
Memang benar, cinta pertama tak akan bisa dengan mudah hilang ataupun lupa. Buktinya saja setelah diselingkuhi beberapa kali, Pak Bos Kendra pun masih mau bertemu dengan Nona Lidia yang jelas-jelas sudah berkali-kali pula mengecewakannya.
“Baik Pak Bos. Ini pakaian yang Anda pesan untuk Nyonya Dera” Rey menyerahkan paperbag yang telah dibawanya dari tadi.
Kenapa aku tak lihat dia tadi bawa paperbag. Apa di sembunyikan disuatu tempat? Atau dia telah belajar sulap. Hahaha.
"Mas Kendra datang saja, toh juga kalian pernah saling kenal kan?" ucap Dera yang merasa jawabannya sebagai jalan keluarnya.
Bukan saling kenal lagi, bahkan itu adalah mantan pacar yang kini membuatmu hancur Mas.
“Kenapa kalian melihatku seperti itu?” Dera yang masih bingung kenapa namanya disebut dan tiba-tiba Kendra memberikan paperbag itu padanya.
Dera menerimanya, dia melihat isi sekilas karena sup di sendoknya sudah mulai dingin. Dia menyuapi Kendra hingga di suapan terakhir.
“Nyonya Dera akan menemani Pak Bos Kendra ke tempat Fashion Show Nona Lidia”
“Kenapa saya?”Dera bingung karena tiba-tiba saja mereka memintanya untuk menemaninya besok.
“Kenapa? Gak mau? Atau mau membantah?” Ketika sang Raja sudah memberikan titah yang tidak bisa untuk dibantah.
“Bukan Mas, hanya saja saya kaget kenapa tiba-tiba sekali” Dera mencari alasan selogis mungkin yang bisa diterima Kendra.
Tok tok tok
“Pak Bos Kendra, saya membawakan Dokter Frans” ucap Bi Tirna.
“Masuklah!” Rey yang menjawab.
Seorang dokter muda masuk disusul oleh Bi Tirna. Dia langsung mendekat ke arah tempat tidur. Meletakkan tasnya di atas sofa dekat Sekretaris Rey.
“Pak Bos Kendra Alexander, kau bisa sakit juga Pak? haha”
Waw.. bisa-bisanya mereka sangat akrab. Tapi juga Dera ingin tertawa mendengar ucapan dokter, yang menyadari kalau Kendra hanya berpura-pura saja.
Dokter Frans memeriksa Kendra, mulai dari denyut nadi, mata, tekanan darah dan suhu tubuh.
“Mas Kendra sakit apa Dok?” Dera seperti anak kecil yang penasaran akan suatu hal.
Dokter itu menoleh, seperti merasa terkejut dengan dirinya disana.
“Tidak apa-apa Nona. Pak Kendra hanya perlu istirahat”
“Hei, kalau ku bilang aku sakit ya artinya aku sedang sakit” pasien merasa tak terima mendengar diagnosa dokter.
“Hem, iya.. iya.. kamu sedang sakit. Istirahat yang cukup. Sudah sarapan?” Frans mengalah, karena tau dia yang lebih waras.
"Mas Kendra sudah sarapan Dok, barusan selesai" ucap Dera.
Dokter Frans mengambil obatnya dari dalam ransel hitam dan meminta Dera untuk mengambilkan air untuk Kendra minum obat. Mau tak mau dia melaksanakan perintah dari Frans.
Dera yang sedang menuju dapur, sementara di dalam kamar.
“Apa yang kamu lakuin Ken? Apa sedang main dokter-dokteran haha” Frans tertawa terbahak-bahak.
“Awas ya kau. Rey bawa dokter sialan ini keluar” Rey masih berdiri diam karena tahu perkataan Kendra tidak serius.
Dokter Frans adalah teman Kendra, yang bisa bicara layaknya teman padanya.
“Itu tadi istrimu?” tanya Frans.
“Kenapa! Jangan lirik-lirik ke dia. Dan jangan harap kau bisa memandang nya sedetikpun” ucap Kendra.
“Wah wah. Kenapa nih Rey? Pak Kendra jadi serem hiii” Rey dan Frans tertawa terbahak-bahak.
“Tapi kamu tau kan, Kalau Lidia pulang ke tanah air. Apa kau pura-pura sakit agar tidak datang ke pertunjukan fashion show nya”
"Kata siapa? aku ini ya memang sakit. Lusa aku akan datang ke Fashion Show nya bersama istriku"
"Yakin? Apa kau benar-benar mencintai gadis itu? Mengingat lama waktumu pacaran dengan Lidia, rasanya gak mungkin kamu jatuh cinta padanya" tutur Frans.
Mereka menghentikan pembicaraan saat Dera datang dengan membawa sebotol air. Saling pandang, menduga-duga apa Dera mendengar kalimat yang baru di ucapkan dokter Frans.
“Ini air minumnya Mas, di minum dulu biar cepat sembuh. Bukan begitu dokter Frans?”
Rey yang tak menduga ucapan Dera seketika menahan tawa, bisa-bisanya Nyonya Dera bicara seperti itu.
“Ini saya beri obat, silahkan diminum sehari 2 kali ya Nyonya Dera” ucap Dokter Frans dengan melihat Dera.
Frans sengaja memberikan obat, tapi sebenarnya itu adalah vitamin saja. Biar acting Kendra gak sia-sia. Batinnya.
“Saya permisi dulu. Cepat sembuh Pak Bos Kendra. Mari”
Dokter Frans melangkah pergi.
Walaupun Kendra sedang sakit tapi dia tetap bergelut dengan pekerjaan di ruang kerjanya.
Apalagi dia sakit karena memang di buat-buat. Karena ini adalah ide dari Sekretaris Rey.
Sementara Dera di kamar hanya membaca novel dan nonton TV. Dia berpikir dan mencoba menemukan titik terang masalahnya.
Kenapa Rey tidak senang kalau aku membicarakan tentang Lidia, bukankah dia adalah Wanita yang disukai Kendra? Lalu kenapa Lidia juga tidak di terima di keluarga Papa Alex, kan Lidia adalah model professional di dunia entertainment.
Kringg.,, kring.. kring…
Suara ponsel Dera memecah konsentrasinya. Mbak Nining, karyawan di toko Fallery Bakery menghubunginya.
“Hallo Mbak” Dera senang, akhirnya bicara dengan manusia normal.
“Mbak Dera ko gak pernah kelihatan mbak, sehat?”
“Alhamduillah sehat mbak. Bagaimana perkembangan toko?”
“Alhamdulillah perkembang pesat mbak, akhir-akhir ini ada yang memesan untuk acara perayaan. Oh ya, ini apa Mbak Dera gak mau ke toko? Audit keuangan mbak”
“Oh ya, mungkin dalam waktu dekat ini mbak. Di persiapkan saja di meja saya ya”
“Baik Mbak”
Dera yang kuliah juga merangkap sebagai bagian audit mengenai keuangan di toko Ibu nya.
Memang semenjak menikah dengan Kendra, dia tidak pernah keluar sekalipun, apalagi sendiri.
Dera ingin menyudahi panggilan.
“Apa? terkejut dengan info yang diberikan Mbak Nining barusan.
“Iya Mbak, ini semua bahan dan beberapa barangnya sudah masuk ke dalam toko. Katanya kiriman dari suami Mbak Dera”
Kegilaan apalagi si yang kau buat.
“Ya udah biar saja Mbak, di simpen di Gudang aja mbak”
“Baik Mbak. Ya udah Mbak, selamat istirahat Mbak Dera”
“Iya Mbak Nining terima kasih”
Ketukan pintu membuat Dera segera mengakhiri panggilan. Sekretaris Rey muncul. Masih dengan wajah yang sulit di tebak suasana hatinya.
“Nona, Pak Bos Kendra ingin makan buah”
“Baik, kalau sudah siap nanti saya antar ke ruang kerja Mas Kendra. Oh ya, apa Anda yang mengirim semua bahan dan barang itu ke kue?” Dera ingin memperjelas pada Rey.
“Iya"
Hanya menjawab satu kata? Wah sepertinya Anda perlu belajar belajar kosa kata yang banyak Sekretaris Rey!!
.
.
.
puji
.
.
Cinta adalah masalah waktu. Ketika memang ditakdirkan untuk tak saling cinta maka sekuat apapun akan merasa lelah karena telah memperjuangkan, namun ketika memang telah di takdir dua sejoli jatuh cinta, maka sedikit usaha pun sudah mempertahankan sebuah cinta.