
...Posesif...
HUJAN deras siang itu membuat Amara terpaku menatap rintik air dari balik jendela kamar.
Entah mengapa hujan kali ini terasa berbeda. Kehampaan dan kekosongan bukan hanya terasa di rumahnya, namun hatinya pun merasakan itu.
Sedang apa dia? batin Amara mengingat Emir.
Saat ini Amara sedang mengendus aroma mawar putih yang dua hari lalu berada dikamarnya, dia yakin Emir yang menaruhnya.
Ya! Gadis itu sudah kembali dari berlibur bersama kedua sahabatnya dua hari lalu. Sebenarnya dia malas untuk pulang, karena rasa sedih dan penyeselan akan kembali merengkuhnya--Emir tak ada.
Tiba-tiba Amara mengingat kejadian di Vila seminggu yang lalu. Dimana dia menangis histeris akan kepergian Emir. Jarak jauh antara dirinya dan lelaki itu sudah terpatri. Tak mungkin baginya menyusul Emir, apalagi dia tau betul ada Helma bersama lelaki itu. Ah! Amara jadi kesal mengingatnya.
Rasa penyesalan memang selalu datang terlambat. Kini entah apa yang akan gadis itu lakukan pada kesehariannya yang tak ada Emir didekatnya. Lagi-lagi dia menyayangkan dirinya yang tak memberi kesempatan bagi lelaki itu untuk menjelaskan.
Dulu saat Amara sengaja menjauhi Emir, dia tak terlalu khawatir. Karena dia masih bisa melihat lelaki itu di Sekolah, apalagi di Rumah, walau dari jarak yang tak disadari Emir.
Rasa cemburu karena Emir berbagi perhatian pada gadis lain--Helma, membuat Amara gelap mata dan tamak akan perhatian dari lelaki yang sudah belasan tahun bersamanya.
Saat ada perempuan lain yang sudah merebut perhatian Emir dari dirinya, Amara merasa marah dan tak terima. Dia merasa bahwa Emir adalah miliknya yang tak boleh dimiliki orang lain.
Namun kini dia sadar. Bahwa hubungannya dengan Emir bahkan tidak bisa dikatakan spesial. Kebersaamaannya dengan lelaki itu tak lebih karena keluarganya yang membutuhkan keberadaan keluarga Emir. Ya! Amara harus menangani perasaanya sedini mungkin.
"Aku memang parasit!" rutuk Amara pada dirinya. "Aku kesal mengakuinya. Tapi Helma memang benar" gumamya lagi.
Suara ketukan pintu membuat Amara tersadar dari rasa sesalnya.
"Mamah?" ucap Amara saat dia membuka pintu itu.
"Ada yang mau Papa bicarakan. Kita kebawah yuk?" ajak Liana pada putri semata wayangnya.
Amara berjalan dibelakang Liana. Gadis itu menuruni tangga yang berliuk-liuk dengan ornamen kaca putih disepanjang tangga itu.
Dibawah, tepatnya ruang keluarga. Dia melihat orangtua Emir duduk bersama sang Papa.
Tiba-tiba detak jantung Amara semakin cepat, gemetar ditubuhnya pun semakin terasa. Entah mengapa tubuhnya bereaksi seperti itu.
Dahi Amara mengernyit kala melihat raut wajah Fatma yang menatap sendu dirinya dari tempat wanita itu duduk.
"Sini, sayang. Duduk disini" ujar Andar saat melihat Putrinya sudah mendekat.
"Ada apa ini, Pah?" raut wajah gadis itu semakin bingung saat melihat orang-orang dewasa tersenyum penuh arti ke arahnya.
Sejenak ruangan besar itu semakin hening. Lempar tatapan pun terjadi antara Andar dan Liana.
"Ada apa si Pah?" tanya Amara sedikit memaksa sekarang.
Andar menggenggam jemari Putrinya. Kemudian dia berkata dengan hati-hati. "Om Ahmad dan Bunda Fatma akan kembali ke Majalengka" ujar Andar menggunakan panggilan yang biasa diucapkan Putrinya saat memanggil orang tua Emir.
"Hah?!" respon Amara sudah terduga.
...Bersambung...