PLEASE, LOVING ME

PLEASE, LOVING ME
episode #52



Di taman Kota


Semenjak tak ada bodyguardnya, Fira. Dera lebih sering menghabiskan waktu sendiri.


Dia asik menikmati waktu sore dengan duduk di taman kota.


“Sendirian?” sebuh pertanyaan membuat Dera melihat sosok yang bertanya.


“Hai, iya” jawab Dera. Bagas langsung duduk di samping Dera sambil melihat pemandangan hamparan rumput dan kupu-kupu yang beterbangan.


“Kenapa memilih menyendiri disini?” tanya Bagas karena sedari tadi sebenarnya dia sudah memperhatikan Dera.


“Aku hanya ingin mencari udara segar” jawab Dera seenaknya. Padahal dia hanya berusaha menghindar dari atmosfer yang kurang menyenangkan.


“oh begitu” jawab Bagas percaya.


Keheningan pun menyelimuti kedua nya beberapa saat.


Hanya suara kicauan burung yang hadir diantara mereka berdua. Entah kenapa sore ini taman begitu sepi, padahal biasanya ini sangat ramai mangkanya dia memilih taman untuk menghilangkan penatnya skripsi yang penuh revisi.


“apa kamu sangat mencintai Kendra?” sebuah pertanyaaan dari Bagas membuat degup jantung Dera berdetak lebih cepat.


Dia ingin menghindari pertanyaan ini. Namun sepertinya dia tidak bisa menghinari sekarang.


“Ya” jawab Dera singkat. Bagas menoleh padanya dan menatap Dera dengan tatapan yang sulit di artikan.


“Apakah kamu sudah tahu semua yang pernah terjadi dalam hidupnya” tanya Bagas kembali.


Dera menatap dalam Bagas sebelum dia menjawab pertanyaan tersebut.


“Ya, kurasa” jawabnya kurang yakin. Bagas memalingkan wajahnya dan hanya tersenyum mendengar jawaban Dera.


“Kalau dia membuatmu terluka. Dan jika kamu merasa hancur dan juga putus asa, aku akan siap untuk membawamu pergi darinya” ucap Bagas ini bukan sebuah bahan becandaan dari penekanan kata yang dia ucapkan. Dera tahu bahwa Bagas sedang bersungguh-sungguh.


“Aku berharap hal itu tida terjadi” jawa Dera dengan suara yang lirih namun Bagas masih bisa mendengar perkataan Dera tersebut.


“Aku melakukan itu karena aku menyukaimu., dan masih menyukaimu walaupun aku sudah beristri. Karena itu semua juga dulu atas permintaanmu agar aku menerima perjodohan ini bukan?” ungkap hati Bagas dengan sepenuh jiwanya. Dera tidak bisa berkata apa-apa mendengar ungkapan perasaan Bagas kepadanya.


“Terima kasih untuk perasaanmu itu kepada ku Gas. Namun aku saat ini sudah memiliki suami. Dan aku tidak bisa menerima perasaamu.


Aku menganggapmu hanya sebagai teman setelah kita putus. Dan aku berharap kitab isa menjadi teman baik kepadanya. Aku minta maaaf…” ujar Dera dengan sangat hati-hati dalam berkata.


Dia tidak ingin menyinggungnya bahkan melukai perasaan Bagas.


Bagas hanya tersenyum mendengar jawaban dari Dera. Dan jawaban ni sempat terlintas dalam benaknya.


Dia sudah menduga Dera akan menjawab pernyataan cintanya seperti itu. Dan dugaan dia benar menjadi kenyataan.


“Sudah menjelang malam, aku harus kembali ke rumah” ucap Dera merasa canggung dengan suasana saat ini.


“Tunggu” Bagas menarik tangan Dera dan posisi Dera saat itu sedang berdiri hendak meninggalkan Bagas setelah berpamitan.


Dera terkejut bukan main karena apa yang dilakukan Bagas saat itu. Dia memeluk Dera dengan erat. Dan menyenderkan kepalanya di bahu Dera.


“Biarkan seperti ini sebentar saja. Aku tidak meminta lama” ujar Bagas dengan memohon.


Namun di tempat seterbuka ini Dera takut akan dilihat orang yang mengenal mereka. Apalagi kalau dilihat oleh orang yang mengenalnya ataupun Kendra.


Dera berusaha melepaskan diri dari Bagas. Dia mendorong tubuh Bagas.


“Tolong Gas, aku mohon jangan seperti ini. Kita berada di tempat umum. Aku tidak mau orang lain menjadi salah faham dengan hal ini. Maaf.. aku harus pergi..” Dera bergegas meninggalkan Bagas yang merasa hatinya hancur mendengar penolakan Dera tersebut.


Dari kejauhan tampak seseorang sedang mengepalkan kedua tangannya melihat apa yang mereka berdua lakukan di taman.


Dera bergegas meninggalkan taman kota dan segera kembali ke rumah. Dera berjalan kaki dengan cepat agar segera sampai ke rumah.


Dia sengaja tidak memberitahu orang rumah. Yang ada di pikiran Dera adalah dia ingin buru-buru pergi dari situasi yang begitu canggung dengan Bagas.


“Sayang, kenapa kamu terburu-buru seperti itu?”


Sapaan itu. Suara khas itu. Dera sungguh terkejut melihat kedatangannya ke sana. Bahkan kini sudah berdiri di hadapannya dengan wajah cemas melihat dirinya.


Kendra.


“Kamu tidak apa-apa sayang?” Kendra mengulangi pertanyaannya karena dia melihat Dera masih bingung dengan kehadirannya.


“Kendra..” begitu Dera yakin bahwa yang memegang tangannya adalah Kendra.


Dia langsung menghambur ke pelukan Kendra. Bahkan Kendra sendiri merasa tidak percaya dengan apa yang dilakukan kekasihnya itu. Dera belum pernah bersikap seperti ini kepadanya.


“Sayang, kamu yakin baik-baik saja?” Kendra masih bertanya sambil mengelus-elus punggung Dera.


“Ya, aku ingin begitu dulu jangan melepaskan aku” pinta Dera dengan memohon. Kendra idak lagi bertanya.


Dia mengikuti permintaan dari istriya tersebut. Apa yang menyebabkan Dera seperti ini pun masih dia tahan, Kendra tidak ingin membuat hati Dera semakin runyam.


Tampak dari kejauhan Bagas mengejar Dera. Namun dia seketika berhenti melihat Dera sedang memeluk seorang pria.


Bagas hendak mendekat karena takut terjadi dengan Dera. Tetapi Bagas mengurungkan niatnya saat itu dia tahu siapa pria yang sedang Bersama Dera.


Pria itu adalah Kendra Alexander. Dia ada disini,? sejak kapan? Apa ketika aku tadi memeluk Dera dia juga melihat kami? Kenapa dia muncul di saat seperti ini?


Bagas tidak ingin membuat Dera dalam masalah bila dia sekarang mendekat. Dia mengamati keduanya dari kejauhan.


“Sayang” Kendra menengadahkan wajah Dera yang tampak sembab. Ternyata istrinya baru saja menangis. Kendra menhana egonya dan berusaha tenang. Dia tidak boleh gegabah.


“Kita bicara di tempat lain ya” ajak Kendra dan Dera hanya mengangguk menurut. Mereka berdua pun pergi meninggalkan taman kota.


Bagas yang melihat kejadian itu hanya bisa menahan diri juga keinginannya untuk mendatangi Dera. Dia tidak mau Dera mendapat masalah nantinya.


Bagas dengann berat hati meninggalkan taman kota dan berjalan ke arah mobilnya.


Kendra meminta Rey untuk membukakan pintu mobil untuknya dan Dera.


“Kita akan pulang ke rumah. Kamu balik saja Rey” ucap Kendra pada sekretarisnya.


“Tapi anda dan Nyonya muda gak apa-apa Pak Bos?”


“Gak. Aman. Pulanglah” Rey mengulangi perkataannya.


“Baik Pak Bos” ucap Rey.


Mobil melaju ke rumah mewah. Pak Yanto sekilas memperhatikan raut wajah Dera yang melamun. Dia tak berani bertanya apapun. Akhirnya dia menyetir mobil hingga masuk ke area rumah Kendra.


Dera turun dengan digandeng Kendra. Mereka melangkah ke dalam kamarnya.


“Sayang minumlah” Kendra menyodorkan segelas air putih. Dera pun segera tersadar dari lamunannya.


“Terima kasih” sahut Dera dan segera meminumnya.


Kendra melihat secara dalam suaminya tersebut.


Dera merasa Kendra yang kini begitu memperhatikannya. Dera merasa malu dilihat seperti itu oleh Kendra.


“Kenapa melihatku seperti itu?” tanya Dera penasaran dengan apa yang Kendra lihat darinya.


.


.


.


hello guysss.. gimana nih kabarnya.. maaf ya upload nya lama.. lagi latihan nulis secara konsisten hehe