Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
93| Perasaan Gamang



SEPULANG dari kediaman Om Fahri, Emir tak bergerak sedikitpun dari ranjangnya.


Pria itu sudah ada di Apartemennya sejak satu jam yang lalu. Memandangi wajah Amara yang terbingkai di frame besar yang tertempel didinding kamar pria itu.


"Tapi, Mir. Niat kamu untuk mendatangi para pelaku ... Om, rasa lebih baik kamu urungkan saja,"


Perkataan Fahri masih terngiang-ngiang begitu jelas dibenaknya. Kini pria itu bingung dengan niatnya.


Salah satu niat Emir mendatangi Om dari Amara adalah karena keingintahuan Emir akan keberadaan pelaku yang kata Beryl sudah dipenjara dan mendapat hukuman setimpal.


Tapi Emir merasa belum puas jika tidak mengambil tindakan atas rasa murka yang dia rasakan terhadap kebejatan para pelaku terhadap wanita yang selalu dia jaga selama ini.


Saat Fahri mendengar niat Emir yang ingin bertemu dengan para pelaku yang sudah memperk*sa Amara, pria paruh baya itu pun berkata, "Apa yang akan kamu lakukan setelah bertemu dengan para bajing*n itu? Membunuh mereka?! Apa kamu akan sanggup terbayang-bayang dengan wajah para bajing*n itu setelahnya? Percayalah Emir, bertahun-tahun Amara menjalani terapi untuk melupakan tragedi itu. Dan kamu malah sebaliknya?! Lebih baik lupakan semua. Karena Amara pun sudah berusaha keras untuk melupakan semuanya. Dan tak bisa dipungkiri, bahwa Aidan adalah anugerah yang berawal dari malapetaka untuk Amara. Om hanya memohon sama kamu ... bantu Amara agar emosinya tetap stabil seperti sekarang, jangan sampai dia kembali terbayang rasa sakit dimasalalu jika melihat Aidan"


Membayangkan Amara yang berjuang melawan trauma psikisnya, Emir merasa niat balas dendam memang tak berguna. Bisa jadi malah semakin memperdalam luka wanita itu dan juga dirinya.


Emir hanya butuh menatap ke depan dan melangkah bersama Amara untuk hidup bahagia.


Mengingat kalimat terakhir yang Fahri katakan tentang Aidan yang juga menjadi sumber rasa sakit Amara yang terkadang masih terbayang hingga kini--Emir akan berusaha mengikisnya dan memberi kekuatan pada wanita itu bahwa Aidan adalah anugerah terindah yang patut di syukuri.


Mengenang masa lalu yang indah-indah saja, serta menata dan menjalani masa depan yang cerah bersama-sama. Hanya itulah tugas Emir sekarang sebagai calon kepala keluarga.


Dan Lusa adalah hari yang membuat jantung Emir berdegup kencang, karena kedua orang yang pria itu sayangi akan berkumpul bersamanya. Dan Emir akan memberikan yang terbaik yang dia bisa.


Hampir sebulan sejak Emir berjanji akan membawa dirinya serta Aidan kembali ke Jakarta, Amara sekarang justru malah dihinggapi ketakutan yang luar biasa.


Berbagai prasangka buruk memenuhi pikirannya. Apakah orangtua Emir dapat menerimanya dan juga Aidan untuk ikut masuk dalam kehidupan pria itu.


Amara memang mengenal baik kedua orangtua Emir--tapi itu dulu saat mereka tinggal disatu atap. Namun, kini semua jauh berbeda.


Hampir sembilan tahun Amara tak bertemu Fatma yang sudah dia anggap seperti Ibunya Sendiri.


Terakhir kali mereka bertemu adalah saat Ayah Amara meninggal dunia beberapa bulan setelah kelulusan sekolahnya. Setelah itu, keberadaan Amara bagai tertelan bumi. Bahkan saat Liana--Ibu kandung Amara meninggal pun tak ada yang mengetahuinya, karena memang saat itu Amara tak tahu harus datang kemana.


Satu-satunya kerabat terdekat yang sama-sama tinggal di Jakarta saja tak ia kabari. Fahri yang notabene adalah Om nya, baru tau kabar tersebut bersamaan dengan tragedi pelecehan yang dialami Amara. Sungguh miris.


Terlalu pelik sistem komunikasi yang Amara jalani. Seolah-olah dia ingin mengubur semua masalalunya. Namun, dia sadar, serapat-rapatnya dia menutupi kenyataan, toh, akhirnya keberadaan Aidan diketahui juga oleh Emir -- satu-satunya orang yang dia hindari selama ini.


Dan kini ironisnya, Amara malah menerima Emir untuk menaungi hidupnya beserta sang putra. Akan kah semua baik-baik saja? Akan kah tak ada yang mencibirnya? Akan kah Emir bisa di percaya?


Saat Amara sedang menerawang dalam kegamangannya. Tiba-tiba ponselnya berdering, dan sebuah panggilan video muncul dari ponsel yang baru diterimanya sebagai gaji pertama dan terakhir dari orang yang muncul dilayar tersebut.


...Bersambung...