
SAAT Amara bangun, dia tak melihat Emir disebelahnya. Namun, setangkai mawar putih didalam vas kaca sudah bertengger di atas nakas -- sebelah tempat tidurnya.
Tidak hanya itu, ternyata sebuah memo juga terselip dibawah vas bunga itu. Amara meraih lalu membacanya.
"Maaf tweety ... Aku nggak bangunin kamu. Pagi ini ada meeting dan aku lupa tak ada baju dirumah ini. Oh ya, orang yang kita bicarakan akan datang pagi ini. Kalau ada masalah lekas beritahu aku. Sampai jumpa nanti sore. Titip kecup untuk jagoanku. Aku menyayangi kalian. I love you,"
Amara hanya menggeleng saat membaca sebutan 'tweety' yang Emir sematkan untuknya. Aneh pikir Amara. Dan dia masih belum terbiasa dengan sikap Emir yang seperti ini.
▪︎
Hari ini Amara tak ada kegiatan berarti. Emir bilang Aidan butuh istirahat dulu sampai pekan depan untuk menyesuaikan situasi baru di Jakarta.
Emir berjanji akan menemani Amara untuk mendaftarkan Aidan di sekolah baru. Dan juga rencana untuk menyambangi pemakaman kedua orang tua Amara. Aidan harus tahu dimana letak Mendiang Kakek dan Neneknya dikebumikan. Begitulah pikir Emir.
Tak lama kemudian ...
Suara pagar besi yang terbuka begitu jelas terdengar dari ruang depan. Amara buru-buru mengintip dari balik gorden.
"Jangan-jangan sudah datang," tebak Amara saat melihat sebuah mobil yang tak asing memasuki pekarangan rumah.
Amara lekas membuka pintu utama dan berdiri didepannya. Dia penasaran dengan sosok yang Emir beritahukan kemarin malam.
Saat pintu mobil kemudi terbuka. Yang pertama keluar adalah sosok pria paruh baya yang sudah lama tak Amara lihat -- Sukardi -- supir pribadi Emir yang pernah beberapa kali mengantar dan menjemputnya saat dulu statusnya masih menjadi tukang bersih-bersih.
"Heh! Kemana aja kamu. Baru keliatan. Sini! Bawakan belanjaan di bagasi mobil!" pekik Sukardi pada Amara yang berdiri di ambang pintu.
Kasar sekali pria itu, pikir Amara.
"Non, Amara?!" pekik wanita itu.
Amara sontak berhenti. Mereka menelisik satu sama lain. Amara belum bisa mengingat siapa wanita yang memanggilnya dengan se-antusias itu.
"Ya Allah. Bener Non Amara ..." sambung wanita itu lagi dan kini berjalan cepat menghampiri Amara.
Amara masih memperhatikan wajah perempuan yang semakin mendekat ke arahnya saat ini. Wajahnya begitu tak asing, pikir Amara.
"Saya, Lastri, Non," beritahu wanita itu.
"Bi Lastri?" tanya Amara menyelidik. "Istrinya Mang Juned?" ujar Amara yang sudah mengingat sosok didepannya.
Lastri mengangguk dan langsung memeluk Amara. "Ya Allah, Non. Kemana aja, Bibi kangen," ucap Lastri menahan haru. Amara pun bereaksi sama dengan wanita itu.
Lastri adalah Istri Mang juned yang juga pernah bekerja dirumah Amara cukup lama. Wanita itu mengenal Amara sejak anak majikannya ini masih berusia enam tahun. Dan saat Papa Amara meninggal, semua pekerja di kediaman itu terpaksa diberhentikan -- karena Liana -- Ibu Amara, tidak sanggup lagi membayar upah para pekerjanya.
Saat masih melepaskan rindu, tiba-tiba Sukardi mendekat.
"Wah--Wah ...dramatis sekali pertemuan pembantu satu ini! Pake acara panggil 'Non' segala!" ketus pria paruh baya itu dengan menatap tajam ke arah Amara.
Lastri langsung melepas pelukannya dari majikannya itu, sedangkan Mahdi yang baru menutup gerbang hanya tercengang dengan sikap sinis yang dilontrakan Sukardi pada Amara.
"Cari mati nih, Aki-aki bau tanah!" maki Lastri dalam hati.
...Bersambung...