Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
89| Kaset Kusut



SIANG ini Emir sedang menunggu kedatangan teman lamanya. Bukan untuk Reuni apalagi berkangen ria. Tapi Emir yakin akan mendapat semburan kata-kata kasar yang memang selalu ditujukan padanya.


Pagi tadi, Edo mendapat telpon dari Asisten Sandrina. Dia mengatakan bahwa Desainer tersohor itu ingin bertemu dengan Emir prihal urusan pribadi.


Awalnya Emir tak ingin menggubrisnya. Namun, berpikir bahwa wanita itu adalah salah seorang teman terdekat yang menyayangi dan melindungi Amara, maka kali ini Emir akan menerima undangannya itu.


Disinilah Emir sekarang. Di sebuah Restoran privat yang sudah dipesan terlebih dulu oleh Sandrina.


Seorang diri didalam ruangan yang lumayan besar dengan jendela kaca besar yang menampilkan kolam ikan, Emir duduk sambil menyeruput robusta kental untuk menghilangkan kantuknya.


"Maaf aku telat," suara yang terdengar seperti gumaman itu membuat Emir menoleh.


'Bisa juga dia minta maaf ' pikir Emir yang memang tak pernah mendengar teman lamanya itu mengucapkan kata 'maaf' sejak mereka kenal di bangku SMP.


Dengan setelan celana kulot dan kemeja broken white yang senada, Sandrina berjalan dengan wedges setinggi 10cm. Wanita itu langsung duduk tepat didepan Emir.


"Kau ingin menikahi, Amara?!" Sandrina melepas kaca mata Chanel miliknya sambil berkata ketus.


To The Point sekali dia.


Emir tak terkejut. Pria itu sudah menebak bahwa wanita dihadapannya ini akan tau perihal kabar lamarannya cepat atau lambat. Dan dia juga tak kaget dengan reaksi ketus yang Sandrina tunjukkan padanya--sudah biasa.


"Dengar, Emir. Aku menyempatkan waktuku yang sangat berharga untuk memastikan apa yang aku dengar hanyalah intermezo semata. Jadi katakan kebenaranya!" tukas Sandrina yang melihat raut wajah Emir begitu tenang dengan selalu tersenyum. Sandrina sangat benci melihatnya.


"Apa yang membuatmu ingin melakukan itu? Apa karena kasihan? Atau rasa bersalah?" Tatap Sandrina dengan wajah datar.


Emir terdiam. Dia bukannya tak bisa menjawab. Tapi Emir seperti berhadapan dengan calon mertua galak. Tiba-tiba Emir tersenyum geli saat pikiran itu melintas.


"Hei! Jawab. Kenapa malah tertawa!" ketus Sandrina. "Dasar tak waras," gumam wanita itu kemudian.


"Kau lebih mirip Orangtua yang takut anaknya dipinang oleh lelaki bejat. Seperti Mertua-mertua yang ada di opera sabun," canda Emir yang membuat Sandrina membelalak.


"Anggaplah aku sesukamu. Dan jawab dengan benar apa niatmu sebenarnya?" Sandrina mencoba tak terpancing. Benar yang dikatakan Emir. Dirinya memang begitu protektif terhadap Amara--melebihi Ibu Kandug.


"Aku rasa, aku tak perlu mengatakannya padamu. Karena Amara dan Aidan--anak kami. Sangat tahu apa tujuanku sebenarnya."


Perkataan Emir yang membawa serta nama 'Aidan' didalamnya, membuat Sandrina terdiam. Benar. Kemarin saat dia menemui Amara di Sydney, dia mendengar Aidan menceritakan tentang sosok Emir yang membuat kedua mata anak itu berbinar-binar. Dan tak ada alasan lagi untuk meragukan niat Emir, sebenarnya.


"Jangan sampai kau mengacaukan semuanya. Seperti kejadian saat kau dengan mudahnya bilang--akan membantu Amara mempersiapkan pesta ulangtahunnya. Kemudian kau tak datang dan malah pergi bersama perempuan ular itu untuk beasiswa menyedihkan yang kau dapat--sampai membuat luka trauma pada sahabatku. Aku akan menghancurkanmu jika hal itu kembali terjadi! Aku tak main-main, Emir!" tandas Sandrina penuh penekanan pada setiap kalimat yang dia ucapkan.


(Sandrina sedang mengungkit kejadian di Bab 23)


Emir tergugu. Dia membeku. Seolah kembali diingatkan bahwa dialah orang yang patut disalahkan atas semua kemalangan yang Amara dapatkan selama hidupnya.


...Bersambung...