya Emir tak begitu yakin, mengingat bagaimana style Amara saat remaja dulu. Tapi hatinya mengatakan bahwa itu adalah Amara--wanita yang sudah sepuluh tahun ia tinggalkan tanpa kabar.
"Amara ...." panggil Emir dengan suara bergetar.
...Bersambung...