
...Padahal Di Pelupuk Mata...
EMIR masih berdiri dengan menatap wajah Sandrina yang kini sedang menatap ke arahnya juga--dengan nanar.
"Aku tidak merasa perlu menjelaskan semua padamu. Aku akan menjelaskannya sendiri pada Amara. Jadi--"
"Kau pikir ... sepenting itukah dirimu dimata Amara! Kau terlalu yakin, Mir!" sela Sandrina dengan senyum mengejek. "Bahkan kau tak tau apa yang terjadi padanya, pada kehidupannya, pada mentalnya. Kau tak tau Mir! Dan sekarang dengan percaya dirinya kau mencari Amara seperti seseorang yang ditunggui kedatangannya?! Kehadiranmu tak diinginkan oleh Amara! Kau hanyalah pembawa kesialan bagi Amara! Dan sekarang kau tega kembali datang bersama Ratu Ular itu?!"
Tuduhan Sandrina bukan tanpa alasan. Wanita itu memang benci setengah mati pada Emir. Apalagi pada julukan Izekai Bride yang disematkan di majalah bisnis yang pernah Sandrina baca. Itu sangat melukai sahabatnya--Amara.
Emir paham kemana arah tujuan dari ucapan Sandrina, juga sebutan 'Ratu Ular' yang dia yakini ditujukan pada Helma. Ya. Emir tak bisa berbuat apapun.
"Baiklah. Aku akan mencari tau tanpa membuatmu repot. Terimakasih" ucap Emir tulus, dan dia segera berlalu.
Edo yang sedari tadi menyaksikan interaksi itu, hanya diam saja, Kemudian mengekori Emir setelah dirinya berpamitan pada Sandrina yang hanya buang muka.
Tak lama ponsel seharga belasan juta milik Sandrina berbunyi, dan dia langsung mengangkatnya.
"Melani! Kemana aja sih baru telpon!" pekiknya pada sambungan telpon itu.
Dalam percakapannya dengan Melani--teman yang juga menjadi sahabat dari Amara saat mereka SMP, Sandrina menjelaskan apa yang terjadi, wanita itu mengatakan semua tanpa dilebih-lebihkan, kecuali tentang Emir yang sengaja dia buat seperti Psikopat, tentunya Melani tak percaya begitu saja, berhubung Melani pun mengenal Emir dengan baik.
[Baiklah. Minggu depan aku akan ke Indonesia] sahut Melani setelah mendengar perkataan Sandrina.
"Hei ... Minggu depan aku ada perhelatan di Paris," ujar Sandrina dengan nada tak terima.
"Apa kau ... akan membawa anak itu ke Indonesia?" Pertanyaan Sandrina membuat Melani terdiam beberapa saat, kemudian terdengar embusan nafas berat dari seberang telpon.
[Aku belum tau. Aku akan lihat situasinya dulu] sahut Melani. Dan setelah itu mereka pun mengakhiri pembicaraan yang masih menjadi ketakutan baginya dan juga Sandrina--terlebih Amara.
Setelah pembicaraan yang tak berujung di Kediaman Sandrina, Emir memilih kembali ke Apartemen diantar oleh Edo.
Emir langsung duduk bersandar di sofa ruangan depan pada Apartemennya.
Edo segera mengambilkan air mineral dari dalam kulkas dan segera memberikannya pada Emir. "Anda tak perlu khawatir tentang Amara, Pak," kata Edo mencoba mencairkan suasana.
Emir langsung terkesiap duduk tegak, saat mendengar nama Amara yang tanpa embel-embel diucap dari mulut asistennya.
"Apa kau bilang? Amara? Hei, jaga bahasamu. Seperti kau mengenalnya saja!" tutur Emir yang kentara sekali tak suka.
"Ehm!" Edo berdeham guna menetralkan tenggorokannya dari rasa kesat. "S-saya memang mengenalnya," ungkap Edo yang membuat Emir membelalakan mata tak percaya.
"Apa?" Emir memajukan duduknya dan mendekat ke arah Edo. Tatapan Emir bahkan setajam mata Elang.
Tak lama Edo meraih ponselnya, dia membuka lembaran file yang terletak di ruang kerja pada penyimpanan ponselnya--lalu menunjukkannya pada Emir.
"Ini Mbak Amara kan, Pak?" tunjuk Edo yang membuat Emir tak berkedip.
...Bersambung...