
...⚠️...
...Bab ini mengandung konten kekerasan...
..._________________...
SEORANG pria berusia sekitar empat puluh tahunan berjalan mendekati Amara. Pria bertubuh tambun itu mengenakan kemeja berwarna biru langit khas supir angkutan umum.
"Mau pulang kemana, Neng?"
Amara menoleh pada sosok pria dengan aroma tembakau yang menyengat.
"Ke Pulo Gadung, Pak," sahut Amara takut-takut.
Pria itu tidak duduk, dia masih berdiri dan kini ada dihadapan Amara.
"Banyak Bis yang tertahan dijalan, Neng, genangan banjirnya bikin mobil mogok" beritahu pria itu. "Kalo, Neng, mau ... ikut sama mobil yang saya bawa aja. Kebetulan arah Pulo Gadung," ucapnya.
Amara terlihat berpikir sejenak. Dia melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya, ternyata sudah pukul sebelas malam. Belum lagi hujan yang masih turun dengan deras, membuat terminal itu semakin sepi dan hanya ada dirinya seorang selain para penjaja makanan yang ada di dalam bangunan seng didalam terminal.
"Daripada sendiri disini, Neng. Atau lagi nunggu jemputan?" ujar pria itu yang melihat Amara bimbang.
Jika ada yang bisa Amara mintai tolong, pastilah dia sudah dijemput seseorang seperti para penumpang yang lain. Namun sayangnya Amara tak punya siapapun untuk diandalkan selain dirinya sendiri. Dan tentu saja tawaran pria itu adalah pilihan satu-satunya.
"Baik, Pak, saya ikut numpang aja" sahut Amara.
Akhirnya dengan rasa takut dan khawatir, Amara ikut menumpang di Bus jurusan Denpasar-Jakarta yang pria tadi bilang. Amara duduk dijajaran ketiga dikursi penumpang tepat dibelakang kursi supir yang mana pria itu sendiri yang menyetirnya, dan ternyata ada seorang Kernet yang hampir seumuran Amara menemani pria itu.
Dalam perjalanan terlihat banjir masih menggenangi sebagian jalan Ibu Kota. Bagusnya Bus yang Amara naiki termasuk jenis mobil besar, jadi Banjir yang hanya setinggi dengkul orang dewasa masih bisa di terjang.
Tak lama mobil bus itu memasuki terminal yang katanya terminal Pulo Gadung, tapi ini terasa berbeda, apakah karena sudah tengah malam, jadi kondisinya lain?
"Kita stop disini dulu, Neng, nanti jam tiga pagi kita balik lagi ke terminal Lebak Bulus, karena jam segitu belum ada angkutan umum disini, nah, nanti pas balik ke Lebak Bulus, Neng Amara bisa naik mobil ke tempat yang Neng tuju dari sana. Kalo besok pagi, pasti udah normal," jelasnya yang membuat Amara mengerti. "Disini terminal untuk singgah Bis besar antar pulau, jadi nggak ada angkutan umum kecil" beritahunya yang membuat Amara mengangguk.
Padahal tadi Amara sempat lihat ada mobil berwarna biru telur asin lewat, tapi kata Pak Ageng, bisa jadi mereka tak mengangkut penumpang dan hendak pulang.
Kemudian Pak Ageng mendekati Amara. "Saya tutup hordengnya ya, Neng?" ujar Pak Ageng sambil meraih gorden yang ada didekat Amara karena gadis itu duduk menempel dekat jendela. "Tapi jangan berisik. Diluar banyak orang yang mabuk, saya takut mereka lepas kendali" desis Pak Ageng yang membuat Amara seketika ngeri.
Setelah itu Pak Ageng pun keluar dari bus itu. Dan didalam sana hanya ada Amara seorang. Hari ini dia terlihat lelah, sampai tak berasa tertidur di kursi penumpang dengan posisi duduk mendekap tas nya.
"Loe yang jaga pintu, nanti gantian"
Suara bisik-bisik terdengar samar menyadarkan Amara dari tidurnya. Sebuah aroma tembakau dan bau asam bercampur manis memasuki penciuman Amara. Tak lama sebuah tangan yang terasa dingin memegang bagian pinggangnya, dan Amara tersentak saat seorang pria yang seumuran dengannya tadi sudah ada di atasnya.
Sejak kapan Amara tidur berbaring?
Dan Pria itu ... bukankah dia Kernet yang tadi?
Mau apa dia?
Saat Amara membuka matanya, pria didepannya menampakkan cengiran lebar sambil berkata, "Nyicip bentar ya?" ujarnya dengan tingkah mesum.
Seketika Amara berteriak sampai membuat pria itu melayangkan kepalan tangannya ke wajah Amara diiringi makian dengan kata 'anjing', dan seketika Amara tak sadarkan diri.
...Bersambung...