
Hello guys, jangan lupa mampir ke novel HELLO, DOSEN KUTUBKU ya.
Tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan follow. Terima kasih. Enjoyyyy.
__________
Dera yang berada di rumah pun mendapat kabar dari Kendra bahwa temannya tersebut baru saja diculik oleh seorang pria yang tak lain adalah Gerald dan kini berhasil di selamatkan. Dia memutuskan untuk menelpon Mira karena Dera pun tak bisa keluar rumah.
Sebuah nama di ketikkan di ponselnya. Dia berharap Mira tak apa-apa karena ini berhubungan dengan mantan.
“Miraaa, alhamdulillah akhirnya kamu angkat. Gimana? Kamu gak apa-apa kan? Gimana ada yang lecet gak? Tadi Sekretaris Rey nyelametin kamu apa gak? Apa justru orang lain?” tanya Dera yang seketika membuat Mira tertawa terbahak-bahak disebrang sana.
“Eh tuan putri kalo nanya itu satu-satu. Jangan renteng-renteng gitu” ucap Mira.
“Iya, tadi aku hampir diculik sama Gerald. Untung saja Rey menyelamatkan di waktu yang tepat Der. Gerald sekarang ingin kembali lagi dihidupku. Kamu tau sendirikan? Perjuanganku dan dia selama pacaran? sangat berat dan kamu pun sangat paham tentang kisahku Der” Dera pun mendengarkan dengan seksama cerita Mira.
“Aku gak mau kembali padanya. Cepat atau lambat hubungan ku dan Rey akan segera di resmikan Der. Doakan saja ya hubungan kita. Biar aku juga gak selalu diganggu oleh Gerald” tutur Mira dengan penuh harapan.
“Iya Mir, semoga ya. Semoga. Mainlah kesini akupun tak ada kesibukan, pun juga sudah tidak ke resto lagi karena sudah di handel oleh suamiku” jawab Dera.
"Iya, siap Nona cantik" lantas dia mematikan ponselnya.
Dera lantas melanjutkan aktifitasnya dirumah. Dari pagi hingga sekarang pun dia hanya rebahan karena perut yang semakin membesar dan untuk gerak pun menjadi mudah capek. Dia pun berjalan ke arah rak buk yang tak jauh dari tempat tidurnya. Di dapat sebuah buku kecil yang tak lain adalah buku curhat.
Diambilnya dan dibuka.
Satu persatu lembar dibaca lagi. Teringat tentang kejadian yang lalu dimana ada kebahagiaan ada pula rasa sedih yang membuatnya pernah sangat hancur.
Seketika keinginannya menulispun ada, dia membuka ponselnya untuk membuka sebuah tanggal yang tertera. 31 maret 2021.
Diambilnya bolpoin dan coretan demi coretan yang mengisahkan tentang kehidupannya tertulis disana.
“Hidup bukan tentang apa yang harus selalu sempurna. Hidup bukan sebuah alur cerita yang selalu harus berakhir happy ending. Tetapi hidup adalah tentang bagaimana ikhlas dalam menjalani rencana yang sudah Allah atur walau di pertengahan sedikit sulit, tetaplah terus melangkah.
Karena tentang bahagia tidak selalu bisa di usahakan tetapi ketika rasa ikhlas sudah tertanam di dalam hati. Percayalah segalanya akan lebih mudah”
Dera dengan mudah membuat kata-kata tersebut, tepat sesuai dengan pengalaman hidup yang pernah di laluinya. Dimana hubungannya dan Kendra sedang di masa retak-retaknya. Pandangannya mengarah pada langit-langit kamarnya. Bak sedang tersihir oleh sebuah lagu, dia pun menulis,
“Thank you Maret – pelajaran yang ku dapatkan bulan ini adalah menjadi dewasa tidak membuat apa yang kita inginkan akan mudah terwujud. Ada banyak sekali kerikil ditemui. Mulai dari mental yang sering di uji, sakit yang tadinya tidur sekarang bangun, suasana tenang yang sulit jika dinikmati, percayalah jika kamu ikhlas dengan keadaanmu, disitulah Allah merencakan kebahagiaanmu” tulisnya lagi.
“Harapan April: semoga selalu sehat, baik fisik maupun hati. Doa-doamu terkabul satu per satu. Jangan terlalu lemah, lalu menyerah, ingat impianmu masih banyak. Semangat Dera, you can do it” sebuah harapan dia tuliskan untuk membuatnya semakin bersemangat menjalani hidup. Dia tau juga bahwa kehidupan ini akan terus berputar. Yang bahagia akan tetap bahagia, yang sedih juga belum tentu sedih selamanya.
Akhirnya pun Dera menutup buku diarynya lagi dan merebahkan tubuhnya ke tempat tidur. Punggungnya kini lebih sering merasa capek dan kencang.
Di rumah Brian.
Seorang Brian sekarang sedang berada di kamarnya seorang diri. Dia memainkan sebuah Play Station. Sebenarnya yang ingin dia lakukan bukan itu, namun berhubung tak ada kerjaan sehingga dia mencari tempat pelampiasan agar pikirannya tidak lagi kencang.
Suasana hati yang buruk berdampak pada game nya yang lebih sering kalah dan itu membuatnya mengumpat sejadinya apalagi ditambah keluarga yang menurutnya kurang harmonis.
“SHITTT!! Bisa-bisanya nyokap bokap balik lagi ke LA, lantas kemarin pulang ke Indo untuk apa? buang-buang waktu aja udah jemput di bandara. Emang begitu ya? Jari orang berkarir, terlalu sibuk dengan bisnisnya sampai tidak memperhatikan perkembangan sang anak. Lama-lama gue bisa gila kalau memikirkan hal ini. Mending aku mikirin yang lain aja yang lebih penting” ucap Brian dengan mematikan Play Stationnya dan duduk di tempat tidur.
“Gue harus apa ya biar tuh cewek bisa klepek-klepek sama gue dan gue taklukin. Sekarang kan gue udah pegang kunci untuk merestui hubungan kami, pasti nanti akan dengan mudah bagiku untuk mendapatkan hatinya. Ayo mikir Yan, mikir. Cara apa..” tutur Brian dengan duduk di kursi putarnya.
Entah apa yang membuat Brian sangat terobsesi dengan taruhan ini, mungkin dia sudah terlalu geram dengan sikap Alula yang baginya terlalu jual mahal.
Perkara mengenai pacar, Brian adalah jagonya karena saat masih duduk di bangku sekolah, sudah berkali-kali dia menjalin kasih dengan banyak wanita, mulai dari adik kelas, teman seangkatan dan kakak kelas.
Siapa sih yang gak mau sama dia? Sudah kaya dari lahir, ganteng, so perfect. Itulah yang menjadi daya tarik bagi kaum hawa namun tidak dengan Alula.
Bagi Brian, semakin seorang wanita cuek dengannya maka semakin Brian merasa tertantang untuk mendapatkannya begitu juga sebaliknya ketika seorang wanita tersebut sangat mudah untuk di dapatkan maka dia pun akan merasa hal tersebut tak ada tantangannya dan hambar begitu saja.
“Oke, kita mulai permainan ini Alula” ucapnya dengan meneguk segelas air yang ada di atas nakasnya.
Brian pun mulai memikirkan rencana-rencana yang akan dilakukan nanti untuk melancarkan aksinya.
_________________
Di apartemen milik Caitlin.
Dua orang wanita terlihat sedang asik bercengrama. Mereka pun asik berulang dengan wine yang ada di tangannya. Lidia sengaja main ke apartemen Caitlin untuk mengelabuhi agar mau dijadikan alat untuk membuat hubungan Kendra dan Dera menjadi hancur. Karena rencana yang kemarin telah gagal.
“Cait, bagaimana kalau kita atur ulang rencana agar kamu bertemu dengan Kendra lagi? Bukankah kamu menyukai hal itu?” tanya Lidia yang hampir setengah mabuk.
“Kapan? Aku selalu siap apapun yang berhubungan dengan Kendra, kamu tau itu” jawab Cait.
Semoga rencana kali ini berhasil. Plis jangan ada kata gagal lagi, ko apa-apa gagal kan jadinya capek juga. Batin Lidia.
..._______ ...
...Di inget lagi ya, dulu kamu memulai semua ini tujuannya untuk apa....
...Sekarang kamu mau menyerah?...
...Terus, kamu berjuang selama ini buat apa?...