Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
123| Lutut KW



MELIHAT tubuh bagian bawah Amara yang hampir terekspos -- membuat Emir berkelana dalam imajinasi sesaat.


Pria yang sudah mau menginjak kepala tiga itu tak menyangka jika apa yang barusan dilihatnya -- membuat hasratnya naik seketika.


"Jangan, Amara!" pekik Emir yang langsung terduduk saat melihat gerakan tangan Amara yang hendak melepaskan lilitan handuk pada tubuhnya sendiri.


"Kamu ngapain, Mir!" bentak Amara sesaat setelah pekikan Emir.


Dengan wajah menahan malu, Amara segera berlari menuju kamar mandi dan menutup keras pintunya.


BRAK!!


"Keluar, Mir!" Teriakan Amara dari dalam kamar mandi tak membuat Emir bergerak.


Emir tak menggubris seruan Amara. Bahkan kini pria itu berdiri dari ranjang dan berjalan mendekati lemari pakaian wanita itu.


SREEK!!


Suara pintu lemari yang bergeser membuat Amara kembali memekik, "Mir! Lagi apa kamu?" tanya Amara dari balik pintu kamar mandi.


Amara benar-benar tak habis pikir dengan sikap Emir setelah begitu lama mereka tak bertemu. Perempuan itu masih belum terbiasa dengan kelakuan Emir yang seenaknya. Jika Bunda -- Ibu kandung Emir mengetahui kelakuan putranya -- habislah Emir, Amara yakin itu.


"Pakailah ini" Suara Emir terdengar dari balik pintu kamar mandi. Dan Amara sdikit membuka pintunya, lalu menyembulkan kepalanya dari balik sana.


Saat Amara sudah memegang pakaian yang dibawakan Emir, pria itu sedikit menahannya. "Jangan bercanda, Mir," gerutu Amara langsung menarik pakaian itu dari genggaman tangan Emir.


"Kita kan mau nikah, Amara. Anggap ini latihan," celetuk Emir.


Amara yang berada dialam kamar mandi tak menyahut. Dia sedang memakai pakaian dalam yang Emir pilihkan.


"Dulu kamu juga sering masuk kamarku tanpa mengetuk," keluh Emir dengan entengnya.


Pria itu masih bersandar didekat pintu kamar mandi.


"Ya ampun, Mir. Kamu balas dendam?" sahut Amara yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Emir langsung menatap ke arah Amara yang berjalan melewatinya sambil mengeringkan rambut menggunakan handuk kecil.


Amara benar-benar terlihat dewasa saat mengenakan piyama tanpa lengan berbahan satin dengan potongan sebetis dan juga renda-renda pada bagian depan yang menghiasinya.


Emir gemas sekali melihat tampilan Amara dengan pakaian tidur seperti itu, ditambah wajah perempuan itu yang bersungut-sungut kesal sambil berjalan ke arah meja riasnya.


"Balas dendam apanya?! Aku cuma lihat sedikit," Emir berkata dengan entengnya sambil mengambil alih handuk kecil ditangan Amara dan membantu mengeringkan rambut basah wanita itu.


"Mir ...," lirih Amara menatapa Emir dalam pantulan cermin. Emir langsung menghentikan gerakannya mengeringkan rambut wanita itu dan balas menatap mata Amara dari cermin.


"Ada yang ingin kamu katakan?" tanya Emir dengan lembut saat Amara diam saja.


"Kalau kita menikah ... aku khawatir karirmu di Izekai akan bermasalah" ucap Amara.


Emir tak menyangka bahwa Amara malah mengkhawatirkan karirnya di Izekai. Emir memang sangat menyukai pekerjaannya, terlebih Izekai adalah perusahaan yang dia rintis dengan susah payah sampai mengorbankan waktu dan uang yang tak sedikit.


Kekhawatiran yang Amara pikirkan memang bisa saja terjadi. Namun, Emir bukanlah orang yang mudah terintimidasi, dia adalah ahli strategi untuk hal-hal yang berkaitan dengan bisnis.


Emir berpindah kehadapan Amara, lalu dia bertumpu dengan kedua lututnya. "Kalau aku jatuh miskin dan nggak punya apa pun, kamu masih mau menampungku di Rumah ini?" tanya Emir dengan tatapan sendu.


"Tentu!" Amara mengangguk cepat. "Aku akan kembali bekerja di Le Park City. Kurasa gaji sebulan disana cukup untuk makan kita bertiga. Lalu rumah ini kita jual saja. Dan kita pindah ke rumahku di Cimande. Uang hasil jual rumah ini bisa untuk buka usaha reparasi. Kamu kan ahli dalam hal itu" Amara berkata dengan wajah semringah penuh keyakinan. Dan hal itu membuat Emir gemas -- mencubit hidung Amara.


Apa yang Amara katakan adalah keinginannya saat ini. Menurutnya, hidup cukup untuk makan tiga kali sehari dan memenuhi kebutuhan anaknya dengan penghasilan seadanya tidaklah buruk. Bagi Amara, semakin sederhana hidupnya, semakin kecil resikonya, terutama resiko dari banyak perhatian orang yang berjenis seperti Helma dan Andre contohnya.


"Kamu memang nggak terduga, Tweety," tukas Emir sambil mengelus pipi Amara. "Aku nggak nyangka kamu punya pandangan hidup sesederhana itu. Padahal saat kita masih sekolah, kamu paling anti beli barang imitasi. Harus asli dan kalau perlu, custom," ungkit Emir.


Sejak SD, Amara sangat tergila-gila dengan tokoh animasi yang bernama Tweety -- burung berwarna kuning dengan tubuh kecil seperti itik ayam yang punya bulu mata lentik yang sering tayang di stasiun TV TNT Cartoon Network. Dan semua barang-barang miliknya seperti; tas, jam tangan, selimut, sweater, bahkan sampai koper milik wanita itu dipesan khusus dengan gambar tokoh burung pintar tersebut.


Emir masih tidak percaya, bahwa gadis kecil yang dulu selalu meminta barang-barang khusus seperti itu kini mengajaknya hidup sederhana.


Pemikiran yang diungkapkan Amara memang pernah terlintas dibenak Emir -- tapi itu dulu, saat dirinya sudah putus asa tak bisa menemukan Amara. Namun, kini pemikiran itu dia buang jauh-jauh. Bagi Emir, memberikan kehidupan yang lebih dari sekedar kata layak untuk Amara adalah kepuasan batinnya. Terlebih selama sepuluh tahun belakangan ini perempuan itu sudah hidup sulit dan sangat menderita. Jelas Emir tak bisa mengikuti pemikiran Amara.


Emir hanya berkaca pada kehidupan masa kecilnya -- saat ayah dari Amara begitu mudah memberikan Emir apa pun tanpa diminta, dan Emir tak pernah lagi merasakan hidup susah seperti saat sebelum mereka mengenal keluarga Amara. Dan tentu saja saat dirinya sudah mampu membalas semua kebaikan-kebaikan itu, tak ada salahnya bagi Emir untuk memanjakan Amara -- putri semata wayang dari orang yang sudah memanjakan Emir dulu. Terlebih Emir sudah mengikat hatinya untuk perempuan itu sedari dulu.


"Semua orang bisa berubah, Mir. Termasuk Aku. Dan Aku sudah terlatih hidup seperti itu. Bahkan memakai jam KW 10 pun tak masalah sekarang. Yang terpenting bisa menyala," sahut Amara dengan gamblangnya.


Emir yang sejak tadi berdiri diatas lututnya dan sejajar dengan Amara -- mencium gemas pipi wanita dihadapannya.


"Membeli barang asli lebih terjamin kualitasnya, Tweety. Lagi pula kalau kamu membeli barang palsu, sama saja kamu mendukung pembajakan," terang Emir yang masih merasa gemas pada perempuan yang kini sedang memasang wajah terperangah.


"Tidur sekarang, yuk," tukas Emir, kemudian pria itu bangkit berdiri. Namun, sedetik kemudian ...


"Adu-duh!"


"Kenapa, Mir?!" Amara langsung cemas saat melihat Emir yang tiba-tiba meringis terjungkang duduk dilantai.


"Lututku ngilu," keluh Emir yang masih meringis menahan sakit.


...Bersambung...