Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
72| Lidah Tak Bertulang



"Apa Emir tau kalau kau sudah memiliki anak?"


Tatapan mencemooh dihujamkan ke arah Amara yang terpaku.


Mendengar ucapan Helma barusan, seperti membuka kembali ingatan buruk Amara. Trauma yang bertahun-tahun sudah ia tangani dengan susah payah seolah kembali bersarang.


Apa perempuan yang bernama Helma itu tak punya pekerjaan? Sampai-sampai harus mengungkapkan sesuatu yang sudah tertutup rapat. Apa tujuan dari perempuan itu sebenarnya?


Saat melihat Amara yang hanya diam saja tanpa ekspresi, sebenernya Helma was-was. Apa jangan-jangan informasi yang dia dapat ternyata tidak valid. Namun bukan Helma namanya jika tidak terus menekan sampai bawah.


"Kenapa? Terkejut aku bisa tau?" senyum remeh kembali terlempar dari raut cantik Helma.


Amara masih mencoba mempertahankan dirinya agar tak terpancing dengan semua yang dikatakan perempuan itu.


"Katakan. Apa tujuanmu?" tukas Amara dengan raut wajah datar. Amara bahkan tidak mengiyakan atau menyangkal semua tuduhan Helma.


Seketika Helma tersenyum puas. Perempuan ini sangat tidak suka berbasa-basi, apalagi berbicara panjang lebar dengan perempuan manja didepannya.


"Seharusnya kau tau diri. Dulu kau bergantung pada Emir karena kau butuh orang untuk dijadikan alas kaki! Dan sekarang setelah hidupmu seperti ini kau berusaha kembali mendekati Emir demi kehidupan layak yang sudah lama tak kau rasakan, dan yang lebih parahnya lagi ... kau telah memiliki anak yang pasti ingin kau gantungkan juga pada Emir, kan?" tuduh Helma dengan sinis. "Kau memang parasit!" desisnya lagi dengan cara bicara yang merendahkan.


"Kau cemburu?" timpal Amara dengan ringan.


Kedua bola mata Helma bergetar, perempuan itu semakin terlihat murka, dan seperti gunung yang hendak meletus, Helma pun siap melontarkan kalimat berikutnya agar perempuan yang dia anggap manja itu tau diri.


"Asal kau tau saja. Aku dan Emir bersusah payah membangun Perusahaan yang selama ini Emir impikan. Dan kami berhasil," ucapnya penuh bangga. "Dan kau!" tunjuk Helma dengan jari telunjuknya yang lentik. "Kau hanyalah parasit yang hanya bisa merusak segalanya. Kau harus sadar diri!" desis Helma dengan senyum hina. "Kau bukan siapa-siapa lagi bagi Emir!"


Semua yang diucapkan Helma barusan memang benar, Amara tak memiliki kontribusi apapun atas keberhasilan Emir, namun tak pernah sedikitpun terbesit dalam benak Amara untuk mendekati Emir, apalagi semata-mata karena Amara ingin hidup layak. Tidak. Helma salah besar.


Melihat Amara yang tak merespon, Helma semakin geram. "Kau ingat? Dulu aku pernah bilang, bahwa detajat seseorang itu dinilai karena ilmunya. Bukan hartanya. Dan kini terbukti kan? Bahwa aku bisa membuat Emir jauh di atasmu. Dan semua pencapaian ini berkat kerja keras Emir. Bukan sepertimu yang hanya bisa berlindung dibalik ketiak kedua orang tuamu. Setelah orangtuamu tiada, lihatlah dirimu ..." ujar Helma dengan menatap Amara dari atas hingga kaki. "Kau tak ada nilainya" cemooh Helma.


Amara ingat, dulu Helma pernah mengatakan hal itu sesaat Amara merendahkan Emir. Namun niat Amara saat itu hanya ingin membalas perbuatan Emir yang ingkar janji, dia sebenarnya tak bersungguh-sungguh. Bahkan sampai sekarang pun Amara sangat menyesal sudah bersikap seperti itu. Tapi nasi sudah terlanjur menjadi bubur. Amara memang terlalu kekanak-kanakan--dulu.


Amara benar-benar tak memberi respon terhadap semua ucapan Helma. Dia terlalu lelah dengan hidupnya. Jika dia membalas semua ucapan Helma, maka hanya akan membuang energi saja. Lagipula semua tuduhan perempuan itu tak benar, jadi Amara tak mau ambil pusing. Bahkan selama bertahun-tahun Amara berjuang untuk bertahan hidup, menjalani dan menerima nasib yang menimpanya selama ini, dan perempuan dihadapannya tak tau apapun tentang itu, dan tak perlu tau. Karena bagi Amara, Helma bukanlah orang sepenting itu untuk diladeni.


...Bersambung...