PLEASE, LOVING ME

PLEASE, LOVING ME
TERHARU



Hello man teman.


Jangan lupa di like, komen dan vote ya.


Terima kasih 🌹☺️


^


FLASHBACK ON


Setelah Kendra mandi, mereka bersiap untuk tidur.


Kendra yang seharian harus bergulat dengan segala aktifitasnya diluar, ingin rasanya dia beristirahat.


Begitu pun Dera yang kini hatinya sedang begitu lelah.


Dera masih kepikiran tentang seisi kamar itu.


Dengan hatinya yang masih kacau tapi terpaksa harus di tahan dan pura-pura tersenyum di depan suaminya.


Sedangkan Kendra yang menatap wajah Dera yang begitu teduh, yang membuatnya tenang jika tidur bersama istrinya dan melupakan segala hal yang memberatkan pikirannya.


Hampir satu jam Kendra menatap wajah cantik itu.


Pikirannya menelisik jauh. Banyak memori yang berputar di otaknya tentang Lidia.


Jam menunjukkan pukul 00.00


Dera masih belum bisa tidur. Dia hanya menyelimuti tubuhnya dan menyembunyikan separuh wajahnya dengan selimut.



Tiba-tiba semuanya berputar begitu saja.


Lalu Kendra mengecup dengan sayang wajah cantik itu.


Seolah mengalir saja, dia pun menceritakan segalanya pada Dera.


“Aku dulu memiliki kekasih yang sangat cantik sekali. Dia Namanya Lidia. Dia hampir seperti dirimu. Hanya saja Lidia itu manja padaku. Tidak seperti dirimu yang mampu melakukannya sendiri dengan mandiri. Kami menjalin hubungan selama 4 tahun. Awalnya semua baik-baik saja. Lidia menerima ku, keluarga ku dan keluarganya begitu baik dan mendukung hubungan kami. Dan kami sangat menyayangi. Tapi itu semua hancur seketika, ketika dia bilang padaku jika sudah muak denganku dan Lidia memilih untuk bersama pria lain, yang tak lain adalah Bagas, mantanmu Dera. Dan syangnya dia juga diperalat oleh keluarganya untuk menghancurkan bisnis keluargaku hingga mengalami kerugian yang sangat besar. Sebenarnya kami sudah merencakanakan pernikahan, namun itu semua hancur.


Lidia memilih pergi dari kehiduanku. Dan aku tidak mau egois dengan hal itu. Aku melepaskannya meskipun hati ini teraasa berat. Namun dengan berjalannya waktu, tak ada angin tak ada hujan. Lidia kemudian kembali padaku dan aku pun menerimanya. Apa kamu tau? Di hari pernikahan kita sebenarnya adalah tanggal dimana kita berdua impikan sebelumnya. Tanggal cantik dan di dambakan oleh semua orang karena angkanya yang cantik. Dan apakah kamu tau? Sebelum akad terjadi dengan kita? Aku masih berhubungan dengan Lidia. Kami masih menjalin kasih hingga tepat di tiga bulan tepat kita menikah. Aku memutuskaan hubungan dengannya karena dia ketahuan bermain belakang lagi bersama Bagas.”


“Maafkan aku, maaf. Untuk saat ini aku masih berusaha melepaskan Lidia. Tidak bisa melupakan Lidia begitu saja. Jadi aku mohon tunggu aku jangan pergi”


"Aku ingin melihat malaikat kecilku tubuh bersama kita sampai tua nanti. Aku ingin kita terus bahagia seperti ini sayang" tuturnya dengan lembut.


Di genggamya tangan mungil itu. Dan di usap kening Dera.


“Untuk sekarang aku akan egois,. Aku tidak akan pernah melepaskanmu. Sekalipun kamu memintanya jika suatu saat nanti kamu mengetahui sebuah kenyataan tentang masa lalu ku yang lain. Aku tidak akan pernah melepaskanmu. Kamu milikku. Hanya milikku. Selamanya akan tetap begitu” kata Kendra sambil menggenggam erat tangan mungil itu.


Lalu di kecupnya tangan dan mengelus perut Dera yang mulai menonjol kehamilannya.


“Selamat tidur sayang. Selamat tidur juga baby nya Papa. Sehat-sehat ya disini. Jangan buat Mama mu kerepotan ya nak. Dan satu lagi, semoga kamu jadi anak yang bisa Papa banggakan suatu hari nanti” Kendra mengucapkannya pada Dera dan membisikkan kata itu di perut Dera yang seakan bicara dengan calon sang anak.


Air mata pun mengalir lagi. Dia tersentuh. Sedih sekaligus bahagia, campur menjadi satu.


Dera hanya diam berpura-pura memejamkan matanya ketika mendengar nama Lidia yang keluar dari bibir Kendra.


Dera memilih diam mendengarkan semua cerita Kendra. Hatinya teriris pilu dan sesak mendengar cerita suaminya. Mendengar kenyataan dan fakta yang sangat menyakitkan.


Jadi hari pernikahannya itu sebenarnya adalah hari yang di idamkan oleh Kendra dan Lidia? Bukan denganku?.


Luka hati semenjak di tinggal Ayah saja belum kering. Di tambah kenyataan yang harus ku ketahui.


Dan sekarang apa ini? Sebuah goresan yang sangat dalam bagai tombak yang kau tancapkan di hatiku.


Kenyataan yang tak pernah ku harapkan sama sekali mas.


Buliran kristal menetes membasahi kedua matanya.


Tanpa isakan yang keluar dari bibirnya. Dera mati-matian menahan isakan yang akan keluar dari bibirnya yang mungil itu.


Dera lantas mengelus perutnya yang mulai membuncit. Ada seorang makhluk Allah yang berada disana yang harus dia jaga.


FLASHBACK OFF


Tubuh Kendra mematung mendengarnya. Bukan namanya yang dipanggil tapi orang tuanya tapi orang tua Dera.


“ini aku sayang, Kendra. Nanti kalau kangen sama Ayah kita ke makam ayah ya..Setelahnya kita ke rumah Bunda" di kecupnya tangan mungil itu dengan sayang dan di genggam erat jemari Dera.


Dera mendengar suara suaminya langsung terdiam dan memandang wajah tampan dan memandang wajah tampan yang kemarin telah menyakiti hatinya secara tidak langsung.


Namun kata-kata yang diucapkan semalam langsung berputar di otaknya. Lidia dan Lidia. Masih teringat jelas di ingatannya.


Belum lagi kamar yang berisikan semua kenangan Kendra bersama Lidia.


Dera sebisa mungkin menegakkan tubuhnya dan melepaskan genggaman tangan Kendra di tangannya.


Kendra yang melihat perubahan sikap istrinya yang seperti tidak biasanya membuatnya merasa aneh.


Ada apa ini? mengapa dia bersikap aneh? padahal semalam aku tak melakukan kesalah apapun, begitu juga kemarin. Lantas mengapa sikapnya berubah seperti ini? Sebisa mungkin Kendra sabar menghadapi istrinya. Dipikirnya pula "Mungkin pengaruh hormon kehamilan saja"


Lantas Kendra mencoba sekali lagi untuk menggenggam tangan mungil itu. Tapi tepisan kasar langsung di terimanya.


Hal itu sukses memancing Dera.


“Jangan menyentuhku” tuturnya dengan amarah yang terpancar di wajahnya. Tidak terpengaruh dengan tatapan tajam Kendra yang sepertinya akan memakannya hidup-hidup.


Pasalnya baru kali pertama Dera melihat suaminya marah bahkan dengan tatapan seperti itu. Hubungan yang terjalin selama ini pun juga baik-baik saja.


“Kenapa aku tidak boleh menyentuhmu? Aku suamimu.. jadi aku berhak menyentuhmu kapan pun. Apa kamu lupa di sini ada baby kecil kita sayang. Kamu kenapa?” tanya Kendra yang berusaha menahan amarahnya.


Kendra yang mengatakan perkataan itu langsung mendapat senyum remeh dari istrinya.


“Suami ku? kamu? Suami ku? ayah dari anak ini? Haha lucu sekali” jawaban Dera tanpa takut. Meskipun hatinya masih terasa sakit akibat kenyataan kemarin yang seakan seperti bom yang telah meledak hampir di waktu yang bersamaan.