
Hello guys, jangan lupa mampir ke novel HELLO, DOSEN KUTUBKU ya.
Kalau ada masukan, saran dan kritik akan Author terima ko. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian di cerita ini. Terima kasih. Enjoy guys.
______________
Setelah dari rumah sakit, akhirnya Kendra dan Dera bersiap untuk pulang ke rumah. Sengaja mereka meninggalkan Sekretaris Rey dan Novan untuk menjaga Pak Yanto terlebih dahulu karena mereka juga menunggu keluarga Pak Yanto untuk menjaga.
Kendra sengaja meminta Dera untuk tinggal bersama Mama Papanya karena untuk menjamin keselamatan sang jabang bayi dan tentu saja istrinya. Tidak dipungkiri bahwa suatu saat juga pasti akan terjadi kejadian yang sama.
Kendra mengendarai mobil dengan kecepatan rata-rata dan dia sengaja membawa pengawal 4 orang di mobil yang berbeda untuk menjaganya dari kejadian yang tidak diinginkan.
“Sayang, demi keselamatan kita semua. Sengaja aku persiapkan kita untuk tinggal dirumah Mama Papa. Kamu ga apa-apa kan? Juga demi malaikat kecil yang ada disini sayang” ucap Kendra dengan mengelus perut Dera.
Istriya juga tau apa yang dirasakan Kendra karena dia juga pasti khawatir ika harus tinggal dirumah sendirian. Dia juga takut jika ada Bagas yang masih mengejarnya. Bahkan sampai saat ini Dera pun tak tau apa alasan Bagas masih mengejarnya.
Tiba\=tiba… kringgggggg
Ponsel Kendra berdering, sebuah telpon masuk darinya.
“Halo” ucap Kendra.
Tit. Tit. Telpon terputus.
Mengetahui respon tersebut, Kendra mengernyitkan dahinya. Ada apa sih? Tapi ini juga nomor siapa? Tumben ada nomor baru langsung telpon biasanya lewat Rey dulu.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi lagi.
Kringggg… akhirnya pun diangkat. Namun lagi-lagi telponnya dimatikan.
Kendra semakin penasaran dan bertanya-tanya, ada apa? ko telpon tapi sepertinya memang orang iseng. Pikirnya.
Kendra pun tak terlalu mengambil hati dan bermasa bodoh tentang nomor baru tersebut. Pikirannya fokus pada sebuah luka kecil yang ada di luka Dera.
Ya Allah sayang, kasihan sekali kamu. Berjuang tanpa aku. Berjuang demi bayi kita. Sedangkan aku enak-enaknnya malah nuduh kamu yang engga-engga. Maaf ya sayang. Aku janji, akan lebih menjaga mu dari apa yang pernah kau tau.
Apa yang dirasakan Kendra kini sama dengan apa yang sedang diputar di playlist mobilnya.
Benar-benar sama seperti hatinya kini.
20 menit pun berlalu, akhirnya mereka sampai di rumah megah nan mewah yang kini akan ditempatinya beberapa hari kedepan.
“Mamah, papah.. Kendra Dera datang nihh” ucap Kendra sembari membuka pintu utama. Sedangkan ada Ayu dan Alexander yang tengah menyambut kedatangan sang anak.
“Halo sayangku. Mamah telat nih menyambut anak kesayangan mamah” ucap Ayu.
“Iya nih Ken. Mama mu tadi nyiapin makanan buat menantu kesayangan kami” sahut sang papa yang tak kalah excited nya menyambut kedatangan mereka.
“Aduh mama papa. Terima kasih ya telah menerima Dera begitu sayangnya” ucap Dera merasa terharu diterima dikeluarga Alexander.
Suasana yang semakin menghangat hingga akhirnya berakhir di meja makan. Mereka asik bercengkrama hingga akhirnya mengobrolkan masalah kecelakaan yang dialami Dera. Mungkin bisa di pikir itu adalah kecelakaan namun ada sesuatu yang mengganjal dihati mereka.
“Oh ya Pa, Alula kemana ya? Ko ga kelihatan dari tadi?” ucap Dera mengalihkan pembicaraan agar masalah ini tidak terlalu dalam pikirnya.
“Alula sedang kuliah nak. Nanti juga pulang. Toh berangkatnya udah dari tadi” jawab sang papa mertua.
“Loh ya pa. Kabar dia deket sama pria yang dulu gimana? Teman kampusnya itu, apa sekarang masih sering main?” tanya Kendra memastikan.
“Kalau itu papa kurang tau nak. Coba deh nanti biar ditanya sama mama mu”
“Ga gitu Pa. Kalaupun dia memang serius sama Alula biar dia fokus sama kuliahnya dulu tapi juga kita serius bahas masalah hubungan mereka. Jadi setelah kuliah bisa langsung tunangan, kalau mereka ga mau nikah dulu” tutur Kendra.
“Ha? serius mas?” Dera yang begitu kaget spontan langsung sedikit tersedak namun masih bisa dikendalikan.
Dera merasa suaminya begitu posesif dengan adik perempuannya karena mungkin Alula masih butuh kebebasan dan ingin meraih apapun yang dia inginkan. Apalagi Alula adalah mahasiswi yang ingin terjun ke dunia kerja dan ingin memiliki banyak pengalaman. Entahlah bagaimana pikiran Kendra kala itu, mengapa begitu ingin cepat-cepat adiknya menikah. Dan juga Brian masih seorang anak muda yang pastinya belum bisa serius mengingat perkenalan mereka yang cukup singkat.
“Iya sayang. Beneran. Buat apa juga lama-lama kenal kalau endingnya ga jadi nikah. Emm kayak kamu itu, endingnya ga jadi nikah kan sama laki-laki brengsek itu” ketus Kendra yang justru dia-lah yang terbawa suasana mengenai hal tengah dibahasnya kini.
“Hust, sudah-sudah. Ko jadi malah bahas masa lalu istrimu sih, kamu cemburu ya sama si Bagas-Bagas itu. hayo ngaku” celetuk mama Ayu untuk mencairkan mood anak laki-lakinya.
“Hahaha. Bisa jadi nih mah, gara-gara ga ketemu istrinya semalaman malah dia yang sekarang jadi cemburuan” sahut Alexander.
“Oh ya nak, apa kamu udah beli perlengkapan baby? Ini sudah mendekati bulan persalinan kamu lho” Ayu mengingatkan Dera dan juga Kendra agar segera mempersiapkan semuanya.
“Oh ya ma. Belum. Mas Kendra sibuk ma, toh juga jarang dirumah” ucap Dera.
“Ya udah, besok yuk kita jalan-jalan beli perlengkapan bayi. Boleh kan Ken? Sama mama ko perginya. Kalau masih was-was minta beberapa bodyguardmu itu untuk mengawasi kita dari jauh. Gimana?” ucap Ayu.
Mendengar ucapan sang mama, membuat Kendra harus mempertimbangkan segala kemungkinan yang akan terjadi. Dia takut jika ada hal yang nantinya membuat Dera celaka lagi.
Emm, gimana ya ini? Kalau aku ga ngijinin nanti malah dibilang anak durhaka lagi sama mama. Tapi kalau aku ngijinan juga aku takut jika nanti terjadi apa-apa dengan istriku. Tapi ya memang aku belum nyiapin apapun sih. Kemana aja aku selama ini? Sampai ga sadar kalau hari persalinan tinggal menunggu hari saja. Batin Kendra sembari mencari jawaban yang tepat.
“Hello anak mama.. gimana? Boleh yaaa” Ayu menjentikkan jari dihadapan Kendra agar dia tersadar dari lamunannya.
“Ya deh ma. Boleh. Tapi jangan malam ya. Kalau bisa siang gitu ma. Jadi kan masih bisa terpantau jelas kalau ada apa-apa” jawabnya.
“Oke deh, siap”
Sembari menunggu Alula datang, mereka bercanda tawa di ruang tengah setelah dirasa cukup untuk makann hidangan di meja makan. Mereka sengaja menunggu Alula yang siapa tau dia pulangnya bersama Brian.
Benar-benar pertanyaan yang menakutkan bagi pria dan Wanita jika ditanya tentang sebuah hubungan namun juga tak tau bagaimana kejelasannya.
...___________________ ...
...Ga terasa waktu berjalan begitu cepat....
...Seingatku masih baru kemarin aku tak bertemu kamu, setelah semua kenyataan terungkap secara gamblang....
...Ternyata sudah setahun lamanya....
...Sebegitu cepatkah waktu berputar hingga aku tak sadar bahwa kita sudah sangat lama tak berjumpa apalagi canda tawa bersama....