
...Pelangi Setelah Hujan...
SEBUAH pesan email yang dikirm oleh Ahmad--Ayah Emir, membuat pria yang baru menginjak usia diangka dua puluhan itu lunglai seketika.
Kabar duka itu membuat Emir ingin kembali saja ke Indonesia, dan membatalkan beasiswanya di negara sakura itu. Padahal belum genap setahun menempuh pendidikan di Tokyo-Jepang, tapi sepertinya Emir tak bisa membayangkan kehidupan Amara kedepannya--tanpa ayahnya, terlebih semasa hidupnya Om Andar begitu memanjakan putri semata wayangnya itu.
Emir yang saat itu sedang ada keperluan di wilayah Tohoku, langsung pamit untuk segera ke Stasiun Sendai menuju Tokyo.
Tapi nahasnya dalam perjalanan ke Stasiun, tiba-tiba dari arah samping jalan yang dibatasi dengan besi, ombak setinggi hampir 10 meter menyapu bersih semua kendaraan di jalan aspal itu. Sehingga semua orang yang ada disana tak sempat mempersiapkan diri untuk berlindung--termasuk Emir yang masih berada didalam taksi.
Emir tersadar dari koma-nya setelah satu minggu, dan mendapati bahu serta kaki sebelah kirinya dibebat oleh perban, Dokter mengatakan bahwa dia mengalami cedera parah--patah tulang. Sehingga Emir harus dirawat, bahkan harus menjalani terapi sampai beberapa bulan agar bisa pulih kembali.
Kejadian yang menimpa Emir tak ia beritahu pada kedua orangtuanya di Indonesia--karena tak ingin membuat cemas.
Niatan Emir untuk menemui Amara pun pupus sudah, apalagi dengan kondisinya yang tak berdaya.
Emir hanya bertekad untuk segera lulus dan secepatnya kembali ke Indonesia untuk memenuhi janjinya pada Amara. Itulah hal yang selalu ada dibenaknya.
Dalam kurun waktu kurang dari empat tahun, Emir akhirnya dapat menyelesaikan studinya dan mendapat gelar mahasiswa terbaik di Universitas Tokyo.
Dengan tekad dan semangat baru, dia pun kembali ke Indonesia, namun sangat disayangkan, saat dia sudah sampai di depan rumah Amara, rumah itu malah terlihat kosong.
Pria itu kelimpungan mencari keberadaan Amara, bahkan semua nomor kontak teman semasa sekolahnya dulu, dia hubungi untuk mencari keberadaan wanita itu--termasuk Sandrina dan Melani yang dikenal sebagai sahabat terdekat Amara, dan mereka malah menjawab tak tau--sesuatu yang janggal bagi Emir.
Amara masih mendengarkan cerita Emir. Kini dia dan lelaki itu duduk berdekatan di sofa ruang TV didekat tangga.
"Apa masih sakit?" tanya Amara yang mengarahkan matanya pada kaki Emir yang tertutup celana jeans-nya.
Emir hanya menggeleng, raut senyum terpancar dari wajah tampan Emir saat Amara terlihat mengkhawatirkan-nya.
Tidak seperti sebelumnya yang penuh emosi, kini Amara sudah bisa menguasai dirinya dan menghilangkan egonya. Amara sadar, hidup ini bukan hanya tentang dirinya saja, dan bukan hanya dia yang paling menderita, Amara masih bersyukur memiliki teman-teman seperti Sandrina, Melani, dan juga Emir--yang selalu berada bersamanya.
Amara mengangguk. "Aku juga minta maaf," sahutnya dengan senyum.
Mendengar suara dan intonasi Amara saat mengucapakan kalimat itu, Emir merasa Amara-nya telah kembali--seperti dulu. Saat mereka menjalani kehidupan sebagai remaja yang bahagia tanpa masalah berat yang berarti.
"Kita bisa lebih dekat kan?" tanya Emir.
"Seperti saat sekolah?" tanya balik Amara dengan menaikan kedua alisnya
Emir diam sesaat, mengulum bibirnya lalu berkata, "Lebih dekat dari itu, apa kamu ijinkan?" ungkap Emir yang berdebar-debar menunggu jawaban Amara.
Bukannya menjawab, Amara malah melepaskan genggaman tangan Emir yang sedari tadi merengkuh jemarinya, lalu wanita itu berdiri dan meninggalkan Emir.
"Mau kemana?" Emir ikut berdiri dan berjalan dibelakang Amara.
"Katanya kamu mau gantian masakin buat makan malam?" ujar Amara yang sekilas menoleh ke arah Emir dibalik punggungnya.
"Makan malam kan masih dua jam lagi," Emir melihat jam dipergelangan tangannya yang masih menunjukan pukul lima sore.
"Tapi aku lapernya sekarang," kata Amara yang memang jujur.
Makan siang yang dibuat Amara tadi hanyalah mie goreng, dan itu sudah luruh diperutnya. Wanita itu butuh makanan lebih berat agar otaknya seimbang.
Saat mendengar ucapan Amara yang sedikit merajuk, Emir tak kuasa menahan senyumnya.
"As you wish, milady (sesuai perintahmu, Nona)" celetuk Emir dengan gurauan.
...Bersambung...