Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
107| Bisikan Malaikat



PERTANYAAN Andre membuat Helma menatap tajam ke arah pria itu sampai beberapa detik hingga Andre memutus terlebih dulu tatapan tajam dari perempuan didepannya.


Andre mengenal Helma sama seperti dirinya mengenal Emir. Dan Andre adalah tipe lelaki yang memiliki insting kuat untuk hal-hal yang seperti Helma rasakan pada Emir.


Lucu saja bagi Andre, seorang Helma yang memiliki kecantikan bak seorang Dewi dengan otak encernya, rela menahan cinta bertepuk sebelah tangan untuk seorang Emir yang dikenal seperti lelaki petapa -- anti terhadap wanita. Pikir Andre.


Padahal kalau mau ditelisik, Andre pun tak kalah tampan dari Emir. Apalagi lelaki yang doyan bermain perempuan itu adalah keturunan kaya raya sejak lahir -- hanya saja brengsek. Mungkin itu yang menjadi pertimbangan perempuan macam Helma tak berani mematuk hatinya pada pria seperti Andre.


"Sebagai teman, Aku hanya ingin menyarankan ...," ucapan Andre terjeda. "Move on, Darling," lanjutnya.


"Aku tidak bisa membiarkan hal yang sudah kutanam dan kurawat dipetik orang lain. Aku tidak rela!" gumam Helma.


Andre yang memang tahu bahwa perempuan dihadapannya ini memiliki tingkat obsesi yang berlebih, hanya mengerutkan keningnya.


"Sebenarnya kita sedang membicarakan tanaman atau apa?," celetuk Andre dengan cengiran menyebalkan. "Dan orang lain yang kau maksud itu siapa?" tanyanya lagi. Serius untuk pertanyaan ini.


Helma menampakkan wajah kesalnya saat melihat reaksi Andre yang selalu mengejek menurutnya.


"Pergilah! Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan," usir Helma dengan ketus. "Kecuali ... Kau mau semua uangmu hangus dalam investasi kali ini ?!" ancamnya telak.


Andre hanya mencebik kesal saat pertanyaan seriusnya malah disahuti dengan sebuah ancaman yang menyangkutpautkan prihal bisnis.


"Dasar perempuan! Bisanya main ancam!" batin Andre yang geram dengan perkataan perempuan ketus itu.


Andre bangun dari duduknya. Dia berbalik badan dan bersiap melangkah. Namun didetik berikutnya pria itu menoleh ke arah Helma yang kembali menatap kertas-kertas berserakan diatas meja wanita itu.


"Jangan memaksakan perasaanmu pada orang yang tidak menganggapmu sebagai tujuan hidupnya, Helma" ujar Andre. "Atau ... Kau akan kehilangan orang itu untuk selama-lamanya!" ucapnya lagi. Lalu Andre berbalik untuk melangkah pergi.


Helma hanya memandangi punggung lebar Andre yang berlalu dari ruang kantornya


"Orang sepertimu tidak akan pernah mengerti, Ndre. Karena kau seorang Player," gumam Helma mengarahkan tatapannya pada pintu yang sudah tertutup.


...▪︎▪︎▪︎...


Hari sudah semakin sore saat kendaraan Emir memasuki gerbang rumah Amara. Dan, Mahdi -- Penjaga rumah itu sudah menyambutnya dari pos penjaga.


"Papa!" pekik Aidan berlari ke arah Emir dari kejauhan.


Dengan sigap Emir meletakkan koper miliknya dilantai, lalu dia membungkukkan tubuhnya untuk menyambut bocah lelaki itu kedalam pelukannya .


Emir mencium gemas pipi Aidan yang wangi bedak bayi saat bocah itu sudah digendongnya.


"Harum sekali jagoan Papa," kata Emir sambil berjalan dengan masih menggendong Aidan disebelah tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya kembali menenteng koper milik pria itu.


"Tadi teman Mama berteriak-teriak, Pa," adu Aidan.


Seketika Emir mengernyit. "Teman Mama?" tanya Emir heran.


"Iya. Teman Mama yang tadi membantuku mandi," beritahu Aidan.


Emir menghentikan langkahnya. "Maksudmu Bik Lastri?" ucap Emir, dan Aidan mengangguk.


"Berteriak pada siapa?" tanya Emir yang kini memasang tampang penasaran.


"Pria tua yang punya rambut banyak diatas bibirnya. Disini" tunjuk Aidan sambil memperagakan tangannya di atas bibirnya.


"Sukardi ...," gumam Emir.


"Coba kasih tau Papa, Bik Lastri berteriak apa pada pria tua yang punya rambut di atas bibirnya itu?"


"Ibu itu bilang, 'yang akan diusir bukan Non Amara dan anak ini, tapi kamu tua bangka bau tanah'," jelas Aidan.


Bocah lelaki itu begitu fasih saat menirukan ucapan Lastri dengan nada bicara yang sama namun pelan.


"Memangnya, tua bangka bau tanah itu artinya apa, Pa?" tanya Aidan kemudian.


...Bersambung...