Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
45| Make Sure



...Make sure...


SETELAH menyelesaikan semua urusan kantor, termasuk urusan dengan Andre--untuk mengalihkan kepemilikan Apartemennya di Le Park City.


Kini Emir dan Edo langsung meluncur ke lokasi dimana dulu ia pernah tinggal--Rumah Keluarga Salim.


Melintasi pepohonan menuju kawasan elit dimana rumah itu berada, Emir merasa sedang menggali kenangan.


Sudah hampir 10 tahun dia tak ketempat ini. Tak banyak yang berubah dari kawasan itu--masih asri dan memukau.


Saat mobilnya terparkir didepan rumah mewah itu, dia teringat saat pertama kali Orangtuanya memutuskan untuk bekerja sekaligus tinggal di tempat ini.


Rumah mewah, kehidupan kelas atas dan berbagai fasilitas yang sewaktu kecil hanya bisa dia lihat dari layar televisi tabung di kampungnya dulu, ternyata bisa dia nikmati. Semua berkat Keluarga Amara. Gadis yang sampai kini masih menjadi porosnya.


Saat gerbang tinggi yang terlihat sudah berkarat itu terbuka, perasaan Emir bercampur aduk.


Banyak bangunan yang sudah mulai retak. Halaman luas yang dulu pernah ia tanami mawar putih--kesukaan Amara, sudah tertimbun ilalang. Nahas.


Memasuki pintu utama, pria itu tercengang, karena tak ada satupun barang-barang disana yang berpindah tempat, bahkan furnitur milik keluarga Salim pun masih terpampang kokoh ditempatnya--hanya tertutup kain putih dimana-mana.


"Do .... Segera perbaiki rumah ini. Jangan ada yang dirubah. Hanya perbaiki dan di cat ulang dengan warna serupa. Dan ..." Emir menoleh ke arah Edo. "Carikan tukang kebun profesional untuk menanam berbagai bunga. Terutama mawar putih" ujar Emir.


"Apa saya harus menyewa tim housekeeping untuk membersihkan rumah ini, Tuan?" tanya Edo yang sudah siap dengan pen tab-nya.


Emir terlihat berpikir. "Ah! Aku ingin orang yang membersihkan kekacauan Apartemenku untuk mengurus rumah ini. Dia sepertinya sangat detail dan kompeten" tukas Emir.


Emir paham maksud dari Asistennya. "Itu lebih bagus! Cukup satu orang itu saja. Sedikit tangan ... akan lebih meminimalisir kekacauan. Bayar dia tiga kali lipat dari gaji-nya. Aku ingin orang itu mengurus rumah ini sampai pemilik aslinya menempati." tandas Emir.


Asistennya itu sepertinya harus bekerja keras kali ini. Dia hanya berharap orang yang ditunjuk Tuannya itu menyanggupi mengurus rumah megah ini sendirian. Artinya orang itu harus berhenti dari pekerjaannya yang sekarang. Semoga bayaran tiga kali lipat bisa membuat segalanya dipermudah.


"Aduh ... kok telapak tangan kananku gatel banget ya?!" keluh Amara sambil menggesekkan tangannya di celana kerja.


"Kata primbon, kalo telapak tangan gatel, mau terima uang banyak tuh!" ujar Beby yang tengah menyantap makan siangnya.


Kiki yang mendengar kedua perempuan itu bebicara, langsung menyambar, "Bukannya malah harus ngeluarin uang ya, Mbak?" tanya pemuda itu yang mendapat keplakan dikepalanya.


"Heh, Ki. Dua mingguan yang lalu pas kamu dapet tips dari Sultan itu ... bukannya tangan kanan kamu yang gatel?" tanya Beby.


"Iya sih, mbak bener. Tapi disaat yang sama, semua telapak tangan Kiki juga gatel parah" ungkap pemuda gemulai itu.


"Lah kok bisa?" Beby menampakkan wajah bingungnya.


"Soalnya setelah dapet uang tips dari Sultan, aku traktir orang yang pesen makanan nggak kira-kira" keluh Kiki melirik ke arah Beby.


Tak lama bocah lelaki gemulai itu mendapat pukulan berkali-kali dari Beby. Dan Amara yang melihat kelakuan temannya itu hanya tertawa geli.


Tak lama ponsel Amara berdering, dan hal itu menghentikan 'pembantaian' yang sedang terjadi di ruang istirahat karyawan siang itu.


...Bersambung...