
Jangan lupa vote dan sarannya ya man-teman.
Karena saran dan masukan dari kalian itu penting banget.
Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini
Terima kasih sudah membaca ceritaku
Dan jangan lupa memberi bintang 5 ya🌟🌹
Happy reading
Satu ditambah satu itu dua
Author yang up cerita,
Kalian yang kasih like nya ☺️
🌹☺️
Tak terkecuali Brian, Leo dan David.
Mereka dengan santainya berjalan bak model papan atas sedang menuju kantin kampus.
“Yan, Leo pesen apa gue yang pesenin?” tanya David.
“Lo yang traktir ya?” canda Leo.
“Nyarinya yang gratisan mulu dah” gerutu Brian.
“Biarin Yan. Asal lo tau ya, dia berhasil deketin cewek jurusan ekonomi kelas B tau. Anggap saja ini sebagai traktirannya dia. Bukan begitu David Andreas?” tutur Leo pada sahabatnya.
“Ya udah deh ya” David hanya bisa mengiyakan, dia pasrah. Memang benar apa yang dikatakan Leo tersebut.
Setelah itu David memesan makanan mereka dan kembali ke tempat duduk bersama yang lain. Obrolan singkat pun terjadi.
"Eh lo ko bisa deket sama cewek Ekonomi kelas B, bukankah lebih ganteng gue ya" ujar Brian dengan membetulkan rambutnya yang rapi.
"Lah dipandangan anak-anak kampus itu lo dingin banget. Mana ada cewek yang suka? kecuali Sabrina. Haha, bukan begitu Leo? dan satu lagi ya. Lo kalau marah harus bisa ngendaliin, jangan sampai marah-marah di kampus yang mereka kira lo adalah laki-laki kasar. Gitu Mas Brian" jawab David dengan senyum kemenangannya.
"Hm" jawab Brian singkat.
“Yan, kenapa sih lo suka cari ribut sama Alula. Toh dia juga gak gangguin lo” tanya Leo yang kini bertanya pada Brian.
“Gak tau aja Le, bawaannya sebel aja kalau lihat dia. Cewek ko bar-bar banget gitu. Semua cewek kalau ketemu gue pada luluh. Ya bukan berarti gue terlalu jual mahal ya. Tapi kan bener gitu. Mereka luluh sama gue, tapi pada ga ada yang mau pacaran sama gue. Lah ini? Dia malah seenaknyaa sendiri” jawab David dengan memainkan ponselnya.
“Ya sih Yan. Dia beda dari yang lain” jawab David.
“Nah betul. Eh tapi kan lo gak pernah nembak cewek gimana mau pacaran coba kalu ga nembak duluan hahaha" tawa David benar-benar membuat Brian kesal.
Leo hanya ketawa kecil sehingga menimbulkan pipi yang menggembung karena menahan tawa.
Tak berselang lama, apa yang dipesannya tadi datang.
Mbak Jumi sebagai pelayan kantin pun datang. Dia meletakkan pesanan satu persatu di meja Brian, Leo dan David.
…………………………………
“Pak Bos, saya sudah dapat kabar dari bodyguard yang mengintai rumah Mira. Memang benar Nyonya Dera tak ada disana” tutur Rey pada Kendra, belum juga menyelesaikan laporannya Kendra sudah keburu marah.
“Lantas mengapa kau sampaikan ini padaku? Ha!! informasi gak penting !!” amarah Kendra kembali memanas.
Ayu dan Alex yang mendengar anaknya sedang marah segera menghampiri mereka.
“Apa yang terjadi Rey? Apa ada informasi tentang menantuku?” tanya Alex.
“Ada Tuan. Iya. Tadi bodyguard telah menyampaikan bahwa Nyonya Dera tidak ada di rumah Mira. Melainkan ada di suatu rumah yang sesuai informasi adalah rumah tante Mira.
Nyonya Dera sengaja tinggal disana mungkin untuk menenangkan diri. Karena sempat bodyguard mengetahui ada Nyonya Dera yang sedang jalan santai di samping rumah tanpa melakukan aktifitas yang berarti” tutur Rey dengan jelas.
“Oh itu informasinya. Kenapa gak bilang dari tadi” sahut Kendra pada Rey karena dia tidak bisa mengendalikan amarahnya.
………………………………
Di sudut kota Jakarta timur, seorang wanita nampak frustasi karena uang bayaran yang telah diterimanya telah habis.
Ya, Lidia setelah berhasil membunuh Ayah Dera lantas diberi uang bayaran oleh Danu Hartono.
Sejumlah uang rupiah dan dolar pun telah diterimanya dan dihabiskan untuk berfoya-foya. Tidak hanya membeli tas, sepatu dan baju namun juga beberapa perhiasan untuknya. Memang benar-benar wanita matre, itulah yang di sematkan Papa Kendra untuk seorang Lidia.
Lidia, wanita yang tidak lagi gadis itu nampak menghancurkan segala perabotan yang ada di apartemen miliknya. Beberapa barang telah di lemparnya ke segala arah.
Dari mana lagi sumber uang ku berada? Sedangkan aku tak punya kerjaan. Modelling pun sekarang jarang.
Arghh..
Dengan banyak beban yang dirasakan, akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke sebuah klub tempat biasa.
Diapun menyambar tas yang berada di atas sofa. Dengan hati yang gundah seperti saat ini, di pikirnya bisa untuk melepaskan segala beban hidupnya.
Dia melangkahkan kaki menuju lobby apartemennya dan menunggu sebuah taksi online yang telah di pesannya lewat sebuah aplikasi.
Di dalam mobil pun dia hanya diam saja, tak banyak bicara.
Tak terasa taksi yang naiki nya pun sudah sampai di klub biasanya dia kesana. Lidia melangkahkan kaki jenjangnya menuju table yang kosong.
Tangannya melambai ke arah pelayan saat sudah mendaratkan tubuhnya di kursi. Tak lama menunggu akhirnya sang waiters datang dengan sebotol wine yang di pesan Lidia.
Pandangan Lidia menari ke sana kemari sembari menyesap minuman beralkohol itu. Lidia memusatkan pandangannya pada satu titik saat menangkap
seseorang yang sangat dikenalinya. Dengan berjalan tergesa-gesa dan membelah keramaian, Lidia akhirnya dapat melihat dengan jelas jika pria yang dilihatnya benar-benar mantan kekasihnya yang sangat dia cintai.
“Bagas!!” pekik Lidia melihat mantan kekasihnya itu saat ini tengah berciuman mesra dengan seorang perempuan.
Ciuman panas Bagas akhirnya terlepas. Bukannya terkejut Bagas justru menatap sinis pada Lidia.
“Jadi ini kelakuanmu di belakang istrimu. Tega sekali kau. Setelah dulu kau bersama ku sekarang kau bersama Wanita lain. Gimana ya kalau nanti istrimu tau? Pasti akan seru nih” ucap Lidia dengan nada mengancam.
“Haha. Ga akan ngefek. Karena istriku percaya bahwa aku adalah pria baik-baik” jawab Bagas dengan nada tak kalah sinisnya.
“Lantas, bagaimana dengan perkataanmu dulu? yang katanya kau mencintaiku setelah Dera di rebut oleh Kendra!!” pekik Lidia. Perdebatan mereka pun akhrnya memancing pandangan orang-orang tertuju pada mereka.
“Dan kau percaya begitu saja? Cih. Jika bukan karena aku memperalatmu untuk menghancurkan hidup mereka. Dan sekarang ku dengar rumah tangga Dera sedang berantakan. Dan aku tak memerlukan kamu lagi” cibir Bagas.
“Tidak. Kau pasti berbohonh! Kau pasti masih mencintaiku!!” pandangan Lidia kini tertuju pada perempuan yang masih bergelayutan di lengan Bagas. “Ini semua menggilapasti karena wanita j*lang ini!!” bentak Lidia pada perempuan yang menggunakan pakaian seksi itu.
“Heyy.. jaga mulutmu. Kamu juga tak kalah J*LANGNYA LIDIA!!”.
Lidia yang mendengar ucapan Bagas seketika menggila dengan menarik rambut perempuan tersebut. Karena tidak terima atas perlakuan Lidia akhirnya Wanita itu juga balas menarik rambut Lidia.
Hingga suasana klub pun menjadi ricuh oleh pertengkaran dua manusia.
“LIDIA HENTIKAN!!”bentak Bagas mencoba melerai perkelahian merekaa. Namun Lidia bagaikan macan yang sudah tidak sabar mencabik mangsanya. Pihak keamanan pun akhirnya datang untuk melerai pertengkaran yang terjadi.
“Usir dia dari sini!” Titah bagas pada pihak keamanan menatap pada Lidia. “Aku tidak mau.. aku tidak mau.. aku belum selesai menghajar Wanita j*lang itu!!” Lidia memberontak saat tubuhnya mulai di seret paksa oleh pihak kemanan klub.
“Brengs*k” umpat Lidia memukul angin. “jadi selama ini aku hanya dimanfaatkan oleh Bagas?” air mata Lidia mengalir dengan derasnya.
Wanita itu menangis tersedu-sedu mengingat hubungan gelapnya dengan Bagas selama ini berakhir sia-sia.
Dia pikir setelah Bagas mengungkapkan rasa cintanya dulu, Lidia berangan bisa menjadi istri Bagas, walaupun hanya istri siri saja. Yang penting ssemua kebutuhan tercukupi.
Tangisan Lidia mulai menyurut Ketika dia menyadari sesuatu.
"Hanya Kendra yang tulus mencintaaiku selama ini. Dan aku menyia-nyiakannya demi laki-laki pengecut itu” Lidia tertawa pelik atas kebodohannya.
Ingatan Lidia melayang pada beberapa tahun yang lalu dia sempat diusir begitu saja di keluarga Kendra karena permasalah yang pernah dia lakukan sebagai mata-mata di perusahaan Kendra.
Tunggu sebentar, tadi Bagas menyebutkan bahwa rumah tangga Kendra sedang tidak baik-baik saja. Apa aku coba lagi ya untuk mendekati Kendra?? Siapa tau dia bisa luluh kembali dan menyayangiku seperti dulu.