
PINTU lift terbuka, dan pria yang bersama Emir tadi membawanya ke sebuah kamar Vip, dimana ada sosok pria paruh baya yang tengah berbicara serius dengan beberapa pria -- yang mengenakan kemeja hitam serupa dengan pakaian yang dikenakan pria yang tadi membawa Emir.
"Permisi, Pak Panca," ujar pria yang membawa Emir tadi, pada sosok pria paruh baya itu.
Seketika pria bernama Panca itu menoleh, dan dia mengangguk memberi perintah untuk masuk.
Emir seperti mengenal pria yang bernama Panca itu. Dia pernah melihatnya tapi, dimana? Emir masih mencoba mengingat.
"Saya Ayah dari Sandrina," jelas pria itu pada akhirnya sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
Ah. Benar, Emir baru ingat. Dia dulu pernah melihat wajah Panca terbingkai di dinding rumah Sandrina, saat dulu Emir menemani Amara bermain di rumah perempuan itu sejak mereka masih SMP.
"Saya, Emir. Wali dari Amara dan juga teman sekolah putri Anda sejak kami di SMP," ungkap Emir membalas jabatan tangan pria didepannya.
Panca nampak terkejut, dan itu terlihat dari raut wajahnya. Namun, bukan saatnya untuk mencari lebih dalam siapa pria muda dihadapannya saat ini.
"Apa kau sudah memberitahu keluarga Amara?" tanya Panca pada Emir.
Emir sedikit mengernyitkan dahinya. Mungkin Panca tidak tahu jika Amara sudah tak memiliki orangtua.
"Fahri Salim. Om Amara yang berada di Jakarta. Kau sudah mengabarinya?" terang Panca.
Ya Tuhan. Benar kan jika otak Emir sedang terpecah. Pria yang sore ini terlihat acak-acakkan itu lupa jika ada kerabat dekat Amara yang tinggal di satu Kota.
Panca mengetahui kerabat dekat Amara yang bernama Fahri. Artinya pria paruh baya yang menjadi Ayah Sandrina memang mengenal dekat keluarga Amara, kan? Kenapa Emir baru tahu hal ini. Padahal dia tinggal bersama Amara sudah puluhan tahun.
"Saya harus memastikan kondisi Amara dulu, Pak. Setelah itu saya baru bisa mengabari dengan berita yang akurat," kilah Emir yang memang sedang mencari kebenarannya terlebih dahulu.
Panca terlihat mengangguk. "Mari kita ke ruangan Amara," ajak Panca berjalan keluar dari ruangan tersebut. Dan Emir mengikutinya.
"Saya langsung memindahkannya keruangan khusus agar mendapat perawatan intensif. Amara sudah saya anggap seperti anak sendiri. Sandrina sangat menyayanginya," ujar Panca sambil berjalan.
Emir mengangguk setuju dengan apa yang Panca beberkan. "Kadang saya cemburu pada Sandrina. Karena dia lebih tau tentang Amara," aku Emir yang membuat Panca sedikit tersenyum.
"Tapi saya baru mengetahui kamu, Sandrina tidak pernah cerita jika dia memiliki teman bernama 'Emir'," kata Panca.
Terang saja. Sandrina sangat tidak suka dengan keberadaan Emir selama ini. Mungkin wanita itu pun tak pernah memganggap seorang 'Emir' ada.
"Benarkah? Saya jadi penasaran kenapa," tukas Panca. "Jadi apa hubunganmu dengan Amara?" tanya Panca lagi.
"Saya calon suaminya," terang Emir. Panca menghentikan langkahnya. Tepat didepan pintu rawat Vip dimana Amara berbaring.
"Ah. Jadi kamu pria itu. Beruntung Amara memiliki pendamping sepertimu," kata Panca yang seolah tau jika Amara akan menikah.
"Sebenarnya saya yang jauh lebih beruntung mendapatkan perhatian calon istri saya, Pak," ucap Emir lirih.
Panca tersenyum saat mendengar ucapan Emir.
"Semoga Amara segera siuman saat mengetahui calon suaminya datang," ucap Panca tulus. Lalu pria itu membuka engsel pintu ruangan VIP yang terasa dingin.
Aroma rumah sakit begitu menyeruak. Alat monitoring terdengar memenuhi ruangan besar itu.
Emir melepas begitu saja koper miliknya hingga tergeletak dilantai saat melihat Amara terbaring di atas ranjang rumah sakit dengan banyak selang tertancap di tubuhnya.
"Amara," lirih Emir meraih kening Amara. Lalu mengecupnya. "Maaf, Sayang. Maafkan Aku," racau Emir.
Wajah Amara terlihat lebam berwarna merah keunguan. Bahkan kaki dan tangan bagian kanan wanita itu terbebat perban dengan ketatnya.
Emir terlihat begitu menyesal meninggalkan Amara sendiri. Selalu saja seperti ini tiap kali pria itu meninggalkan Amara. Wanita yang dia cintai selalu terkena musibah.
Panca yang melihat reaksi Emir yang berurai air mata hanya bisa menatap iba. Apalagi setelah tau bahwa pria muda itu yang akan menikahi wanita yang kini tengah tak sadarkan diri.
Panca memang pernah mendengar cerita dari putrinya--Sandrina, saat mengatakan bahwa sahabat putrinya yang bernama Amara memiliki seorang pria yang mencintai wanita itu sedari mereka kecil. Dan Panca baru tahu jika sosok pria itu bernama Emir.
'Kau beruntung, Andar. Ada yang menyayangi putri mu sebesar kau menyayanginya' batin Panca yang ikut terbawa suasana.
"Aidan,"
Ucapan Emir membuat Panca menatapnya.
"Dimana anak kecil itu?" tanya Emir.
...Bersambung...