Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
31| I Hope



...I Hope...


TIGA tahun menjalani aktivitas belajar di SMA Bhineka adalah sesuatu yang tidak mudah, namun menyenangkan.


Tahun ini Sekolah itu kembali melepas sekitar 300 muridnya dengan nilai angka ujian yang membanggakan.


Setiap pertemuan, pasti ada perpisahan. Tiga tahun belajar bersama dan kemudian berpisah untuk melanjutkan rencana kedepan adalah hal yang lumrah terjadi.


Seperti halnya Sandrina, gadis itu akan melanjutkan sekolah di Perancis. Kesukaannya pada bidang fashion membuat gadis itu ingin menjadi Desainer sekelas Coco Chanel.


Dengan latar belakang keluarga yang mumpuni, serta bakat yang sudah terasah sejak usia dini tentu saja membuat gadis itu percaya diri.


Lain halnya Amara. Gadis itu telah membulatkan tekad untuk fokus sebagai Pelari Nasional. Tak ada yang menyangka. Bahkan kedua orangtuanya pun berkali-kali menanyakan kesungguhan gadis itu.


Tubuh mungilnya yang ringan membuat Amara dapat berlari dengan kencang. Bahkan terlihat seperti melesat terbang saat dia sedang berlari, saking cepatnya.


Dan dari kejauhan ada Emir yang masih memandangi Amara yang tengah asik berbincang dengan teman-teman didepan kelasnya.


Sudah hampir setahun Amara tak berbicara pada Emir. Bahkan setiap kali Emir mendekat, Amara selalu menjaga jarak. Selama ujian akhir pun, Amara jarang di Rumahnya, gadis itu lebih sering menginap di Kediaman Om nya-adik dari Sang Papa yang kebetulan tinggal di Wilayah yang sama.


Hari ini Emir sudah bertekad untuk menuntaskan segala urusannya dengan Amara sebelum dia berangkat ke Jepang--agar tenang. Dan benar-benar tak bisa ditunda. Sebab minggu depan dia sudah harus pergi ke Jepang untuk melanjutkan Sekolahnya di sana.


Ya. Berkat kegigihan dan otak encernya, Emir di terima di Universitas Tokyo dengan Beasiswa Full, tentu saja hal itu tak terlepas dari bantuan Helma dan Om nya.


Amara sebenarnya tau Emir terus menerus menatapnya, dia juga tau kalo Emir akan melanjutkan Studinya ke Jepang. Tapi Amara terlalu takut menerima kenyataan.


Dari arah kelas IPA yang jaraknya tak terlalu jauh, Emir sedang berjalan mendekat ke arah Amara. Jantung gadis itu makin tak karuan, sudut matanya menangkap pergerakan Emir yang semakin memangkas jarak antara dia dan lelaki itu.


"Mau pulang jam berapa?" Emir memberanikan diri menerobos kerumunan itu untuk bicara pada Amara.


Amara menoleh saat suara berat dan lembut berbisik persis di telinganya--******* hangat yang embusannya menjalar keseluruh tubuh.


Gila! Tingkah nekad Emir mendapat perhatian dari seluru teman Amara yang ada disana. Bahkan Sandrina menutup mulutnya sendiri atas sikap lancang lelaki itu yang berbisik terang-terangan dihadapan banyak orang.


Ini adalah kali pertama Emir berani bersikap seperti itu. Bahkan saat mereka masih akrab, Emir tak pernah melakukannya seperti tadi, atau pernah? Entahlah Amara lupa.


Amara menganga tak percaya, rasa gugup gadis itu tak bisa dititupi, dan Emir menyadari sikapnya yang terkesan eksplisit.


Emir menyambar lengan Amara, dan gadis itu hanya menurut. Bahkan sampai di parkiran sekolah Amara hanya diam tanpa membuang pandangannya pada Emir.


Kini keduanya sudah menerjang jalan raya Ibu Kota, dan Amara baru tersadar saat Motor yang dia naiki berhenti di warung roti bakar pinggir jalan.


Emir merogoh tasnya, lalu memberikan selembar kertas yang tadi ia ambil untuk diserahkan pada gadis itu.


...Bersambung...