
...Kotak Pandora...
AMARA memandangi koper kecil miliknya yang diselimuti debu. Maklum saja, koper itu baru dikeluarkan dari kolong ranjang usang miliknya setelah bertahun-tahun lamanya.
Koper itu dia dapatkan dulu sekali, saat akan berlibur bersama kedua sahabtanya setelah kelulusannya di bangku SMA.
Bahan koper yang terbuat dari plastik kokoh itu sangat mudah dibersihkan, bahkan kini terlihat kembali bersih seperti baru. Gambar burung tweety si berkepala besar itu kini terlihat cerah karena warna kuning yang mendominasi--warna kesukaanya.
Saat dia buka koper itu, tak disangka, isi didalamnya masih bagus, tentu saja, mengingat berapa harga koper impor yang dihadiahkan Almarhum Papa nya dulu.
Mengingat penuturan Edo tempo hari, dia akan tinggal di tempat itu dari hari Senin sampai hari jumat, jadi di hari liburnya--sabtu dan minggu, wanita itu bisa pulang ke rumah ini--walau kecil dan kumuh, tapi itu adalah rumah miliknya.
Senyaman-nyamannya rumah orang, tetap nyaman rumah sendiri bukan? Walau kecil.
Dia mulai memasukkan; beberpa bajunya, perlengkapan mandi, juga perlengkapan mencuci--karena rumah itu berada di kawasan pribadi, sudah pasti tak akan ada warung tetangga untuk membeli sabun cuci dan pengharum pakaian, kan? Jadi Amara tetap membawanya. Ah ... dan tak lupa dia membawa make up seadanya--pelembab wajah, lotion dan lip balm.
Saatnya jam menunjukkan pukul 10 pagi, tandanya Amara harus pergi, karena orang suruhan Edo akan menjemputnya.
Setelah memastikan rumahnya terkunci rapat, Amara mulai menderek koper itu menuju jalan raya, maklum saja, rumah tempat ia tinggal berada di dalam gang paling ujung.
Motor saja sulit masuk, apalagi mobil. Jadi Amara memberitahu Edo untuk menjemputnya di pinggir jalan tepat didepan gapura kayu yang bertuliskan nama tempat wanita itu tinggal--Kampung Cimande, agar memudahkan penjemputan.
Setelah 10 menit menunggu, akhirnya sebuah sedan BMW berhenti didepan Amara yang sedang berdiri.
Sang Supir terlebih dahulu memastikan wanita itu adalah orang yang akan dia jemput.
Lain halnya dengan Amara yang sudah menghapal plat mobil jemputan yang diberitahukan Edo melalui pesan singkat kemarin malam.
"Hanya segini barang bawaanya?" Tanya lelaki yang usianya hampir di pertengan abad. Amara pun mengangguk dan menurut saat Pria itu menaruh tas nya di bagasi mobil.
"Saya duduk di depan saja, Pak, Bolehkan?"
Pria itu pun tak bisa memaksa, dan mengangguk untuk mengiyakan.
Bukan tanpa sebab wanita itu memilih duduk di depan. Sebab dia punya kenangan buruk yang membuat trauma untuk duduk di kursi penumpang--apalagi saat sendirian.
Mobil mewah itu melintasi jalan raya yang tak terlalu padat, saat akan memasuki wilayah yang dituju, Amara merasa familiar.
Dia memperhatikan gardu utama yang tengah dijaga beberapa Satpam.
Semakin masuk ke area perumahan, wanita itu terperangah, tiba-tiba jantungnya berderu kencang.
Pria yang tengah membawa pelan laju mobil itu memperhatikan gerak gerik Amara. "Rumahnya mewah-mewah ya, Mbak?" tanya pria itu yang sempat melihat reaksi Amara.
"Baru pertama kali lihat ya?" ujarnya lagi, saat melihat Amara bergeming.
Jika Supir itu tau bahwa Amara pernah tinggal di Perumahan mewah ini, pastilah dia yang akan menganga tak percaya.
Reaksi Amara bukanlah karena norak atau kagum melihat deretan Rumah-rumah megah nan mewah itu.
Tapi tempat itu seperti sebuah kotak pandora baginya, seolah semua kenangan pada kehidupannya di masa lalu keluar secara perlahan untuk memenuhi parasaannya yang semakin sesak.
Jantung Amara semakin menderu kencang saat mobil yang ditumpanginya berhenti persis di depan rumah yang pernah menjadi Istananya.
...Bersambung...