Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
Menular



TERDENGAR sayup hentakan langkah yang sedang menuruni anak tangga, Emir melirik tepat dimana pijakkan kaki itu muncul.


Sepasang sandal rumahan dengan bulu halus yang lebih mirip disebut itik ayam, berjalan ke arah dapur.


Amara, gadis itu baru saja menampakkan dirinya sambil membawa nampan dengan piring dan gelas yang telah kosong.


"Sebentar ya Bun, Emir mau nyusul Amara," Fatma hanya mengangguk saja saat putranya berjalan cepat ke arah dapur.


Saat Emir memasuki ruang dapur, terlihat Amara sedang mencuci bekas piring makannya sendiri. Perlahan Emir mendekat dan berdiri disebelah gadis itu.


"Tumben nyuci piring sendiri," Amara hanya berdecak saat mendengar ledekan yang dilontarkan Emir padanya.


Melihat Amara tak menggubrisnya, lantas Emir mengeluarkan sebuah coklat untuk diberikan pada gadis itu. "Jangan manyun, bibirnya jadi kaya bebek tuh!" goda Emir sambil menunjuk coklat itu kehadapan Amara.


Tadinya gadis itu mau marah. Tapi saat melihat coklat didepan matanya, seketika raut muramnya berganti senyum.


Amara tak langsung meraihnya, gadis itu masih melihat ke arah coklat yang dipegang Emir. "Nyolong dari mana nih?" Amara menunjuk coklat yang dipegang Emir dengan dagunya.


"Sembarangan! Aku beli dari uang jajanku selama tiga hari," Amara hanya mencebik saat Emir berkata jujur. "Harus dihabiskan. Rasa manis pada coklat bisa bikin perasaan membaik," Setelah mengatakan itu Emir berlalu meninggalkan Amara.


...----------------...


Keesokan harinya, secara ajaib Amara kembali le mode normal.


Bahkan saat sarapan, Amara kembali menggoda Emir dengan meledek kelakuan aneh anak lelaki itu saat pagi tadi Amara memergoki dan masuk ke kamar Emir secara tiba-tiba.


Sikap menyebalkan Amara ini berawal saat Amara masuk ke kamar Emir tanpa mengetuk pintu. Pagi tadi sebenarnya dia ingin menanyakan tugas sekolah yang belum dikerjakannya. Semua itu terlewat karena mengalami patah hati. Sungguh tak berguna pikir Amara.


Ketika dia membuka pintu, betapa terkejut nya gadis itu melihat Emir tanpa mengenakan baju fan sedang berlagak ala binaragawan didepan cermin. Yang membuat Amara tak tahan menahan tawa, karena tubuh Emir yang lebih mirip orang kurang makan.


Emir hanya membuang nafas saat masih melihat Amara mentertawainya. Sungguh ternoda harga diri Emir. Besok dia akan mengingat untuk selalu mengunci pintu kamarnya. Agar kejadian pagi tadi tak terulang. Emir benar-benar malu.


Sepanjang jalan menuju sekolah Amara tak henti menggoda Emir. Bahkan gadis itu juga menceritakan kejadian tadi pada Sandrina dan Melani yang merupakan teman satu geng dari gadis itu.


"Sudah, Ra. Jadi nyebelin tau!" keluh Emir yang mulai jengah. "Seperti tak ada hal menarik saja, terus bahas itu," Wajah Emir kali ini benar-benar terlihat kesal.


Seketika Amara berhenti tertawa. Dan mengikuti arah pandang Emir yang menatap sekumpulan anak lelaki yang tengah bermain futsal ditengah lapangan sekolah.


"Kamu nggak ada niat ikut eskul itu?" tanya Amara yang masih menatap segeromblan anak lelaki yang begitu semangat menendang bola.


"Aku tidak pandai dibidang itu," Setelah lama terdiam akhirnya Emir berkata jujur. "Kamu ingatkan saat kita masih SD, lomba sepak bola disekolah jadi kalah karena aku salah oper bola," Emir tersenyum masam saat mengingat kejadian memalukan itu.


Dan seketika. Amara tertawa terbahak-bahak sampai terpingkal-pingkal melebihi tawa pagi tadi.


Melihat Amara yang sampai mengeluarkan airmata saat tertawa, Emir jadi ikut tertawa karenanya.


...Bersambung...