
"Eh, Mir ...,"
Emir yang sedang fokus membantu tugas sekolah gadis itu, hanya menjawab dengan berdeham dan tanpa menoleh ke arahnya.
Saat melihat sikap Emir yang tak memandangnya, tiba-tiba gadis itu mencubit lengan Emir sampai bocah lelaki itu mengaduh sakit.
"Ya ampun, Ra. Sakit tau!" keluh Emir sambil mengusap lengannya yang terasa perih.
"Abisnya, dipanggil malah, ham hem ham hem aja!"
"Aku cuma lagi fokus kerjakan tugas kamu, biar gak salah jawab soal, Ra" tukas Emir.
Seakan belum cukup waktunya seharian ini menemani Amara, bocah lelaki itu pun mendapatkan tugas tambahan untuk mengerjakan PR gadis itu. Tentu saja hal ini adalah rahasia mereka. Jika Papa amara tau, bisa dimarahi mereka.
"Bentar lagi 'kan kita lulus, nanti lanjut ke Garuda yuk?!" kata Amara.
Emir tahu bahwa sekolah yang disebutkan Amara barusan bukanlah sekolah biasa. Bagi Emir yang kamampuan finansial orangtuanya di bawah rata-rata, tentu saja akan terseok-seok.
Berbicara mengenai SMP Garuda, Sekolah itu adalah salah satu sekolah terbaik di Jakarta. Fasilitas yang diberikan untuk sekolah itu tidak main-main. Selain dikenal sebagai sekolah kaum borjuis, sekolah itupun memiliki standar nilai untuk setiap muridnya. Namun, kabarnya nilai itu hanya fotmalitas saja, jika uang sudah berbicara, apapun bisa. Oleh karenanya Emir merasa pesimis untuk bisa diterima disana.
Sejenak Emir berpikir, dia menimbang-nimbang berapa biaya masuk serta biaya perbulan untuk menjadi siswa disana. Dari segi kecerdasan, Emir tak diragukan lagi, anak itu selalu mendapat posisi teratas dengan nilai tertinggi di setiap tahunnya. Namun dari segi ekonomi apakah orangtuanya mampu? Secara diusia Emir yang masih belum genap tiga belas tahun, dia masih ditanggung orangtuanya.
"Aku coba tanya Ayah sama Bunda dulu, Ra." kata Emir. Dia butuh masukan dari orangtuanya mengenai hal ini.
Mendengar perkataan Amara barusan tentu menyayat hati Emir yang tak berpunya, tapi anak itu tak memperlihatkannya didepan Amara. Dia hanya memberikan senyumnya sekilas. Dia tak mau terlibat drama dengan gadis disebelahnya itu.
Sebenarnya Emir adalah anak yang tau diri, disekolahkan oleh Orangtua Amara ditempat yang sama membuat Emir harus memiliki prestasi membanggakan. Namun, Emir sadar, tujuan orangtua Amara melakukan itu tentu saja untuk menjaga anak perempuan satu-satunya yang mereka sayangi.
...▪︎▪︎▪︎...
Setelah magrib, Emir menemani Ibunya di dapur. Anak itu sedang membantu sang ibu menyiapkan makan malam.
Saat Emir sedang mengupas beberapa biji bawang bombay, tak terasa matanya mulai perih, dan tak lama kemudian cairan bening dari kedua matanya menetes.
"Mir ...," panggil Fatma sambil menoleh ke arah putranya. "Kamu nangis?" tanyanya yang tak tahu kepedihan apa yang sebenarnya terjadi pada anaknya.
Disaat Fatma berkata seperti itu, tiba-tiba Amara yang memperhatikan sedari tadi masuk ke dapur menghampiri Emir sambil berjalan cepat.
"Jangan sedih! Aku udah bilang Papa, pokoknya nggak usah khawatir. Kita bakal sekolah disana!" bisik Amara yang berdiri tepat disebelah Emir.
Emir yang mendengar Amara salah paham karena dikira bersedih, hanya mencibir dalam hati.
"Siapa yang nangis! Ini perih tau gara-gara motong bawang!" gerutu Emir dalam hati.
...Bersambung...