
...Need More Time...
"Kamu yakin, enggak ke rumah-ku aja?" tanya Sandrina kembali memastikan.
Tadi, dalam perjalanan membawa Amara lari, Sandrina berulang kali menawarkan sahabatnya itu untuk tinggal di kediaman miliknya, bahkan Apartemen sampai menginap di Hotel pun sudah dia tawarkan pada Amara. Namun sahabatnya itu bersikukuh menolak. Hingga Sandrina mengalah dan menuruti Amara untuk pulang ke rumah wanita itu.
"Ini tempat paling aman yang tidak akan dia datangi," lirih Amara.
Ya, memang benar. Tempat tinggal Amara yang sekarang adalah tempat yang paling memungkinkan bagi Emir untuk tidak bisa menemukan keberadaan Amara.
Sandrina tau betul bahwa Amara tidak siap bertemu Emir, semua kejadian hal buruk yang pernah menimpa Amara beberapa tahun lalu membuat wanita itu menutup rapat komunikasi dari orang-orang dimasalunya.
Itulah mengapa Sandrina merasa tenang saat Amara tak tau menau perihal acara Reuni sekolah mereka. Namun siapa sangka, ternyata Amara malah bekerja disana, dan yang lebih parahnya lagi--Emir malah mengenali sosok Amara yang kini benar-benar jauh berbeda.
Sebenernya banyak sekali pertanyaan yang ingin Sandrina kemukakan, tapi melihat Amara yang masih syok dengan kejadian ini, membuat Sandrina memutuskan untuk membiarkan Amara beristirahat.
"Baiklah ... besok aku akan datang. Sekarang istirahat saja. Oke?" kata Sandrina yang hendak bangkit dari duduknya.
Amara menahan lengan Sandrina. "Enggak usah, Na. Besok aku kerja" ujar Amara.
Sandrina kembali duduk, dan kini tatapannya menajam. "Kamu akan kembali kerja?" Sandrina tak habis pikir sahabatnya itu akan kembali ke Hotel Hilton. "Hei ... bisa saja Emir menungguimu di sana" ungkapnya lagi--mengingat bagaimana perangai Emir.
"Aku enggak kerja di Hilton," ucap Amara yang membuat Sandrina mengerutkan keningnya. "Aku hanya kebetulan kerja sambilan saja. Aku memang lagi sial!" rutuk Amara pada dirinya sendiri. Dan sekali lagi, Sandrina bernafas lega.
Setelah mendengar penjelasan singkat itu, akhirnya Sandrina pamit pulang untuk memberikan ruang pada Amara mengurai ketegangannya.
"Masa sih udah tidur?" gumam Sandrina saat melihat ke arah jam di tangannya yang menunjukan pukul 5 sore. Mengingat perbedaan waktu Indonesia-Australia, mungkin saja orang yang Sandrina maksud sudah tidur bukan?
Akhirnya BMW Sport milik Sandrina sampai di Kediaman Mewahnya, Satpam yang tengah berjaga langsung menyambutnya.
"Non ... ada tamu" ujar Satpam yang usianya lebih muda dari Sandrina.
"Siapa?" tanya Sandrina saat dia keluar dari mobilnya.
"Katanya temen sekolah, Non" ungkap Satpam itu.
Sebenarnya Sandrina sempat melihat mobil CRV terparkir tak jauh dari depan rumahnya, tadi. Dan itu sangat mengganggunya--karena parkir sembarangan di depan rumah orang, walau tak menghalangi pagar sih, tapi tetap saja, Sandrina tak suka.
Sandrina berpikir sejenak, mungkin kah teman yang dimaksud adalah Kayla--teman sekolahnya dulu yang tadi bertemu di acara Reuni. Sebab Sandrina memiliki kepentingan dengan wanita itu yang dikenal sebagai pemilik usaha dalam bisnis kain tenun khas Sumatera.
Tanpa bertanya pada Satpam-nya lagi, Sandrina berjalan menaiki undakan menuju teras rumahnya yang bergaya Koloni.
Saat memasuki ruang tamu yang luasnya seperti lobi Hotel, Sandrina mematung, kilatan amarah pada sorot matanya tertuju pada dua pria yang berpenampilan elegan dengan pakaian yang bisa Sandrina taksir berapa harganya.
"Mau apa Kamu kesini?!" ketus Sandrina tanpa basa-basi.
...Bersambung...