Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
70| Cuma Buat Kamu



...Cuma Buat Kamu...


"Kamu udah biasa masak, ya?" tebak Amara saat tadi melihat pria itu dengan lihainya menggunakan peralatan dapur.


Emir yang sedang menyiapkan nasi yang baru saja matang, menatap wajah Amara yang tengah terduduk, lalu pria itu tersenyum. "Aku pernah kerja sebagai asisten Koki sewaktu di Jepang" beritahu Emir.


Jauh dari orangtua dan hidup mandiri di Negara orang tidaklah mudah bagi Emir. Belum lagi kehidupan di Tokyo yang serba cepat dan disiplin, membuat Emir seolah tertinggal.


Memilih bekerja sambil kuliah adalah pilihan yang tepat baginya, agar bisa menyesuaikan kinerja orang-orang disana. Oleh karenanya dia berani melamar sebagai pekerja paruh waktu pada rumah makan ICHIBHAN yang terkenal gesit dalam melayani pelanggan, selain itu Ichiban juga terkenal akan hidangan dagingnya.


Bukan tanpa sebab dia memilih kerja paruh waktu di rumah makan itu, kegemaran Amara pada menu teriyaki khas Negri sakura itu membuat Emir ingin bisa memasaknya. Dia berharap dengan kemampuan dan pengalamannya menjadi asisten juru masak disana dapat dia praktekan untuk membuat masakan kegemaran dari wanita yang kini sedang menyantap masakannya.


"Kamu juga kerja? bukannya biaya kuliah dan kehidupan kamu ditanggung beasiswa ya?" tanya Amara yang penasaran.


Sebab setahu Amara, dulu saat Emir memutuskan mengambil beasiswa di Jepang dia pernah meminta Melani mencari tahu tentang beasiswa yang Emir ambil itu. Kata Melani, selain mendapatkan beasiswa penuh, kehidupan Emir seperti tempat tinggal, dan biaya hidup juga ditanggung oleh pemerintah disana.


Emir mengangguk setuju atas apa yang Amara katakan. "Tapi aku butuh pengalaman bersosialisasi, dan juga ... belajar cara masak" ungkapnya.


Belajar masak?


Mendengar pernyataan itu Amara makin dibuat penasaran.


"Segitu penasarannya buat belajar masak?" selidik Amara yang membuat Emir mengangguk untuk menyahut. "Kenapa malah bangun perusahaan itu sama dia, bukannya buka rumah makan aja," gumam Amara terdengar kecewa.


Emir mendengar ucapan Amara yang hampir berbisik itu. Dan dia paham maksud Amara tentang 'Dia' yang wanita itu maksud.


Membangun perusahaan Izekai bersama Helma adalah sesuatu yang tak pernah Emir duga. Helma yang blesteran Jepang dari darah sang ayah, membuat wanita itu memiliki banyak koneksi di Negara itu. Bahkan Beasiswa yang Emir dapatkan berasal dari Helma yang Pamannya menetap di Negara itu.


Bagi Emir, Helma hanyalah jalan mulus untuk mewujudkan cita-citanya untuk menjadi seorang pengembang Teknologi. Terbukti dari perusahaan Izekai yang Emir dirikan, kini berkembang pesat dan sudah merambah ke Indonesia, dan karena itulah kini Helma menjadi pemegang saham terkuat nomor dua setelah Emir.


"Izekai itu beda lagi. Sedangkan memasak ... cuma buat kamu," tegas Emir yang tak ingin membahas lebih dalam tentang perusahaan miliknya itu.


Apa dia bilang?


Amara salah tingkah dan tak tau harus bagaimana cara merespon ucapan pria itu.


"Enak?" tanya Emir.


Amara langsung merespon dengan mengangguk-anggukan kepalanya, sebab mulutnya sedang sibuk mengunyah.


Melihat Amara yang puas dengan hasil masakannya, membuat Emir kembali menyendokkan daging itu ke atas piring Amara yang tinggal setengahnya.


Amara mendongak ke arah Emir. "Makan yang banyak," suruh Emir.


Melihat tubuh Amara yang kurus seperti itu membuat hati Emir berdenyut. Dulu tubuh Amara sangat berisi, lebih ke arah sekal sih sebenarnya. Tubuhnya yang tak terlalu tinggi, membuat Amara saat remaja dulu begitu terlihat montok, apalagi bagian kedua pipi dari wanita itu yang terlihat cabi, Emir sangat gemas. Namun, sekarang yang terlihat malah tonjolan tulang pipi yang menirus.


Saat sedang melihat Amara makan, tiba-tiba ponsel Emir berdering. Dan itu membuat Amara menghentikan kegiatan makannya.


"Edo?" gumam Emir. Ganggu aja sih! gerutu Emir yang hanya bisa didengar olehnya sendiri.


"Ada apa, Do?" kata Emir setelah mengangkat panggilan itu.


[...]


"Kenapa mendadak?" keluh Emir yang terlihat kesal.


[...]


"Oke! Nanti aku hubungi."


Setelah mengatakan itu, Emir pun langsung menutup panggilan teleponnya dengan kesal.


Melihat Amara yang memandang aneh ke arahnya, Emir pun buru-buru berkata, "Aku harus ... ke Jepang," tukasnya.


...Bersambung...