Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
20| Mengabaikan



...Mengabaikan...


SETELAH perbincangannya dengan Papa Amara, Emir melihat ada kekhawatiran yang begitu besar pada raut wajah pria itu.


Kecemasan yang berlebih karena Amara dianggap tidak bisa lepas dari diri Emir.


Emir sadar statusnya, walaupun sang Ayah adalah kawan lama dari Papa Amara, namun siapa yang akan rela mempercayakan putri berharganya pada orang seperti Emir. Begitulah pikir anak itu.


Benar. Suatu saat Amara akan mendapatkan pendamping yang hebat dan sepadan dengannya. Yang tidak akan membuat Om Andar dan Tante Liana khawatir akan masa depan Amara. Aku masih jauh dari kategori itu. Batin Emir bergejolak.


Sejak kemarin sehabis pulang sekolah, Emir tak melihat Amara. Bahkan saat makan malam kemarin, sampai sarapan di minggu pagi ini dia masih tak melihat batang hidung gadis itu.


"Bun, Amara kemana?" tanya Emir pada Ibunya yang sedang merebus rempah-rempah herbal.


"Ada di kamarnya" sahut singkat sang Ibu yang masih menatap panci rebusan didepannya.


"Dia sakit?" tanya Emir dengan penasaran.


Fatma sempat mengerutkan keningnya, tumben saja, bahwa putranya begitu cerewet hari ini. Fatma menoleh ke arah Emir yang ada disampingnya. "Nggak kok" ungkapnya.


"Tadi saat sarapan, kenapa Amara nggak ada?" tanya Emir begitu menyelidik. Dan lagi-lagi hal itu membuat Sang Ibu menghela nafas kasar.


"Amara sudah makan, Mir! Baru saja. Terus naik lagi ke Kamar" jelas Fatma.


Sesibuk apa dia?!. Batin Emir.


Kemudian Emir berjalan kearah taman depan di area rumah itu. Seperti biasanya, jika hari libur anak itu selalu menyempatkan diri membantu Mang Juned untuk menata Taman.


Saat sudah berada di halaman depan, hamparan rumput hijau yang cantik begitu asri dipandang mata, belum lagi bunga-bunga dengan warnanya yang juga cantik.


Tumben. Kalem gitu. Batin Emir saat melihat Amara.


Saat pandangan mereka bertemu, keduanya terdiam, tak ada yang menyapa melalui suara ataupun mimik wajah. Mereka terlihat seperti menunggu satu sama lain.


Dan dari tempat Amara berada, gadis itu baru tersadar jika Emir sedang memandangnya, spontan dia jatuhkan kincir angin ditangannya ke lantai, lalu gadis itu berbalik badan dan berjalan menuju kamarnya. Lalu menutup pintunya.


Keesokan paginya. Hari senin kembali menyapa. Emir sudah siap didekat motor ninjanya dengan memeluk Helm kuning bergambar tweety--milik Amara.


Tak lama berselang, Amara datang dengan seragam putih-putih.


Emir menjulurkan tangannya ingin memberikan helm kuning milik gadis itu, namun Amara mengabaikan Emir dan terus berjalan melewati pria itu.


Amara tak menggubris keberadaan Emir yang sudah menunggunya sedari tadi. Gadis itu keluar gerbang rumahnya, dan disana ternyata sudah ada mobil yang menunggunya.


Saat melihat Amara menaiki mobil yang tak asing itu, Emir bergegas menaiki motornya dan mengikuti mobil yang dinaiki Amara.


"Emir ngikutin kita, Ra" ucap Sandrina, saat melihat pantulan Emir yang menaiki ninjanya, melalui cermin depan.


Usia Sandrina hanya beda beberapa bulan lebih dulu dari Amara, setelah ulang tahunnya yang ke-17, gadis itu meminta hadiah dibuatkan KTP dan SIM secepatnya, dan tentu saja mobil BMW keluaran terbaru dengan warna merah mencolok.


"Dia juga mau ke sekolah, Na" sahut Amara yang juga menatap Emir yang sedang mengendarai motornya tepat dibelakang mereka.


"Dia bisa duluan, kan? ngapain ngekorin kita sih" keluh Sandrina. "Heran! Nggak saat jalan, nggak juga saat berkendara, itu anak ngekorin kamu mulu, tau!" ucapnya kembali geram.


...Bersambung...