Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
122| Salah Siapa?



SAAT ini Emir bersama Amara dan juga Aidan tengah berada didalam mobil yang dikendarai oleh Slamet -- Sopir pribadi yang dipekerjakan Emir untuk Amara.


Sepanjang perjalanan Amara hanya diam saja sambil menatap Aidan yang tertidur di pangkuannya.


Sejak di acara itu, Aidan terlihat aktif dan bercengkrama dengan anak sebayanya yang juga datang bersama otangtua masing-masing. Seolah putranya itu tak ada lelahnya -- menanggapi beberapa orang yang mengajak berfoto karena bocah itu adalah model resmi untuk smart watch produk keluaran Izekai.


Berbeda dengan Amara yang hanya diam saja seolah mengikuti jalannya acara tanpa minat. Apalagi saat jamuan makan malam tadi -- Helma yang selalu berusaha menunjukkan sikap superior dihadapan Amara, seakan memberitahukan bahwa kelas mereka memang berbeda.


"Kamu lelah?" Jemari hangat Emir yang menyentuh jari-jari Amara -- membuyarkan lamunan wanita itu.


Amara menoleh ke arah Emir yang duduk disampingnya sambil memangku kaki Aidan diatas paha lelaki itu. "Aku cuma ngantuk," beritahu Amara dengan wajah yang terlihat berat menahan matanya agar tetap terbuka.


Tangan Emir beralih naik ke pipi Amara yang sudah mulai terlihat tembam lalu pria itu mengelusnya. "Bersandar disini" Sambil mengatakan itu, Emir membawa kepala Amara untuk menempel di bahu lebarnya.


Amara tak menolak. Wanita itu senang ketika Emir begitu memanjakannya. Ada ketenangan yang dia rasa saat Emir tak terlalu menggubris sikap Helma yang tadi seolah merasa menang -- saat semua orang mendukung ucapan paman nya yang bernama Sakamoto -- yang seolah membuat asumsi sendiri tentang hubungan Helma dan Emir ke arah yang lebih intim.


"Jiwa dan ragaku ini sudah mutlak hanya untuk kamu, Amara," kata Emir setengah berbisik tepat di kepala Amara yang bersandar padanya.


Seolah paham apa yang dipikirkan Amara -- Emir pun dengan lugasnya berkata seperti itu.


"Jadi jangan biarkan ucapan-ucapan seenaknya yang bukan berasal dari mulut ku, mengganggu dan menggoyahkan kepercayaanmu padaku" lanjut Emir.


Setelah membisikkan itu Emir mengecup kepala Amara lumayan dalam. Emir tak ingin perempuan disampingnya memikirkan hal-hal yang tak penting seperti itu yang dapat membuat Amara goyah.


Saat mobil sudah memasuki pekarangan rumah dan berhenti tepat di depan teras pintu utama. Emir meminta Slamet untuk keluar dan berisitirahat.


Emir sendiri masih duduk di kursi belakang dengan Amara yang masih bersandar dipundaknya dan juga Aidan yang masih terlelap dipangkuan Mama dan Papa nya.


Kini pikiran Emir menerawang saat kejadian di acara tadi. Melihat Andre terlihat begitu cepat akrab dengan Amara dan Aidan, membuat Emir kesal. Bisa-bisanya Andre bersikap sok akrab pada perempuan yang jelas-jelas adalah miliknya.


Apa pria bernama Andre itu masih kurang paham ketika Emir menyebutkan panggilan Mama dan Papa secara tegas pada Aidan tepat dihadapan Andre tadi.


'Ah! Salahku. Harusnya tadi kuperkenalkan Amara pada relasi ku secara resmi,' Pria itu menghela napas kasar sambil menengadahkan kepalanya disandaran kursi mobil.


Emir sontak membuka matanya dan menegakkan kepalanya kemudian menoleh ke arah Amara. "Lanjut tidur dikamar, yuk?" ajak Emir.


Amara yang melihat pergerakan Emir membuka pintu lalu mengangkat Aidan dalam gendongan nya, langsung tersadar.


"Kok malah diam? Ayo ...," ajak Emir lagi menoleh pada Amara yang masih terpaku. Sepertinya nyawa perempuan itu masih di alam mimpi.


Tak lama Bik Lastri pun keluar dari pintu utama dan membuka lebar pintu itu agar majikannya leluasa masuk.


Setelah Emir meletakkan Aidan di ranjang anak itu, Emir menoleh pada Bik Lastri yang sedari tadi berjalan dibelakangnya. "Tolong buka sepatu Aidan ya Bik, jangan sampai bangun. Saya ke kamar dulu," kata Emir. Dan Bik Lastri langsung menjalankan tugasnya.


Emir langsung menuju kamar tidur yang ditempati Amara. Tanpa mengetuk terlebih dulu -- Emir langsung masuk begitu saja.


Terdengar suara gemericik Air di kamar mandi dalam kamar tersebut. Sepertinya Amara sedang mandi. Padahal jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Terlalu malam untuk mandi dalam kondisi yang tidak berkeringat pikir Emir.


Emir merebahkan tubuhnya diranjang besar itu tanpa canggung. Kakinya masih tergantung menginjak karpet bulu.


"Nyaman sekali ...," gumam Emir memejamkan mata sambil melebarkan kedua tangannya lalu menggesek-gesekkan di atas seprai putih yang terasa lembut.


KRIIET!


Suara pintu kamar mandi terdengar terbuka dan Emir langsung membuka matanya. Terdengar langkah sandal rumah yang semakin nyaring ditelinga, dan tampak lah sosok Amara.


Emir melirik ke arah Amara yang berjalan menuju lemari yang terletak disamping ranjang. Sepertinya perempuan itu tak melihat keberadaan Emir. Jelas saja, Emir masih berbaring disana.


Masih dalam posisi berbaring -- mata Emir kini menangkap penampilan Amara yang hanya melilitkan handuk putih ditubuh wanita itu yang kini tampak lebih sintal.


Emir melihat sekilas belahan dada Amara yang menyembul dibalik lilitan handuknya. Bahkan bagian pangkal paha Amara mengintip dari balik handuk yang terbelah. Dan hal itu membuat Emir menelan air liurnya susah payah.


"Jangan, Amara!" pekik Emir yang langsung terduduk saat melihat gerakan tangan Amara yang hendak melepaskan lilitan handuk pada tubuhnya.


...Bersambung...