
...Frontal...
ENTAH apa yang membuat Emir berani menangkupkan tangannya untuk menyentuh wajah Amara, bahkan dia dengan mudahnya mengungkapkan perasaan pada wanita itu sekarang--diwaktu yang tidak tepat.
Amara mencoba mencerna ucapan Emir barusan.
Apa yang pria itu katakan?
Membutuhkannya?
Membutuhkan Amara yang seperti ini?
Ironis! Disaat pria itu memiliki segalanya, dia malah mengutarakan kata-kata menyedihkan yang seolah minta perlindungan.
Amara meraih tangan Emir yang masih betah menempeli wajahnya. Dengan tatapan sayu, Amara mulai membuka suara, "Apa kamu mengatakan itu atas dasar rasa hutang budi pada keluarga saya?" Amara berkata itu sambil menurunkan tangan Emir.
Hutang Budi?
Ya. Ucapan Amara benar. Di besarkan di rumah ini dengan menikmati semua fasilitas yang setara dengan Amara adalah hal yang tidak pernah Emir bayangkan. Terlebih sikap Orangtua Amara yang menganggapnya seperti anak sendiri. Dan tentu saja hal itu menjadi sebuah beban berat bagi Emir yang menerimanya.
Tapi untuk kalimat yang diungkapkan Emir barusan adalah murni perasaannya. Keinginanya. Dan tidak berlandaskan 'Hutang Budi'.
"Kamu bahkan nggak tau tentang perasaanmu sendiri, kan?" Tiba-tiba suara Amara menyadarkan Emir dari lamunannya. "Jangan mudah mengucapkan sesuatu." Kali ini Amara berbicara tegas.
"Jika aku memang benar butuh kamu ... apa kamu akan percaya?" ujar Emir yang membuat langkah Amara mendadak terhenti.
Sesaat ruangan itu hening. Amara mencoba mengambil nafas dalam untuk mempersiapkan apa yang akan dia ucapkan.
Perlahan Amara membalikan tubuhnya untuk menghadap ke arah Emir. "Apa kamu lagi sarkas?!" desis Amara.
Emir tersentak saat mendengar kalimat yang dilontarkan wanita itu. Dia bagaikan de javu ke sepuluh tahun yang lalu. Ketika Emir membuat Amara kesal.
"Kamu pikir, kamu siapa?!" pekik Amara menunjuk Emir dengan dagunya. "Datang setelah bertahun-tahun tanpa kabar. Saat Papa meninggal pun kamu nggak datang. Papa ku udah kasih kamu banyak hal yang nggak bisa didapat dari orang biasa, Mir! Jangan lupa!" Emosi Amara benar-benar meluap saat kembali membahas tentang jasa-jasa dari Almarhum Ayahnya. "Dan sekarang dengan sombongnya kamu menebus rumah ini yang bahkan AKU sudah anggap musnah!" Nafas Amara memburu. Dia benci sikap Emir. "Apa aku terlihat menyedihkan?" Senyum sinis terpancar dari raut wajah Amara yang murka. "Sampai dengan sombongnya kamu memberikan rumah ini padaku ... seperti memberi sebuah permen pada anak TK! Apa kamu sedang mencoba menebus hutang? Atau sengaja membuatku berhutang. Begitu?" Tatapan Amara menyalang ke arah Emir.
Emir cukup terkesiap mendengar penuturan Amara yang didalamnya penuh kebencian pada dirinya. Ini adalah sikap paling jujur yang Emir lihat dari Amara.
Dan entah mengapa Emir sedikit lega saat Amara bersikap seperti ini. Sikap yang seharusnya dilakukan wanita itu saat pertama kali mereka bertemu. Bukan sikap yang seolah tak ada apa-apa diantara mereka setelah sepuluh tahun lamanya.
"Aku nggak pernah bermaksud merendahkan kamu, Amara. Masalah rumah ini ... aku melakukannya karena terlalu banyak kenangan indah didalamnya, dan aku nggak rela jika dilepas begitu saja. Di rumah ini aku mengenal keluarga kecil yang sangat hangat, yang menerima keluargaku dengan segala kerendahan hati, serta memberikan kebaikan yang bahkan sampai aku mati pun, aku nggak akan bisa membalasnya," ungkap Emir melembutkan suaranya, berharap Amara dapat mencerna kalimatnya.
Emir melangkah mendekati Amara yang berdiri diujung pintu dapur, mencoba memangkas jarak diantara mereka, agar ucapan berikutnya yang akan Emir katakan dapat didengar dengan baik.
"Setelah aku dapat kabar bahwa Om Andar meninggal ... aku langsung ke Bandara, tapi dalam perjalanan kesana, tiba-tiba tsunami menghancurkan sebagian besar wilayah Tokyo. Dan setelah itu aku nggak ingat apapun."
...Bersambung...