Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
Kartu Keberuntungan



TAK butuh waktu lama bagi Amara untuk berkabung atas rasa sukanya yang layu sebelum berkembang.


Kejadian di kantin pada hari jumat lalu sudah mengenalkan rasa suka sepihak yang membuat gadis itu akan lebih berhati-hati dalam melabuhkan perasaanya.


"Biar nggak benci ... rasa sukanya jangan berlebihan. Biar disini nggak sakit"


Perkataan wanita yang biasa dia panggil dengan sebutan 'Bunda' itu masih terngiang-ngiang diingatannya. Berkat ucapan itu akhirnya Amara bisa menangani rasa kecewanya.


Gerbang yang tinggi menjulang dengan pahatan burung Garuda sudah terlihat didepan mata, kedua bocah itu seperti biasa pamit pada Ayahnya masing-masing.


Sambil menghirup udara pagi yang masih bebas polusi Amara menatap gerbang sekolahnya sambil berteriak, "I love monday." Dan hal itu sampai membuat teman yang lain menoleh heran.


Emir yang sudah biasa dengan sifat Amara yang suka teriak-teriak seperti itu hanya geleng-geleng kepala saja.


Hari Senin adalah hari paling istimewa, karena semua murid, guru dan staf sekolah mengikuti upacara pengibaran Bendera.


Kegiatan rutin yang dilaksanakan seminggu sekali itu, tentu akan menjadi kenangan yang tak bisa dilupakan.


Seperti pagi ini. Berdiri dengan durasi yang cukup lama sambil menyaksikan parade pengibaran bendera adalah hal yang membanggakan dan juga melelahkan.


Tak sedikit murid yang diam-diam berjongkok saat tak ada Pengawas yang memperhatikan. Namun, saat lewat anak Osis atau guru dibarisan mereka. Sontak mereka berdiri tegap seolah mengikuti upacara dengan khidmat.


Jam pertama setelah Upacara, semua murid kembali menuju kelas masing-masing, termasuk Sandrina yang sedang melihat pantulan wajahnya di cermin kecil yang sedang ia genggam.


"Ya ampun, mataharinya panas banget. Muka ku jadi merah nih!" keluh gadis itu.


"Ra! Itu Kak Devi, kan? Yang di kantin waktu itu?" bisik Melani saat melihat gadis yang bernama 'Devi' itu masuk ke kelasnya.


Dan yang membuat Amara menyudahi perasaanya, ternyata Leon dan Devi memang sudah dekat dari sejak mereka masuk ke sekolah ini. Dan rumor itu bukan isu belaka.


Dan seketika kelas yang riuh itu senyap saat suara syahdu seorang gadis mengudara di kelas itu.


"Selamat pagi adik-adik," sapa Devi didepan kelas dengan senyum menyilaukan.


Gadis itu tidak sendirian, dia didampingi satu teman lain yang juga adalah anggota Osis di SMP Garuda.


"Karena kompetisi basket tahunan akan diadakan minggu depan, maka dari itu saya hanya akan memberi 3 kartu undangan disetiap kelas untuk ikut menjadi supporter" ungkapnya.


Seketika semua murid dikelas itu bersorak kecewa.


"Setiap sekolah dibatasi hanya sampai tiga puluh orang saja untuk ikut masuk ke dalam aula. Itupun diluar team cheersleader dan tim basket--jadi seat-nya terbatas" imbuh Devi kemudian.


Setelah pengumuman berakhir, kelas kembali riuh dan berbagai obrolan kekecewaan dari para murid mulai terdengar.


"Paling nanti yang ikut itu--Ketua kelas, Wakil ketua sama Bendahara" cibir Sandrina sambil berbisik bisik.


"Memangnya ini kompetisi cerdas cermat" sela Melani yang aneh dengan pengkategorian yang Sandrina sebutkan. Tiba-tiba Melani teringat sesuatu. "Kamu harus daftarin Emir biar bisa nemenin kamu, Ra!" kata Melani yang seketika menyadarkan Amara.


Dan sontak ketiga gadis itu menengok dengan kompak ke arah Emir yang duduk di depan--dekat jendela. Bahkan Emir terlihat tak peduli dengan pengumuman barusan.


Amara berpikir. Benar kata Melani, Emir harus segera didaftarkan. Sebab anak lelaki itu adalah kartu keberuntungan baginya, kalau bocah itu tidak ikut, bisa jadi Amara tidak diijinkan oleh sang Papah untuk memeriahkan kompetisi bergengsi itu. Amara jadi kesal sendiri saat memikirkannya.


...Bersambung...