Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
88| Langit Lebih Cerah, Sekarang



KINI mereka semua--Amara, Aidan, Melani, Beryl dan Rossie, tengah berada di Bandara Kingsford Smith di Sidney untuk mengantarkan Emir kembali ke Indonesia.


"Papa, berjanjilah," ujar Aidan tepat di wajah Emir yang tengah berlutut di hadapannya.


"Seperti ini?" Emir mengangkat jari kelingkingnya ke hadapan Aidan, dan anak itu pun langsung mengaitkan jari kelingnya yang kecil pada Emir.


"Papa, akan kembali untuk menjemputmu dan Mama. Tapi Aidan juga harus janji ... bersikap baiklah kepada Ossie. Dan tolong jaga Mama."


Perkataan Emir barusan tentu saja membuat Rossie yang ada disebelah Aidan sangat senang. Dan Aidan pun menyanggupi dengan menganggukan kepalanya.


Sebelum Emir berdiri, pria itu menyempatkan mengecup pipi Aidan dengan gemas. Setelahnya dia berdiri dan menghadap ke arah Amara yang sedari tadi ada disamping Emir.


"Tunggu lah Aku. Dan jangan pergi lagi tanpa memberitahuku," ujar Emir yang membuat Amara tertawa meringis karena merasa tersindir. Lalu Emir mengarahkan bibirnya tepat ditelinga Amara. "Ingat pesanku yang semalam. Oke?" Embusan nafas hangat pria itu membuat tubuh Amara meremang.


Setelah itu, Emir menangkup kedua pipi Amara lalu dia memberi kecupan hangat dikening wanita itu.


Merasa semua pesannya sudah tersampaikan, Emir pun berjalan untuk melakukan check-in. Setelah itu dia berbalik badan dan melambaikan tangan dengan senyum paling cerah yang baru pertama Amara lihat.


...▪︎▪︎▪︎...


Menempuh perjalanan hampir sembilan jam sampai di Apartemennya--Emir langsung membersihkan diri.


Kedatangannya ke Jakarta belum diketahui oleh Edo--Asistennya. Emir berpikir akan bertemu Edo di Kantor saja, karena malam ini otak pria itu sepertinya masih tertinggal di Sydney--dimana calon Istri dan anaknya berada.


Ah! Emir senang bukan kepalang membayangkannya.


Sambil merebahkan tubuhnya di ranjang yang sudah lama tak dia tiduri, Emir menggulir layar ponselnya, dia ingin mengabari Amara bahwa dia sudah sampai.


Tadinya Emir ingin melakukan panggilan video. Namun, saat melihat waktu sudah menunjukan pukul 10.00 malam, niat itu dia urungkan.


Mengingat Sydney lebih cepat tiga jam dari Jakarta. Maka Emir memutuskan untuk mengabari Amara melalui pesan singkat saja.


"Aku udah sampai tadi sekitar jam 9 malam di Apartemen. Kamu pasti udah tidur." Begitulah isi pesan yang Emir kirim.


[Alhamdulillah sampai dengan selamat.]


Balasan pesan dari Amara membuat Emir langsung terduduk. Dia tak menyangka Amara akan membalas pesannya di tengah malam--waktu Sidney. Walau terkesan kaku, tapi Emir harap kedepan Amara akan bisa lebih nyaman kepadanya--seperti kedekatan mereka saat remaja dulu.


"Kok belum tidur?"


Saat membaca pesan balasan itu, Emir tersenyum senang. Dan tiba-tiba timbul pikiran jahil dari otaknya.


"Aku lupa. Ada yang tertinggal disana," kata Emir dalam pesan teksnya.


[Apa yang tertinggal? Biar aku carikan]


"Calon istri dan anakku,"


Pesan teks Emir barusan tidak mendapat respon cepat dari Amara seperti sebelumnya.


"Lah ... Kok nggak dibales. Apa udah tidur ...," gumam Emir menebak-nebak sendiri.


Beep!


Suara notifikasi dari ponsel Emir membuat pria itu langsung mengecek ke ruang chat bersama Amara tadi.


[Sejak kapan kamu pintar gombal?]


Balasan Amara membuat Emir mentertawai dirinya sendiri didalam kamar besarnya.


Amara tak tahu saja. Emir adalah pria normal seperti pria pada umumnya--yang suka merayu dengan kata manis, bergombal untuk mencairkan suasana, bahkan sedikit ada pikiran mesum jika dekat dengan perempuan yang dia suka. Tapi tentu saja hal itu tak berani Emir tunjukkan saat mereka bersekolah dulu. Karena Emir berpikir bahwa saat itu Amara hanya menganggapnya sebagai teman--tidak lebih.


Tapi diusiannya yang sudah menginjak 29 tahun, Emir merasa hal itu akan mulai dia lakukan.


Apalagi dia akan mempersunting wanita pujaanya itu dalam waktu dekat. Jadi untuk menciptakan hubungan yang lebih erat, rasa-rasanya perlu untuk membuat gelanyar-gelanyar indah agar diperut keduanya timbul kupu-kupu berterbangan.


Walau terkesan telat--karena memang keduanya tidak pernah merasakan indahnya cinta dimasa remaja. Tapi Emir berpikir bahwa hal itu belum terlambat dia lakukan sekarang.


"I miss you like crazy, my Tweety ...,"


Akhirnya Emir memberanikan diri mengirim teks seperti itu pada Amara.


Kali ini Emir tak akan menahan-nahannya lagi. Dia akan menunjukkan sisi kelaki-lakiannya yang selama ini tak Amara ketahui.


...Bersambung...