
MENDENGAR perkataan Sandrina, membuat Emir seperti diingatkan kembali dosa-dosanya.
Pria yang kini rambutnya disisir kebelakang dengan gaya klimis, tak bisa menyangkal lagi. Namun, Emir tak akan mengulangi hal bodoh yang mengakibatkan trauma pada wanita yang dia sayangi. Sebaliknya, dia akan membuat Amara dan Aidan, aman dan bahagia bersamanya.
Emir sadar bahwa dia tidak akan bisa menebus waktu yang hilang. Namun, dia akan memanfaatkan waktu untuk melakukan yang lebih baik di masa depan. Begitulah tekadnya.
"Aku akan mengingat dengan baik semua perkataanmu," ujar Emir dengan tulus.
Emir sebenarnya cukup senang ada sosok Sandrina yang begitu apa adanya saat berbicara dalam mengutarakan pendapatnya. Dia juga merasa keberadaan Sandrina dan Melani adalah dua sosok penyeimbang bagi Amara yang rapuh. Namun, mulai sekarang, Emir yang akan mengambil alih tanggung jawab itu.
"Aku akan buktikan, bahwa mulai sekarang Amara dan Aidan akan hidup dengan nyaman bersamaku," janji Emir terdengar tulus ditelinga Sandrina. Dan jujur saja ... memang hanya Emir yang bisa melakukannya. Sandrina sadar akan hal itu.
"Aku akan mengambil bagian dalam rencana pernikahan itu," tukas Sandrina tiba-tiba.
Melihat atmosfir berubah cepat secara hangat, Emir pun mulai lega karena mendapatkan dukungan dari satu orang lagi untuk membantu dalam rencananya.
...▪︎▪︎▪︎...
Setelah pertemuannya dengan Sandrina yang menghasilkan sebuah kesepakatan. Emir pun kembali ke Perusahaannya.
Pria itu datang ke Kantornya dengan membawa sebuah box karton berukuran sedang yang berada dipelukannya.
Kedatangan Emir selalu menjadi perbincangan hangat bagi para pegawainya di Perusahaan itu.
Diusianya yang menginjak akhir dua puluhan, Emir terbilang masuk dalam jajaran kategori Eksekutif Muda yang sukses.
Belum lagi paras wajahnya yang rupawan, campuran Sunda dan Turki yang diturunkan dari gen sang Ibu--Fatma, menambah siapapun wanita yang meliriknya tak berkedip.
Tak lama setelah kedatangan Emir, ternyata Helma berjalan dari balik punggung lebar Emir.
Semua karyawan di Izekai setuju, bahwa Helma dan Emir adalah pasangan serasi abad ini. Selain sama-sama jenius, rupa dari kedu orang itu pun bisa menyihir lawan jenisnya untuk bertekuk lutut mangagguminya.
"Pak Emir sama Bu Helma, nge-date kali, ya?" bisik salah satu pegawai yang baru saja melihat Helma dan Emir memasuki lift secara bersama.
Tentu saja ucapan itu terdengar ditelinga mereka--Emir dan Helma. Lain halnya dengan Helma yang senang digosipkan seperti itu, Emir justru hanya geleng-geleng kepala saja saat mendengarnya.
Apalagi saat mengingat prilaku Helma yang sudah mendatangi sekaligus menghakimi Amara sesuka hatinya. Emir bertambah tak suka. Namun, dia harus tetap profesional, karena Helma adalah partner kerja yang cocok sampai bisa membuat Izekai--perusahaan yang mereka bangun berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir ini. Dan Itulah yang membuat Emir bertahan.
"Habis dari makan siang?" tanya Emir tiba-tiba saat keduanya sudah berada di dalam lift.
"Ya. Kamu sendiri?" tanya balik Helma sambil melirik ke arah kotak karton yang dibawa Emir.
"Tentu sudah," Jelas jawaban Emir bohong.
Pertemuannya dengan Sandrina saat jam makan siang tadi hanya dibuat kenyang dengan cacian dari mulut pedas temannya itu, tapi walau begitu Emir masih menampakkan senyum yang tak biasa.
Sebenarnya Helma sedikit penasaran dengan kotak yang dibawa Emir, dan juga senyum pria itu yang lain dari biasanya. Namun, wanita itu masih canggung untuk bertanya--akibat kejadian waktu lalu saat Emir begitu marah akan sikap Helma yang merecoki kehidupan Amara.
Dan suasana di dalam lift yang hanya ada dirinya dan Emir pun kembali sunyi sampai akhirnya denting suara lift terdengar nyaring disertai pintu lift yang menunjukkan lantai 6--terbuka.
...Bersambung...