Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
Bahagia Menutup Luka



RUMAH besar milik Amara yang ada dikawasan Pondok Indah terlihat begitu Megah hari ini. Bahkan halaman depan rumah itu sudah disulap seperti layaknya Ballroom pernikahan. Tim wedding Kordinator yang diusulkan oleh Sandrina memang luar biasa.


Berpindah ke lantai dua dimana kamar Amara saat wanita itu masih belia--terlihat beberapa penata rias sedang sibuk dengan masing-masing tugasnya.


"Bikin matanya mencolok ya, Wi. Sahabatku ini udah punya mata cantik kaya mata Rusa. Jangan pake bulu mata aneh-aneh!" Sedari tadi Sandrina tak ada habis-habisnya memerintah.


"Ya ampun, Ms. Sandy nggak percayaan banget deh sama tangan ajaib aku," ujar Dewi menyebut nama akrab Sandrina dikalangan Selebriti. "Jangan panggil aku MUA Dewi Fortuna kalau Adik cantik ini nggak berubah kaya Princes Disney," katanya lagi terdengar jumawa.


Sudah dua minggu ini, Amara berubah menjadi penurut. Dibawah pengawasan sahabatnya itu, Amara benar-benar dimanjakan. Wanita yang hari ini akan menjadi pusat perhatian itu hanya mengatur rasa gugupnya saja agar tak membuat kesalahan.


"Mommy! Lihat! Itu Yeden sama Papanya sudah datang!" seru Rossy pada Melani. Gadis kecil itu memekik antusias dari balkon kamar Amara yang memang menghadap halaman depan.


Iring-iringan pengantin pria sudah memenuhi tempat pesta diadakan. Lebih dari 7 mobil dengan berbagai tipe sudah memenuhi luar pagar kompleks mewah itu.


Saat Amara datang kerumah itu sehari yang lalu, dia tidak mendapati orangtua Emir. Kata Bik Lastri--ART dirumahnya itu--orangtua Emir tinggal di Apartemen Emir bersama Aidan dari beberapa hari yang lalu.


Oh, mengenai Aidan. Anak itu ternyata lebih memilih bersama 'Papanya', karena menurutnya--bisa ikut memilih apa-apa saja untuk keperluan Mamanya nanti. Padahal, alasan sesungguhnya adalah ingin bebas jalan-jalan keluar. Secara jika bersama Mamanya, Aidan akan mati bosan karena nanti mau tidak mau harus ikut di pingit.


Amara mengehela nafas pelan sambil menenangkan jantungnya yang berdegub kencang saat mengetahui keluarga calon suaminya sudah berada di di Kediamannya.


Sedangkan Sandrina dan Melani selalu setia bersama wanita itu.


"Rileks ...," bisik Melani saat melihat wajah Amara yang kentara sekali tegangnya.


Melani datang dari Australia bersama suami dan anaknya kemarin. Momen ini begitu berharga bagi wanita yang juga berprofesi sebagai Psikiater yang menangani Amara beberapa tahun belakangan ini. Dan sejak kedatangan Emir, menurut pengamatan Melani, sahabatnya itu semakin memiliki kemajuan dalam pengendalian emosional dan rasa kepercayaan diri yang mulai tumbuh.


"Lelaki yang akan bahagiakan kamu sudah datang. Ini waktunya buat kamu menyambut dia," kembali Melani membisikan kalimat-kalimat yang membuat Amara yakin bahwa sekarang adalah waktunya.


"Mom, aku mau sama Papi buat sambut Yeden sama Papa Emir ya?!" kata Rossy pada Melani. Setelah mendapat anggukan dari sang Mama, anak itu pun segera keluar kamar.


Dari kamar yang Amara tempati, terdengar musik pengiring dari alat tradisional untuk menyambut kedatangan pengantin Pria.


Suara MC yang begitu jenaka mencairkan suasana yang sempat tegang. Bahkan Amara tersenyum simpul saat ikut menyaksikan dari layar datar yang dipasang dikamarnya dimana memperlihatkan semua prosesi penyambutan itu.


Dari layar itu, Emir terlihat gagah menggunakan pakaian pengantin khas Sunda berwarna putih tulang--serupa dengan apa yang Amara kenakan sekarang.


Dengan digandeng kedua orangtuanya, pria bernama lengkap Emir Hamzah putra semata wayang dari Ahmad dan Fatma itu tak henti-hentinya menebar senyum.


"Duuh! Ganteng banget calon suaminya. Kaya orang Arab" celetuk Dewi sang penata rias yang diangguki oleh para Asistennya. Tak terkecuali Amara yang memuji dalam hati.


Sesaat setelahnya, tibalah di momen terpenting yaitu akad nikah. Dalam layar itu memperlihatkan Emir yang sudah bergabung dengan beberapa saksi dan juga penghulu. Dia terlihat duduk didepan sosok Fahri yang hari ini akan menjadi wali nikah dari calon istrinya.


Seandainya kedua orangtua Amara masih hidup, pastilah mereka akan tersenyum bahagia melebihi Keluarga besar orangtuanya yang juga hadir disana.


"Kakang Emir," Suara berat penghulu yang sepertinya seusia ayah Emir itu berbicara. "Salah alamat nggak nih?" tanyanya jenaka pada Emir yang sudah duduk didepan meja ijab.


Emir terlihat bingung ingin menjawab apa. Sehingga hanya senyum saja untuk menutupi rasa tegangnya. Padahal jauh-jauh hari dia sangat yakin tak akan segemetar ini.


"Siapa nama calon istrinya?" tanya penghulu itu lagi.


"Amara Salim" sahut Emir dengan lantang.


"Alhamdulillah! Berarti nggak salah alamat," Lagi-lagi penghulu itu berkata jenaka. "Nah, kalau yang duduk disebelah saya siapa?" Penghulu itu menunjuk Fahri yang kini ikut tersenyum.


"Om dari Amara, Pak," beritahu Emir.


"Amara?" tanya penghulu itu membuat keringat Emir mengucur deras di punggung lebarnya. "Siapa, Amara itu, Kang?" tanya penguhulu itu lagi yang membuat Emir gemas.


Mungkin Emir berpikir, pertanyaan dari penghulu itu lebih sulit dari pada saat dia melakukan presentasi didepan para calon investornya.


"Calon Istri saya!" tegas Emir dengan lantang. Tak akan terkecoh dengan permainan kata, pikir Emir. Padahal dia sudah gemas bercampur tegang. Telapak tangannya bahkan menjadi dingin.


"Alhamdulilah. Jangan sampai salah sebut nama ya, Kang!" tukas penguhulu itu mengulum senyum. "Minum dulu Kang Emir. Biar tenggorokan lancar saat ijab. Silahkan!" Titah lelaki paruh baya itu membuat Emir langsung meneguk segelas air dihadapannya sampai tandas setelah membatinkan doa.


Setelah melihat kesiapan sang calon pengantin Pria, penghulu bernama Teguh itu pun mulai menginstruksikan Fahri selaku wali nikah Amara untuk mempersiapkan diri.


Fahri terlihat menjulurkan tangannya kehadapan Emir yang dengan sigap menyambut untuk menjabatnya. Bagi Emir jabatan tangan ini lebih menegangkan sekaligus lebih berharga dari transaksi bisnis apapun yang pernah dia lakukan. Hari ini dia akan mengesahkan seorang wanita untuk menjadi istrinya dalam serangkaian kalimat yang sudah dia hafal diluar kepala.


“Saudara Emir Hamzah bin Ahmad Akbar. Saya nikahkan dan saya kawinkan Engkau dengan keponakan saya Amara Salim binti Andar Salim dengan mas kawin berupa perhiasan sebesar 23 gram emas dibayar tunai!”


"SAYA TERIMA NIKAH DAN KAWINNYA AMARA SALIM BINTI ANDAR SALIM DENGAN MASKAWIN TERSEBUT DIBAYAR TUNAI!"


Dengan sekali tarikan nafas, Emir mengucapkan kalimat itu dengan begitu lantang. Dengan selesainya ijab qobul ini, maka status Emir sudah sah menjadi Suami dari pujaan hatinya itu.


Amara yang menyaksikan itu dari layar datar dikamarnya begitu terharu. Hampir tak percaya bahwa kini dia sudah sah menjadi Istri dari seorang pria luar biasa.


"Ayo, Ra. Waktunya turun temui Kakang Emir," goda Melani dengan kekehan.


Amara pun bangkit dari duduknya ditemani Melani dan satu asisten penata rias. Namun, sebelum keluar kamar, Amara sempat menoleh dengan tatapan sendu ke arah Sandrina yang masih duduk di pinggiran ranjang.


"Temui Kang Emir, sana. Aku menyusul," goda Sandrina dengan suara yang tercekat.


Setelah kepergian Amara. Sandrina meneteskan Air mata. Dia begitu sedih dengan kondisinya yang tak bisa berjalan dengan baik akibat pergelangan kakinya yang patah. Padahal momen mengantar Amara adalah hal yang sangat diinginkannya. Akan tetapi dia tidak mau atensi tamu yang hadir beralih pada kondisinya yang kini terlihat menyedihkan.


...Bersambung...