Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
110| Bingkai Kenangan



MENGINGAT kembali tentang Andar -- Papa Amara, beliau selalu memberikan hadiah untuk Amara maupun Emir saat keduanya mendapatkan nilai bagus.


Andar tak pernah membeda-bedakan status Emir walau kenyataanya bocah itu adalah anak dari sahabatnya yang juga bekerja di rumahnya.


Sebuah perjanjian kecil dari Andar untuk Amara dan juga Emir adalah bebas meminta apapun. Dan tustel atau istilah sekarang adalah kamera foto -- adalah hal yang Emir minta untuk hadiah pertamanya saat dia lulus dari Sekolah Dasar dengan mendapatkan nilai terbaik dari seluruh siswa.


Alasan Emir meminta hadiah tustel sebenarnya diawali dari niatnya untuk mengancam balik Amara yang suka mengancam Emir jika tidak mengerjakan tugas sekolahnya.


Berhubung Amara paling benci jika diambil foto secara diam-diam, karena bisa saja gadis itu sedang tak cantik, maka Emir menggunakan celah itu untuk mengambil asal foto Amara untuk nanti dia sebarkan jika gadis itu masih terus tak mau belajar.


Huh! Emir merasa berdosa pada Andar, karena nilai bagus yang didapat Amara, sebagian besar berkat otak encernya. Emir tidak hanya sebagai guru les kedua -- karena mereka juga mengikuti les tambahan di luar jam sekolah. Tapi bocah lelaki itu juga berperan sebagai pengganti melakukan tugas sekolah Amara.


Tanpa Emir sadari sebenarnya, lama-kelamaan kegiatannya yang selalu mengambil momen untuk mengabadikan pose gadis itu -- seperti candu saja. Kalau tidak dilakukan, seperti ada yang kurang.


PLAKK!!


Sebuah pukulan kencang didapat Emir tepat di pergelangan tangan pria itu. Emir mengaduh karena perih. Kuat sekali pukulan Amara, pikir Emir.


"Ya ampun, Mir! Bisa-bisanya ya kamu," gerutu Amara kesal. "Jahat banget," gumam Amara yang masih melihat foto-foto itu.


Mendengar cerita singkat Emir prihal tercetaknya foto-foto anehnya itu, membuat Amara kesal sekaligus senang sebenarnya.


Amara tak menyangka bahwa dulu dia bisa berekspresi aneh seperti didalam foto. Dan tanpa sadar sebuah senyuman pun muncul kala dia melihat hasil jepretan Emir yang memperlihatkan banyak ekspresi.


Se-nyeleneh itu kah dirinya dulu?


Perilaku Amara yang sedang bernostalgia melalui foto-foto dari hasil jepretannya -- tak luput dari perhatian Emir.


"Tapi nggak ada satu foto pun yang aku sebarkan, tenang saja," tukas Emir.


PLAKK!


Dan satu pukulan kembali dilayangkan Amara di tempat yang sama.


"Uh! perih, Ra. Kamu mainnya KDRT, nih," keluh Emir yang mengaduh sakit sambil mengelus tangannya yang sudah dua kali kena pukulan.


"Awas aja kalau sampe disebar-sebar! Aku beneran akan pukul kamu sekuat tenaga," ancam Amara.


Oh ya ampun! Jadi pukulan-pukulan tadi termasuk kategori halus. Padahal Emir hanya pura-pura sakit saja agar bisa merajuk setelah dipukul. Tapi ternyata perempuan didepannya malah akan mengancam kembali memukulnya dengan kekuatan penuh.


"Dari pada sebar-sebar foto kamu, mending aku sebar-sebar undangan pernikahan kita, Ra," celetuk Emir.


"Sepertinya harus diundur," kata Emir saat melihat Amara yang serius menatapnya. "Smarth watch yang dipakai Aidan mendapat respon bagus. Jadi akan mulai dilakukan produksi. Dan rilis resminya bulan depan. Itu bertabrakan dengan rencanaku yang sudah menjadwalkan dengan pihak Wedding kita," jelas Emir yang terlihat kecewa.


"Nggak apa-apa, Mir. Lagian terlalu cepat juga kalau bulan depan menikahnya," terang Amara.


Cepat bagi Amara, tapi tidak bagi Emir. Pria itu sudah menanti cukup lama agar bisa menikahi Amara. Emir benar-benar ngebet kawin.


Emir terlihat menghela napas dengan kasar. Raut wajahnya menunjukkan rasa kecewa. Karena hanya dia yang ngebet, sedangkan Amara masih terlihat santai dengan mencoba memahami situasinya.


PLAKK!


Dan satu pukulan tambahan di tempat yang sama dari Amara.


"Aduh! Kok malah dipukul?" protes Emir.


Padahal tadi dia bilang tak akan menyebarluaskan foto-foto Amara dengan pose anehnya kan?


Nah, ini pukulan untuk apa?


"Ekspresi muka kamu, Mir. Kaya anak gadis yang ngebet kawin tapi lagi datang bulan," celetuk Amara. Lalu gadis itu mulai mengeluarkan baju Emir untuk disusun dilemari -- bekas miliknya dulu.


'Bukan gadis, Amara .... Tapi Bujang' gerutu Emir dalam hati.


Emir hanya meringis. Bagaimana bisa perempuan itu tau apa yang sedang dipikirkannya saat ini.


Dan satu hal yang baru Emir ketahui.


Ternyata seorang gadis yang gagal kawin karena sedang datang bulan -- maka raut wajahnya akan terlihat seperti Emir. Memble.


Meyadari ucapan Amara yang terdengar mengatainya, Emir jadi gemas. Pria itu langsung menghampiri Amara dan langsung memeluk gemas tubuh Amara dari balik punggung.


"Aduh!!"


Seketika Emir memekik kesakitan. Perempuan itu baru saja mencubit lengan Emir dengan keras.


"Aku lagi nyusun baju kamu. Susah gerak kalau begini," gerutu Amara sambil mencoba melepaskan tubuhnya dari rengkuhan Emir.


...Bersambung...