PLEASE, LOVING ME

PLEASE, LOVING ME
PERNYATAAN CINTA



Setelah acara peresmian taman Butscahrd, semua membubarkan diri tak terkecuali Sekretaris Rey dan Mira. Mereka ingin menghabiskan waktu luangnya untuk meetime berdua.


"Mir, kamu mau kemana? Ayo aku turuti” ajak Sekretaris Rey pada Mira yang sedang berjalan menuju mobilnya.


“Tidak ah, tidak ada tujuan yang ku tuju Sekretaris Rey" ucapnya. Namun Sekretaris Rey tak tinggal diam, mobil yang dikendarainya melaju ke sebuah Restoran di pusat kota. Dia sengaja ingin makan malam di luar karena beberapa hari dia selalu makan di apartemen dengan pesanan Gofo*d.


Di sebuah Restoran semua makanan telah tersaji dengan lengkap. Namun yang ada hanya rasa canggung antara Sekretaris Rey dan Mira. Sepertinya Mira memang sedikit berubah, dulu dia tak pernah terlalu pediam.


Sebenarnya apa yang kamu sembunyikan dariku?


Sekretaris Rey hanya diam dan menatap Mira tanpa ada sepatah kata yang keluar dari mulutnya. Hening.


Beberapa menit berlalu tanpa ada pembicaraan diantara merema. Mira juga tak tau harus memberitahu tentang Gerald atau tidak. Ya walaupun dia belum yakin apakah Sekretaris Rey bisa mendengarkan kebenarannya atau tidak. Mira mengambil jus naga di atas meja untuk menenangkan pikirannya sejenak. Asap tipis yang tadinya mengepul dan menari-nari di atas gelasnya kini telah hilang. Es-nya hampir tak lagi dingin. Pertanda minuman itu telah berdiam lama di tempatnya.


Sementara itu, Sekretaris Rey terus menatap setiap pergerakan Mira yang tetap diam seribu bahasa, seolah dia memang sengaja menunggu Mira untuk memberitahu tanpa dia minta. “Sekretaris Rey” panggilnya tiba-tiba memecah keheningan.


“Panggil Rey saja. Bukankah aku selalu meminta untuk tidak memanggil Sekretaris Rey jika berada di luar jam kantor?” jawab Rey dengan wajah datar.


“Iya Rey”


“Hemm? Mau ngomong apa?” tanya Rey dengan singkatnya.


“Mengapa kau menatapku seperti itu?” tanya Mira menatap wajah tampan tersebut.


“Tidak apa-apa. bisa kah aku melanjutkan perkataanku yang tadi terpotong?” tanya Rey mengingatkan.


FLASHBACK ON.


Sekretaris Rey dan Mira memutuskan untuk pulang setelah acara tersebut selesai. Matanya mencari sebuah mobil yang tadi diparkiranya.


Di dalam mobil.


“Mir, apa kamu tak mau menjalin kasih dengan seseorang?” tanya Sekretaris Rey pada Mira yang tengah fokus pada jalan di depannya.


“Belum tau Sekretaris Rey. Oh ya by the way apakah itu tadi Danu Hartono? Yang tadi berdiri bersama seorang wanita disampingnya?”tanya Mira mengalihkan.


“Iyaa, tadi itu calon istrinya, Nona Seva.” Sekretaris Rey tak melanjutkan pertanyaannya lagi. Dia tau mungkin ini waktunya tidak tepat, akhirnya mobil melaju ke sebuah restoran yang dipercaya romantis yang berada di pusat kota.


FLASHBACK OFF.


“Bisakah aku melanjutkan perkataanku yang tadi terpotong?” tanya Sekretaris Rey.


Mira hampir terlupa jika sebelumnya Sekretaris Rey akan mengatakan sesuatu yang diinginkannya.


“Tentu Rey. Silahkan katakan saja” ucap Mira.


“Aku hanya ingin meminta satu hal darimu”


“Iya, apa?” Mira bertanya dengan menatap wajah Sekretaris Rey dengan lekat.


"HHah?” Mira memekik tanpa kata. Dia tau hatinya memang mencintai Rey namun Gerald kembali dan itu membuatnya semaakin gegana dengan adanya Rey di kehidupannya.


"Apa maksudmu Rey?” tanya Mira memastikan. Terlihat guratan senyuman miring di bibirnya.


“Apakah kau lupa? Jika aku pernah berkata akan mejagamu? Aku sangat bersungguh-sungguh kala itu. dan aku ingin agar kau mempercayai hal itu. Bagaimana keadaannya nanti aku akan tetap menjaagamu. Percayalah, dan tenanglah”ucapnya dengan nada begitu menenangkan. Sebenarnya Sekeretars Rey pernah mengungkapkan perasaannya ketika Mira ingin pulang kampung saat berada di bandara namun hal itu di gagalkan oleh Mira.


Mira pun tertegun. Sekretaris Rey adalah pria yang baik. Sedari awal, lelaki itu yang menolongnya ketika dia dalam proses healing melupakan Gerald dan selalau ada saat dirinya membutuhkannya. Selang beberapa saat Sekretaris Rey mengulurkan tangannya dan mengajak Mira berdansa di saat para tamu di resto tersebut sedang focus menikmati makannya. Namun untungnya ada satu pasangan lagi yang berdansa menikmati keindahan malam itu.


Mira masih bertanya-tanya bahkan samapi sekarang Sekretaris Rey ingin menjaganya walaupun dia adalah seorang perempuan biasa. “Apa yang sedang kau pikirkan Mira? Mengapa sejak tadi kau terus melamun? Tidakkah kau ingin membagi beban itu denganku? Ucap Sekretaris Rey yang seketika membuyarkan lamunan Mira.


“Ehm, maafkan akau Rey. Aku memikirkan sang ayah yang sedang sakit di kampung halaman” jawabku dengan brusaha mengalihkan pembicaraan. Kenapa kau terus berbohong pada ku Mir? Kapan lagi kau mempercayaiku atas segala hal yang menjadi beban bagimu dan kau ceritakan padaku. “Ehm, bernarkah? Apakah hanya itu saja? Bukankah aku juga pernah bilang jika ekspresimu sangat nyata? Terlihat jelas wajah cantikmu saat ini sedang ketakutan. Ayolah, aku tidak menyukai hal itu” telisik Seretaris Rey degan wjah serius.


“Oh ya Rey bagaimana jika aku berusaha menerapkan ilmu bisnis ekonomiku di perusahaan? Agar aku menjadi seorang CEO perempuan muda hehe” ucap Mira dengan lagi-lagi memutarkan sebuah permbicaraan.


“Haruskah kau bersusah payah menjadi seorang CEO? Ehm bagaimana jika aku mengusulkan hal lain?” ujar Sekretari Rey.


“Kamu memiliki rencana lain untukku Rey? Apa?” tanya Mira dengan wajah antusias dan bersemangat.


“Bagaimana jika kau menjadi istriku?” celetuknya tiba-tiba.


"Hah? APa Rey? Mira memekik dengan manik mata seketika membelalak.


“Menjadi istri ku?” ulang Sekretaris Rey sekali lagi dengan senyuman yang tidak lepas dari sudut bibirnya. Astaga apa aku sedang dilamar? Tapi kan aku belum menceritakan masalah Gerald? Aku tidak mau nantinya masalah Gerald akan membuat hubunganku dan Rey menjadi runyam.


“Apa kau sedang bbercanda Rey?” tebak Mira masih dengan posisi dansa.


"Tidak” jawabnya singkat. Mira semakin mendelik dan bingung harus berkata.


“Apa kau meyukaiku Rey? Aku sedang tidak bermimpi kaan?” tanya Mira lagi.


“Ya, sejak awal. Sejak aku melihatmu bersama Dera” jawabnya dengan santai seraya mengerlingkaan matanya. Mira bergeming. Ini adalah pertama kalinya bagi Mira seorang laki-laki memintanya untuk menjadi istrinya. Bahan Gerald pun yang kita pacarana lama belum pernah membahas sejauh ini.


"Tenanglah, walaupun aku bukan seorang CEO dan tidak sekaya Kendra tetapi aku akan tetap setia denganmu. Dan yang terpenting aku aakan tetap menjagamu dan menerima apapun dirimu bahkan dengan masa lalumu. Dan bukankah itu akan lebih mudah bagiku untuk menjaga mu?” ujarnya dengan tatapan yang tidak lepas menatap Mira.


"Ehm tapi Rey” ucap Mira tertahan berniat memberitau tentang masalah keluarga dan masa lalunya bersama Gerald. “Tapia pa? kamu ingin menceritakan masalah tentag Gerald padaku? Itu yang membuat wajah cantikmu terus melamun dan gelisah akhir-akhir ini?” terka Sekretaris Rey.


Mira menganggu, masih dengan menunduk karena malu membicarakan hal itu pada seorang Sekretari Rey. Tiba-tiba Rey mengangkat dagu Mira dengan jemarinya. Dia menghadapkan wajh Mira tepat di depan wajahnya. Seketia dia jjuga menedekatkan kepalanya persis di haadapanku.


“Bukankah kita belum pernah mencobanya? Mengapa kau begitu gelisah akan hal itu? aku atetap akan menajagmu, percayalah” ucapya dengan tatapan mata begitu teduh dan menenangkan. Perkataannya seketika membuat Mira terhenyal. Walaupun Mira juga belum sepenuhnya percaya dengan perasaaan Rey yang seungguhnya. Di sisi lain juga Mira takut jika nantinya Gerald mencelakai Skeretaris Rey. Namun juga Mira berada senang karena ada seseorang yang berada di pihaknya saat ini. Bahkan dia berniat untuk menjaga dan membuatnya merasa tidak sendiri.


Entah mengapa itu sangatlah berarti dalam kekalutannya saat ini. Apakah aku harus menerimanya? Ya Allah apakah dia adalah memang jodohku yang kau kirimkan?


...________...


...Ada cinta yang telah tumbuh...


...Tapi juga cinta yang butuh pengakuan....