Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
21| Kamu Yang Berharga



...Kamu Yang Berharga...


SUDAH lebih dari tiga hari ini Amara tak bicara pada Emir. Dan semakin hari, sikap gadis itu semakin aneh. Berangkat dan pulang sekolahpun tak ingin dibonceng pemilik Ninja--Emir.


Apa aku ada salah ya?! batin Emir.


Siang ini adalah giliran presentasi mata pelajaran olahraga. Sekolah yang menjadi tempat menimba ilmu kedua remaja itu memang lebih mengutamakan sistem belajar meja bundar, istilah dalam sistem belajar yang mengusung para siswa agar lebih aktif dan kreativ.


"Tumben, Amara nggak satu kelompok sama ajudannya" bisik beberapa para siswa dikelas itu Dan tentu saja terdengar jelas di telinga Amara dan juga Emir.


Sejak belajar kelompok minggu lalu yang membuat Amara kesal, akhirnya gadis itu memilih untuk keluar dari kelompok yang dipimpin Emir. Dan memilih kelompok lain secara random.


Sebenarnya semalam, Emir sempat bertanya pada Amara mengenai dirinya yang keluar dari kelompok itu.


"Kelompok kamu bikin bosan, Mir!"


Dan jawaban ketus Amara semalam membuat Emir berpikir se-asik apakah kelompok baru yang dipilih Amara sampai gadis itu rela berpisah dengan dirinya.


Kini tibalah giliran kelompok Amara yang harus memberikan materi PenJasKes (Pendidikan Jasmani dan Kesehatan).


Gadis itu maju ditemani Harvi sang ketua kelompok.


Harvi menjelaskan tehnik-tehnik peregangan saat akan melakukan gerakan berat. Dan Amara yang mempraktekannya.


Tentu saja Amara sangat bersemangat, selain pelajaran itu adalah mata pelajaran favoritnya, gadis itu juga sudah mempersiapkan diri secara maksimal dengan berpakaian yang semestinya. Pakaian Olahraga.


Dengan bandana yang diikat manis di kepalanya, gadis itu juga menggulung rambut panjangnya agar tidak membuat risih.


Setiap kali Harvi menjelaskan fungsi pergerakan, saat itu juga Amara mempraktekan gerakan tersebut dengan begitu luwesnya.


Dan hal itu membuat sang Guru mengeluarkan seulas senyum. "Bagus Amara! Kau cocok jadi guru olah raga" puji Pak Bonar dengan logat Medan-nya yang khas.


"Bah! Lalu kau mau jadi apa?" tanya Guru itu.


"Aku mau jadi menteri olahraga, Pak" sahut Amara dengan menyamakan logatnya seperti sang guru.


Dan seketika, seisi ruangan itu riuh dengan tawa menggema. Termasuk Emir, yang memang mengetahui selera humor gadis itu.


"Jadi Mentri itu nggak gampang. Dikira tugas Mentri Olahraga cuma memperagakan gerakan SKJ" gumam Helma, dengan senyum sinis sambil melirik ka arah Amara.


Istirahat di jam pertama telah tiba, sebagian murid di sekolah itu memenuhi kantin yang mempunyai bangunan lumayan luas. Tujuan kantin dibuat sebesar itu agar para murid bisa nyaman saat memilih menu yang tersedia layaknya katering.


Namun ada yang berbeda dengan Amara, gadis itu membawa tambahan bekal sendiri yang ditempatkan di tempat makan berbentuk kepala tweety.


"Serius? Pak Bonar bilang gitu?" tanya Sandrina setelah dia mendengar kejadian yang diceritakan Amara.


Saat sedang asik-asiknya bercerita, tiba-tiba Emir datang mendekati dua Amara dan Sandrina yang masih tertawa.


"Seru banget kayanya ...," sela Emir dengan gaya sok Akrab. Dan sekejap kedua gadis itu diam secara kompak.


Sandrina yang memang sudah tau alasan sahabatnya itu menjauhi Emir, langsung buru-buru permisi ketoilet.


Saat melihat Sandrina yang meninggalkan dirinya bersama Amara, pria itu langsung memindahkan posisi duduknya tepat disisi Amara.


"Kamu bawa bekal?" tanya Emir saat melihat tempat makan gadis itu terbuka. "Perasaan tadi pagi, Bunda nggak masak itu deh," tunjuk Emir pada sebuah telur goreng mata sapi setengah matang didalam kotak bekal milik Amara.


"Aku yang masak sendiri!" sahut Amara dengan ketus.


...Bersambung...