
"Aku mendapat laporan bahwa Emir membawa seorang perempuan dalam acara perilisan kemarin"
Suara berat penuh tekanan terdengar memecahkan keheningan didalam sebuah ruangan kedap suara yang dipenuhi banyak buku.
Berita sekecil apa pun pastilah akan sampai di telinga Tadaki. Sebab kaki tangan yang dia miliki ada dimana-mana. Pria itu hanya melakukan pengintaian terhadap hal-hal yang menurutnya akan mengancam nama baik keluarga saja.
"Iya, Ayah," sahut Helma menunduk patuh.
Tadaki Sakomoto. Pria yang masih terlihat bugar di usianya yang ke 70 tahun itu adalah Ayah kandung dari Helma Paradisa. Lelaki yang telah ikut berkontribusi dalam pembangunan Izekai.
"Otakmu jenius. Tapi sayangnya kau tidak bisa memanfaatkan fisikmu untuk menaklukan pria itu," desis Tadaki penuh intimidasi.
"Aku sud --,"
"Melakukan hal seperti ini saja kau tidak becus," sergah Tadaki. "Hanya dia yang bisa membuat hidupmu aman. Mengingat latar belakangmu yang tak biasa ... Aku tidak berani menjodohkanmu dengan putra dari rekan bisnisku. Aku tidak mau nama besar Sakamoto tercoreng karena masalalu," terangnya lagi.
Kedua tangan Helma mengepal kuat. Dan tatapan wanita itu menghujam ke arah karpet yang diinjaknya. Bahkan deretan giginya yang tertutup oleh mulut terlihat mengerat.
Helma yang terlahir dari rahim wanita penghibur adalah sebuah aib yang tak akan pernah bisa hilang sampai dia mati. Oleh karenanya, Tadaki -- sang ayah kandung tidak pernah mengijinkan Helma bergaul dengan kalangan atas yang sangat mementingkan latar belakang. Dan hal itu bisa membuat aib lama yang sudah terkubur dapat terbongkar. Emir lah satu-satunya pria yang membuat aman nama besar Sakamoto, karena pria itu terkahir dari kekuarga biasa yang mencapai kesuksesan dari tangannya sendiri.
"Pakailah cara-cara lama. Tapi Aku tak mau ada jejak yang tertinggal," titah Tadaki.
Tadaki hanya ingin urusan dengan anak yang dilahirkan dari wanita penghibur itu cepat selesai. Pria itu tidak bisa melepas Helma dari hidupnya selama anak haramnya itu belum bisa menemukan seseorang yang dapat menjamin kehidupan Helma, bukan tanpa sebab -- alasan sebenarnya adalah agar nama besar Sakamoto tidak menjadi imbas dari prilaku kotornya dimasalalu. Dan satu-satunya cara untuk permasalahannya itu hanyalah membuat Helma hidup dengan baik bersama orang yang tepat seperti Emir. Begitulah harapan Tadaki.
Saat mendengar perkataan ayahnya, Helma langsung menatap lurus pada pria yang tengah duduk bersilang kaki di sebuah sofa kulit mahal sambil menghisap tembakau.
"Baik, Ayah," sahut Helma mengagguk patuh.
...▪︎▪︎▪︎...
Sehabis bertemu dengan pihak wedding organizer, Emir dan Amara menjemput Aidan di sekolahnya.
Seperti biasa. Kedatangan Emir selalu menjadi buah bibir dari para wanita yang mengagumi fisik pria itu. Bukan hanya para pengasuh saja yang terkesima, tetapi Ibu dari wali murid yang datang menjemput pun tak segan-segan melemparkan lirikan mata kagum mereka ke arah Emir.
Penampilan wanita sosialita, pikir Emir. Dipenuhi berlian disekujur tubuhnya, mungkin ber-krat-krat beratnya. Belum lagi polesan wajahnya yang jika dibersihkan pasti akan membutuhkan waktu yang sangat lama -- saking tebalnya.
"Tumben Anda datang bersama Istri," ujar wanita menor itu berkata dengan genit.
Amara yang kini merasa sedang jadi perhatian -- langsung tersadar dari kegiatannya yang sejak tadi melihat galeri foto yang dikirimkan pihak WO ke ponselnya.
Ya. Emir dan Amara kini sedang duduk di ruang tunggu bersama yang lainnya. Tidak ada pria lain disana, kecuali Emir yang terkenal paling rajin dan tak malu datang kesekolah sang anak untuk menjemput. Begitulah imej Emir dimata mereka selama ini.
"Ya. Kami habis dari luar," sahut Emir yang langsung menoleh dan tersenyum ke arah Amara yang duduk disampingnya.
Amara terlihat heran. Padahal wanita yang sedang mengajak Emir bicara sudah beberapa kali bertemu dengan Amara saat keduanya sama-sama menunggui anak-anak mereka keluar kelas. Tapi sepertinya wanita yang akrab di panggil 'Nyonya Sasongko' itu tak mengenalinya.
Lalu secara spontan mata Amara berkeliling mencari wanita yang pernah menganggapnya pengasuh. Dan saat mata mereka bertemu, perempuan muda yang kini memakai seragam khas pengasuh itu -- tersenyum sambil menganggukan kepala. Dan Amara membalas senyuman perempuan itu dengan seulas senyum tipis sekali -- hampir tak kentara.
Dia ingat pesan Sandrina untuk tidak terlalu mengumbar senyum berlebih pada orng asing -- karena bisa memancing sikap kurang nyaman yang mungkin akan berdampak buruk bagi Amara -- seperti sikap sok akrab yang dia terimanya beberapa waktu lalu yang mengatakan dengan gamblangnya bahwa Amara adalah seorang pengasuh.
Bukan masalah predikat 'pengasuh' itu yang dikhawatirkan Amara. Tetapi lebih ke perasaan Aidan saat nanti ada yang mengatai ibunya pengasuh.
Apakah perubahan dari penampilannya kini sangat jauh berbeda -- sampai-sampai tak ada yang mengenalinya.
Iya sih, penampilan Amara kini lebih terlihat elegan. Pakaian yang dijahit khusus untuknya itu memang tak ada duanya, maha karya dari ide brilian Sandrina memang berkelas -- seperti julukannya -- Desainer kondang.
Amara merasa beruntung dikelilingi oleh orang-orang seperti Melani, Sandrina dan pastinya, Emir. Ke-tiga orang itu bukan hanya brilian dan mapan, tapi juga setia kawan.
Amara kembali memusatkan tatapannya pada Emir dan membalas senyuman pria itu. Setelahnya Amara pun menatap wajah Nyonya Sasongko untuk kemudian berkata, "Apakabar Nyonya Sasongko?"
'Eh ... kenal saya ya?' batin Nyonya Sasongko yang merasa heran.
...Bersambung...