Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
27| Jaga jarak



...Jaga Jarak...


SUDAH lewat beberapa hari pasca Amara dilarikan ke Rumah sakit. Kini gadis itu sudah kembali aktiv bersekolah. Hal itu terpaksa dia lakukan, walaupun sebenarnya dia teramat sangat malas.


Padahal gadis itu sempat meminta Papa nya untuk minta pindah kelas bersama Sandrina, Namun Andar tak menggubrisnya, disebabkan alasan kenaikan kelas yang sebentar lagi.


Hari ini Amara diantar Sang Papa ke sekolah dan juga ayah Emir yang membawa mobilnya--tanpa Emir tentunya.


Alasan gadis itu enggan berangkat bersama Emir dan sang Ninja, karena dia tidak ingin berangin-anginan karena baru pulih. Ya! sementara itu lah alibi yang dipakai Amara saat semua orang bertanya padanya kenapa tak berangkat bersama lelaki itu. Bahkan Amara mulai benci menyebut namaya--Emir.


Di dalam kelas terdengar begitu riuh, beberapa terdengar sedang membicarakan Amara yang secara tiba-tiba membatalkan acara ulang tahunnya yang ke 17 itu.


Gadis itu masih berdiri di samping pintu kelas--terdiam dan mencoba mendengarkan gosip yang begitu riuh terdengar.


Perlahan Amara masuk kedalam kelas yang sudah berhari-hari tak diinjaknya, dan sekejap hening.


Gadis itu masuk dan berjalan santai seolah tak terjadi apapun dan melupakan semua penggosip yang membicarakannya.


Dari arah depan dekat jendela ada Emir yang sedang duduk sembari menatap Amara tanpa berkedip. Ada rasa sakit dihati Emir saat Amara bersikap seperti itu.


Selama mata pelajaran berlangsung, Amara tidak bisa fokus. Hatinya terasa sakit--masih terbayang dengan apa yang dikatakan Sandrina.


Emir boncengin Helma di Motornya!


Ucapan Sandrina memang terdengar provokativ, tapi itulah yang sebenarnya terjadi, ternyata Emir lebih memilih menemani Helma ketimbang menepati janjinya bersama Amara, dan hal itu yang membuat Amara sakit hati. Apalagi motor Ninja itu adalah ... Ah! Sudahlah. Amara makin benci mengingatnya.


Emir sempat menoleh ke belakang, dimana Amara duduk.


Saat kelas mulai kosong dan hanya ada mereka berdua, barulah Emir berjalan mendekat ke arah Amara.


Lelaki itu mengambil duduk tepat didepan meja Amara. "Kamu ... udah pulih?" tanya Emir terdengar ragu.


Sudah beberapa hari setelah kepulangan gadis itu dari Puncak bersama Mama dan Papa nya, Emir belum bertegur sapa dengan gadis itu. Emir rindu namun lidahnya kelu.


"Wajah kamu masih pucat. Mau aku belikan makanan di Kantin?" tanya Emir lagi. Namun gadis itu masih asik bermain dengan ponselnya.


Emir bangkit dari duduknya, lalu dia berkata, "Aku akan ambilkan makan siang buat kamu"


"Nggak perlu!" pekik Amara.


Dan hal itu membuat Emir terdiam sambil menatap dalam ke wajah Amara yang terlihat kesal.


"Mulai hari ini, kamu harus jaga jarak! Dan nggak usah sok akrab. Aku nggak suka mereka mengolok-olok aku yang ada hubungan khusus diantara kamu dan aku!" Pekik Amara. "Kalo mereka tau kenyataan bahwa aku adalah majikan kamu, pasti mereka nggak akan berani bicara hal yang seperti sampah ke arah ku! Ingat itu baik-baik!"


Setelah mengucapkan itu, Amara berdiri dan berjalan mendekati Emir. "Dan ingat! Keberadaan kamu di rumah ku hanya sebatas majikan dan pesuruh!" desisnya. Kemudian gadis itu dengan sengaja menyikut pinggang Emir sampai lelaki itu sedikit terhuyung.


Dan dari balik pintu, ternyata ada seseorang yang sedari tadi menyimak ucapan Amara kepada Emir.


...Bersambung...