
MENDENGAR kata Jepang, seketika membuat Amara kesal. Padahal sampai hari kemarin dia biasa saja. Apa karena Emir yang kembali mengatakannya? Dan kembali ingin pergi kesana? Entahlah, yang pasti Amara merasa seperti pertama kali mendengar Emir mengutarakan ingin melanjutkan sekolah ke Negara itu--sepuluh tahun lalu.
[Aku pulang lusa. Nanti dari Bandara aku langsung ke rumah kamu... See you.]
Sebuah notifikasi pesan yang dikirim Emir tadi pagi membuat Amara menghela nafas.
Semalam sebelum Emir pamit pulang ke Apartemennya, pria itu berkali-kali memohon agar Amara tetap tinggal di rumah itu dengan dalih pembayaran gaji yang belum selesai, dan Amara hanya pasrah saja untuk menuruti perkataan Emir. Demi haknya.
Amara juga berpikir realistis, akan sangat disayangkan jika dia berhenti begitu saja hanya karena urusan pribadi dari masalalu yang Amara anggap sudah selesai.
Amara hanya ingin hidup tenang dan menjalani rutinitas seperti biasanya persis seperti sebelum kedatangan Emir. Memikirkan sikap kekanak-kanakannya di masa lalu hanya membuat Amara terperangkap dalam kesedihan dan kekecewaan.
Sekarang Amara hanya akan menatap kedepan, berjuang untuk hidup yang lebih baik dari hasil keringatnya sendiri. Dan seperti prinsipnya, selama dia masih mampu menopang hidupnya, dia tak akan pernah berpangku tangan pada siapapun, termasuk Emir yang sudah berjanji akan selalu ada untuk Amara.
Sebuah layanan interkom membuat Amara mengalihkan fokusnya dari menyiram tanaman di halaman belakang ke arah pesawat telpon yang tertempel di tembok yang tak jauh dari tempat dia berada.
"Iya, Pak Mahdi?" sahut Amara setelah mengangkat telpon itu.
[Non, ada tamu yang mencari. Katanya teman sekolah Non Amara] kata Pak Mahdi--Satpam yang ditugaskan menjaga rumah itu. Pria berusia lima puluh tahunan itu baru mengetahui tentang Amara yang sebenarnya adalah pemilik rumah itu sekaligus teman kecil yang Tuan nya cari selama ini. Emir sendiri yang memberitahunya.
Amara berpikir sejenak. Menebak siapa teman yang dimaksud pria paruh baya itu.
Mungkinkah Sandrina?
Tapi tak ada satupun dari kedua sahabatnya--Sandrina ataupun Melani yang tau tentang keberadaannya di rumah ini.
"Siapa, Pak?"
[Katanya, namanya, Helma, Non]
Bagaimana bisa perempuan itu tau bahwa Amara tinggal dirumah ini. Apakah Emir yang memberitahunya?
Tapi untuk apa?
Baiklah, kali ini Amara akan menghadapi perempuan itu. Padahal Amara sudah bertekad untuk melupakan segala hal di masa lalu. Termasuk melupakan Helma yang pernah menjadi teman satu sekolah saat mereka SMA dulu.
"Suruh masuk saja, Pak"
Setelah menutup panggilan itu, Amara segera bergegas ke pintu utama. Dia yakin Helma sudah berdiri menunggunya.
Jantung Amara berdebar, debaran yang menginterupsi bahwa perempuan yang akan dia temui adalah jenis manusia berlidah tajam. Amara sudah siap jika perempuan itu kembali mengatakan hal-hal yang menyakiti hatinya--seperti dulu saat di bangku SMA. Dia akan bersikap masa bodo untuk sekarang.
Saat gagang pintu terbuka, tampaklah sosok wanita elegan dengan tampilan memukau, dari dulu Helma memang sudah cantik dan fashionable. Dan kini ditambah dengan aura intimidasi yang menggambarkan sosok perempuan sukses dengan karir dan kekayaan yang melejit.
"Boleh aku masuk?" ujar Helma dengan tatapan menelanjangi saat melihat Amara yang diam termangu.
Amara pun langsung menggeser tubuhnya dari ambang pintu untuk memberi jalan pada perempuan itu agar bisa masuk.
Dengan sikap superior, Helma berbalik dan berdiri menghadap Amara dengan kedua tangan yang bersedekap dibawah dadanya yang menyembul dari balik blazernya.
"Aku nggak akan berbasa-basi!" Perkataan Helma pun disetujui Amara dalam hati. Amara pun malas berlama-lama dengan perempuan angkuh didepannya.
"Apa Emir tau kalau kau sudah memiliki anak?"
...Bersambung...