
Di ruang tengah milik Kendra.
“Nak, apa kamu gak ngantuk? Ini sudah jam 10 malam. Besok kamu kan harus kerja” ucap sang mama melihat Kendra yang masih sibuk dengan tab nya.
“Iya Ma, ini mau tidur. Ayo sayang kita tidur” ucap Kendra yang mengajak Dera tidur karena malam sudah mulai larut.
Dera menutup toples yang berisi cemilan karena akhir-akhir ini dia pasti kelaparan kalau malam.
Mereka berjalan ke kamar dengan hati yang lebih tenang dibandingkan tadi siang.
Ayu dan Alex yang melihat anaknya kini baik-baik saja merasa lebih tenang.
"Pa, untung ya Dera bisa menerima Kendra apa adanya, tapi Mama takut jika nanti Dera menyerah dengan sikap anak kita yang terkadang terlalu tempramental" tutur Ayu pada sang suami yang sedang asik melihat aplikasi saham.
"Iya Ma. Papa juga gak akan diam saja melihat wanita liar itu bisa kesana kemari" jawabnya.
Saat di ranjang, sebelum tidur.
“Sayang, maafkan aku ya atas perlakuanku tadi siang. Aku tidak bermaksud untuk menyakitimu atau apapun itu. Aku hanya sedang banyak pikiran saja. Maaf jika memang ego dan amarahku membuatmu terluka apalagi perkataanku” ucapnya dengan menghadap istrinya.
“Aku janji, gak akan mengulanginya lagi. Cukup ini sekali saja, aku gak bisa melihatmu bersedih” ucap Kendra.
“Untuk anak Papi Mami, maaf ya Nak, tadi siang Papimu khilaf” Kendra mengelus perut Dera yang kini mulai berbaring tidur.
Dera yang hanya diam saja malah kini membuat Kendra bingung. Di pikirnya Dera ngambek dan tak memaafkan dirinya.
“Dera, ngomong dong. Jawab ucapanku sayang” tutur Kendra ddengan mengelus kening Dera dan sesekali memainkan hidung mancung istrinya.
“Iya mas, iya. Dera maafkan ko. Jangan diulangi lagi ya.. apapun yang ada, kita lewati bersama tanpa marah seperti tadi ya” jawaban Dera kini bisa membuat kendra tidur nyenyak.
Akhirnya mereka memutuskan untuk tidur agar bisa beraktivitas besok pagi dengan fit.
…………………………….
Pagi harinya.
Cahaya sudah memasuki cela-cela jendela rumah Kendra. Masih males rasanya untuk hanya sekedar membuka mata.
Tapi kini baginya adalah hari dimana untuk memperbaiki segalanya.
“Selamat pagi…” ucap Kendra dengan mengelus pipi sang istri.
Posisi tidur Dera semalaman dalam pelukan Kendra, agar Dera tidur dengan nyenyak.
“Iya sayang selamat pagi. Apa kita jadi ke rumah ayah bunda?” tanya Dera.
“Iya jadi dong sayang. Yuk bangun gih” akhirnya mereka bangun dan beranjak dari tempat tidur.
Mandi bersama.
Itulah yang dilakukan sekarang. Agar hubungan membaik dan menghapus luka kemarin, itulah yang dipilih Kendra.
“Ayo mas, sudah. Nanti bisa-bisa kesiangan loh” ucap Dera ingin segera menghentikan mandi bareng ini, namun enggan bagi Kendra.
“Iya sayang, sebentar lagi”
Lima menit berlalu, dan akhirnya Kendra mau di minta sudahan.
Di kamar mereka sibuk saling menyiapkan pakaian yang akan dikenakan dan keduanya saling membantu.
Setelan jas abu-abu untuk Kendra dan dress warna putih dengan aksen tali di depan membuat sangat elegan.
“Ma, Pa kita pamit dulu ya.. mau ke rumah ayah bunda” Kendra dan Dera pun berpamitan setelah sarapan.
Pak Yanto kini tidak ikut, mereka hanya berdua. Tentu saja masih ada dua bodyguard untuk melindungi perjalanan mereka sedangkan Rey tidak ikut karena sedang sibuk dengan pekerjaannya.
Di perjalanan.
Mobil melaju dengan sangat pelan, kecepatan 30. Sangat pelan bukan? Karenaa Kendra tidak mau terjadi apa-apa dengan sang anak.
“E,, Mas..Ke..” belum juga selesai ucapan Dera sudah di potong oleh Kendra.
“Stop Dek, jangan bicara dulu. Ada polisi tidur yang harus kita lewati, aku butuh konsentrasi tidak mau sedikitpun baby kita terguncang” ucapan Kendra kali ini sungguh membagongkan.
Dera menepuk dahinya.
Astaga, kenapa lagi ini?? Kenapa ini sangat pelan? Tau begini mending tadi sama Pak Yanto saja, malah Mas Kendra ambil libur untuk mengantarkanku.
Perlahan. Dikendalikan remnya kembali dikendalikan.
Perlahan.
“Pak, mobilnya kenapa? Apa perlu diperbaiki?” ucap salah satu bodyguard yang turun dari mobilnya karena melihat mobil yang di kendarai sang bos sangatlah lamban.
Perlahan lagi.
Akhirnya terlewati juga polisi tidurnya.
Bisa-bisa kalau jalannya begini bisa sampai besok subuh mas- mas…
“Mas Kendra, ayo mas. Aku sudah kangen ayah Bunda. Nyetirnya cepat sedikit ya sayang”
Hanya perlakuan manislah yang bisa mengubah Kendra. Akhirnya diapun melaju sewajarnya orang menyetir.
…………………………
“Assalamualaikum Bunda, Ayah, Dera pulang” ucapnya seraya berlari kecil menuju ruang tamu. Kendra yang dibelakangnya dengan sigap berlari menghentikan sikap Dera.
“Sayang, ingat kamu sedang hamil. Jangan lari gitu ah”
Dera seketika berhenti dan mencari keberadaan orang tuanya.
“Ah anak ku, kangen sekali mama. Sini-sini nak” ucap Lestari yang begitu bahagia karena anaknya datang bersama sang suami.
“Oh ya, mana Papa Ma?” tanya Dera yang mencari keberadaan sang Ayah.
“Ayah sedang di taman belakang sama Novan dan Dinda nak, ayo kesana saja. Ayo nak Kendra”
Kendra pun mengangguk. Mereka berjalan ke gazebo yang ada di taman belakang. Rumah yang ditinggalinya saat kecil kini sedikit ada perubahan.
Tanaman tertata rapi dan ada aksen baru sebagai pemanis.
“Ayah, Novan dan Dinda kalian sedang apa?” ucap Dera berjalan mendekat.
Dinda yang kaget pun langsung berdiri dan memeluk sang tante. Sedangkan Novan hanya menyalami sebagai tanda hormat.
Dera memeluk sang ayah karena hampir sebulan mereka tak kesini.
“Sayang, baik-baik saja kan? Ayah lihat ko badanmu ada yang beda. Apa kamu sedang isi?” tanya ayahnya.
“Om, isi apa sih om maksudnya?” tanya Dinda dengan polosnya.
Memang Dinda adalah sosok polos tapi memang kebangetaan polosnya, maklum saja dari kecil dia ikut orang tuanya di desa, jadi memang seperti itu.
“Isi dinda... hamil maksudnya. Gitu aja gak paham sih” jawab Novan.
Sang Bunda membawa teh dan beberapa cemilan.
Disajikannya di atas nampan cantik berwarna biru.
“Pada bahas apa sih ini? Isi apa? siapa yang isi? Apa kamu Nak?” tanya lestari pada Dera.
“Iya Bun, Dera sedang mengandung, kini jalan 6 minggu. Doakan ya semuanya, agar baby nya sehat” ujar Kendra.
Dera hanya terseyum simpul menunjukkan lesung pipi nya.
Dinda memperhatikan cincin dan perut Dera. Dia pun tersenyum.
Andai nanti aku setelah lulus kuliah, terus nikah, dapat suami kaya. Ah betapa enak sekali hidupku. Eh tapi gak apa-apa lah, yang penting kan berhayal dulu, toh juga gak ada yang nglarang kan, haha.
Senggolan di bahu yang dirasakan Dinda begitu Kencang hingga dia pun kaget.
“Woyyy” teriak Novan di telinga Dinda.
“Mikir apa sih, senyum-senyum sendiri. Jangan-jangan mulai gesrek ya” ujar Novan.
“Hiii kakak, masak adik sendiri dikatain gesrek tante, Om.. padahal kan Dinda sedang membayangkan nanti setelah kuliah, menikah, dapat suami ganteng, kaya terus hamil gitu tante, om. Siapa tau bisa beruntung speerti kak Dera. Kan ga salah ya om ya” ucap Dinda.
Gelak tawa mewarnai obrolan pagi itu.
.
.
.
Aithor:
Gimana nih bestii, apa suka dengan tokoh Dinda dan
Novan disini?? atau mau tokoh yang seperti apa nihh..
Cuss.. di like, comment dan di vote..