
...Aku Juga Punya Pendirian...
DARI kejauhan sebuah Taksi biru dengan lambang merpati mendekat ke arah mereka. Emir segera bangkit dan melambaikan tangannya ke arah mobil itu.
Saat Taksi berhenti didekat Emir, lelaki itu langsung membuka pintu penumpang, kemudian mendekati Amara yang duduk terbengong.
"Ayo," ajak Emir. Meraih lengan Amara menuju Taksi didepan Halte itu. Amara terlihat bingung.
Emir menggunakan ranselnya untuk menghalau derasnya rintik hujan yang akan membasahi kepala gadis itu, sampai Amara duduk didalamnya.
"Jalan, Pak!" seru Emir pada pengemudi itu, setelah dia menutup pintu penumpang dan kemudian mengetuk jendela dari luar.
Emir memandang Taksi yang dinaiki Amara dengan tatapan sendu, sampai tak terlihat lagi lajunya.
Setelah itu dia berbalik dan meraih kemeja putihnya yang basah kuyup, lalu memerasnya.
...•••...
Hari kenaikan kelas telah tiba, para murid kelas 2 telah melakukan diskusi dengan beberapa guru pembimbing untuk memutuskan jurusan mana yang akan mereka pilih saat di kelas 3 nanti.
Tak terkecuali Amara yang merasa bingung dengan jurusan apa yang akan dia masuki.
"Nggak ada jurusan olahraga apa ya?!" celetuk Amara.
"Ya ampun! Olahraga itu pasti ada disetiap jurusan, Ra," sahut Sandrina. "Gimana kalau masuk kelas Bahasa aja sama aku? Disana nggak ada Matematika nya!" bisik Sandrina.
Amara yang mendengar ucapan itu, sontak langsung menyetujui dan segera mengisi lembaran kertas jurusan disana.
Amara tak menjawabnya. Dia sudah tau bahwa Emir akan masuk jurusan itu, dan Amara tidak mungkin masuk jurusan yang seperti neraka hanya untuk bersama Emir bukan? Apalagi kondisi mereka dalam keadaan renggang.
Berbeda dengan Amara yang tak menggubris pertanyaan itu. Sandrina malah memberi tatapan tajam sambil berkata, "Heh, Alika! Emir, ya Emir! Amara beda lagi dong. Kaya nggak punya pendirian aja!" tandas Sandrina, sampai gadis salah satu penggosip di kelas Amara itu pun pergi meninggalkan mereka.
Amara terlihat berjalan seorang diri ditepi lapangan basket, dia melihat sekumpulan anak lelaki bermain basket disana. Amara duduk dibawah pohon rindang yang tak jauh dari lapangan tersebut.
Beberapa anak perempuan terlihat sedang bersorak ria, guna menyemangati para anak lelaki yang sedang bermain basket guna mengisi kekosongan belajar hari ini.
Gadis itu tersenyum. Dia mengenang kembali saat masih di SMP. Mengikuti kegiatan grup pemandu sorak adalah kebanggaan selama dia bersekolah. Namun sayang, di sekolah ini tak ada kegiatan itu. Sehingga Amara sedikit jenuh dengan kegiatan sekolah yang hanya itu-itu saja.
Pandangan gadis itu masih tertuju pada keseruan di dalam lapangan yang dipagari kawat disekelilingnya.
Emir masuk IPA. Kamu nggak bareng dia?. Seketika ucapan Alika sang ratu gosip masih terngiang ditelinganya.
"Emir masuk IPA. Kamu nggak bareng dia? cih!" Amara berbicara sendiri dengan intonasi mengejek. "Kenapa harus disangkut pautkan dengan dia, sih!" gerutu Amara.
"Itu karena kamu yang selalu nempel kaya parasit!" Perkataan itu dilontarkan Helma yang nimbrung tanpa diundang.
Sontak Amara menoleh ke arah suara yang terdengar sinis, dan mendapati Helma yang memperlihatkan wajah datarnya.
"Apa kamu bilang?" Amara terlihat tidak terima. Gadis itu bangkit dan berdiri menghadap Helma.
"Kamu merasa status sosialmu lebih tinggi! Sehingga dengan tanpa perasaan, begitu mudah untuk merendahkan orang lain" tuduh Helma. "Padahal derajat orang itu ... dilihat dari ilmunya. Bukan hartanya! Dasa anak Manja!" seru Helma dengan melemparkan tatapan remeh ke arah Amara.
...Bersambung...