
"Kok melamun?" sergah Emir pada Amara yang menatap kosong ke arah koper kecil yang ditentengnya.
"Eh ...," Amara terkesiap dan langsung menatap Emir. "Tidur di kamar mana?" tanyanya polos.
Emir mengulum bibirnya untuk menahan senyum. Menggoda Amara saat ini adalah hal yang muncul dibenaknya.
Tidak berdosa, kan?
Cuma menggoda saja. Tidak lebih.
"Satu kamar sama kamu, boleh?" celetuk Emir dengan memasang wajah polosnya.
"Hah?" respon Amara lambat sekali. Seolah apa yang baru dia dengar ini seperti slow motion yang mengarah ke telinganya untuk sampai ke otak kecilnya.
"Satu -- kamar -- sama -- kamu -- boleh, Amara?" ucap Emir sedikit berbisik saat mengulang perkataannya dengan tempo selambat-lambatnya.
Emir sendiri merasa bahwa dirinya seperti pria brengsek saat mengatakan kalimat itu. Kalau Om Andar -- mendiang Papa Amara masih hidup, mungkin sudah habis Emir di bogem mentah tepat diwajahnya. Membayangkan hal itu, Emir ngeri sendiri.
Amara benar-benar dibuat terdiam. Otak kecilnya masih memproses prilaku Emir yang seperti ini.
"Aku bercanda, Tweety," tukas Emir saat melihat Amara menampakkan wajah kebingungan.
Emir tak tega untuk menjahili wanita itu lebih lama, dan dia pun tak bisa melihat raut wajah Amara yang kebingungan.
Kalau dulu, mungkin Amara akan kembali menjahilinya, mengingat selera humor Amara yang memang nyeleneh dan cukup berani -- tentu saja pasti Emir akan kewalahan.
Emir pikir untuk sekarang, sepertinya dia harus lebih bersabar agar Amara bisa kembali bersikap akrab dan tak canggung lagi padanya.
Kemudian pria yang masih mengenakan kemeja kerjanya itu menarik lengan Amara menuju lantai dua.
Emir mengarah pada kamar yang dulu Amara tempati saat wanita itu masih remaja.
"Aku akan tidur disini," beritahu Emir. Lalu dia membuka pintu kamar dan menarik Amara untuk masuk bersamanya.
Tak ada yang berubah dari kamar itu. Semua barang masih terletak diposisinya masing-masing -- sama seperti dulu.
"Kamu nggak keberatan aku tidur disini, kan?" tanya Emir yang terdengar hanya basa-basi belaka.
"Ini lebih baik sih, dari pada satu kamar denganku," kata Amara yang memang jujur atas perintah otaknya. Dan tentu saja demi keselamatan mereka.
Astaga. Jadi tadi Amara menganggap perkataan Emir yang nyeleneh itu sebagai suatu keseriusan. Dan wanita itu sempat menimbang permintaan Emir? Begitu?
Emir benar-benar menyesal. Harusnya tadi dia lanjutkan saja acara menggoda Amara, agar jadi nyata. Walau bayangan wajah Om Andar menghantuinya, Emir rasa tak masalah.
Kemudian Amara menuju lemari baju yang terletak disebelah ranjang yang tak terlalu besar itu. Dia mengusap bagian depan pintu lemarinya, lalu membukanya.
Lemari itu masih terlihat kokoh dan bagus. Bentuk ukiran kayu jati yang terlihat klasik seperti ini memang pernah digandrungi pada masanya.
"Bawa sini kopernya, biar aku bantu susun baju kamu disini," ucap Amara.
Emir membawa koper miliknya ke arah ranjang dan ia letakkan di atasnya. Saat koper itu terbuka, Amara terlihat kaget dengan isi didalamnya.
"Kamu habis merampok figura, Mir?" sindir Amara. Dan Emir hanya meringis sendiri.
Alasan Amara berkata seperti itu, karena isi koper yang Emir bawa sebagian besar adalah bingkai-bingkai foto. Dan saat Amara meraih untuk membalikkan salah satu figura yang tertutup itu, dia makin ternganga.
Oh, tidak!
Itu kan foto Amara saat dia masih SMP, kentara dari pakaian cheersleader yang dikenakannya. Dan yang lain adalah foto Amara saat membeli buku komik disalahsatu toko buku langganan mereka.
"I-ini ... dari mana, Mir?" tanya Amara terbata-bata dan pandangan wanita itu tak lepas dari gambar dirinya.
Kalau orang lain yang melihat hal ini, mungkin akan menyangka Emir adalah penguntit.
Bagaimana bisa pria ini memiliki foto-foto dirinya. Padahal Amara sendiri saja tidak punya.
"Dari Apartemenku," aku Emir.
"Hah? Apartemen?" tanya Amara yang langsung diangguki Emir. "Sejak kapan kamu fotoin aku, kok aku nggak tau?" gumamnya lagi.
...Bersambung...