PLEASE, LOVING ME

PLEASE, LOVING ME
episode #46



Ketukan pintu membuat Dera segera mengakhiri panggilan. Sekretaris Rey muncul. Masih dengan wajah yang sulit di tebak suasana hatinya.


“Nona, Pak Bos Kendra ingin makan buah”


“Baik, kalau sudah siap nanti saya antar ke ruang kerja Mas Kendra. Oh ya, apa Anda yang mengirim semua bahan dan barang itu ke kue?” Dera ingin memperjelas pada Rey.


“Iya"


Hanya menjawab satu kata? Wah sepertinya Anda perlu belajar belajar kosa kata yang banyak Sekretaris Rey!!


“Aku tidak memintanya, begitupun Ibu ku” Dera merasa kesal karena diapun tak meminta, benar-benar diluar kendalinya. Karena dia pikir Kendra tidak akan ikut campur masalah bisnisnya dengan keluarga.


Memang omsetnya tidak terlalu besar, bahkan dia bisa saja menggunakan kartu yang diberikan Kendra lebih besar dari omset bulanannya.


Toko ini bermodalkan resep turun temurun dari sang nenek dan di inovasi oleh Ibu nya.


“Maaf, itu perintah Pak Bos Kendra. Saya hanya melaksanakan perintah”


“Oke, fine, baik. Anda melaksanakan perintah, tapi bukankah itu nantinya akan mubadzir, bagaimana jika bahannya akan kadaluarsa dalam waktu dekat, dan untuk barang-barangnya, mungkin ku rasa sudah cukup banyak barang yang ada di toko. Kenapa juga harus ditambah dengan bahan dan barang dari Mas Kendra”


“Apa mau Fallery bakery saya pindahkan ke tempat yang lebih luas” jawab Rey.


“Tidak, bukan begitu. Ini adalah usaha ku dan keluarga, biarkan usaha kami berkembang apa adanya tanpa ikut campur tangan kalian”


“Kenapa?”


“Kenapa apanya?” Dera gusar bertanya.


Rey diam tidak menjawab. Dia hanya melihat Dera lekat.


Kenapa? Anda ingin lari dari Pak Bos Kendra suatu hari nanti?”


“Silahkan Nona, Pak Bos Kendra menunggu Anda” karena Dera tidak memberikan pertanyaan lagi, Rey meminta Dera turun.


“Minggir” Dera mendorong tubuh Rey yang tidak bergeming dengan tenaganya.


“Kau tidak punya hati nurani ya, selain berurusan dengan Mas Kendra” mendengar ucapan Dera, Rey tetap tidak bergeming.


“Apa yang kau lakukan? Kenapa lama sekali?”


Kendra yang sudah selesai menandatangai berkas, dia kesal menunggu.


“Maaf Pak Bos”


Dera membawa nampan berisi buah. Mendekat. Sementara Rey juga mengikutinya masuk ke dalam ruangan kerja.


“Kau kenapa? Wajahmu begitu di tekuk. Sudah jelek makin jelek jadinya” Kendra seperti biasa membaca aura di wajah Dera, apalagi gadis itu melengos ketika Rey masuk ke dalam ruangan.


“Tidak apa-apa Mas, terima kasih sudah mengirimkan bahan kue dan barang untuk toko kue Kami” Bahan dan barang tidak berguna, gumam-gumam.


“Kau suka?” Malah Kendra yang merasa antusias.


“Iya” suka apanya, bisa-bisa aku buka toko untuk bahan dan barang yang telah kau kirimkan.


“Ya sudah mas, saya ijin kembali ke kamar. Jangan terlalu larut kerjanya. Katanya tadi pagi sakit kan?”


Dera mengingatkan sang suami. Tiba-tiba Kendra tersedak karena mendengar ucapan Dera.


Rasakan kau, sakit kan. Gak seberapa sakitnya hatiku saat ini mas.


Dera kembali ke kamarnya dengan membawa nampan yang telah kosong.


Seperti biasa, Dera menunggu Kendra hingga kembali dari ruang kerjanya.


Tepat jam 22.00


Kendra telah kembali. Dia telah berada di ranjangnya, Dera pun menyusul.


Aha, waktu yang tepat nih untuk membicarakan masalah makrab (Malam keakraban) bersama temen kelas.


Dera mengumpulkan niatnya. Tarik nafas Panjang dan menghembuskannya.


Dia memposisikan tidurnya senyaman mungkin, dan menghadap ke arah Kendra.


“Mas, apa boleh aku ikut makrab?”


Kendra langsung melirik ke arah Dera dengan lirikan maut nya.


“Gak boleh. Kamu harus dirumah. Kalau pengen jalan-jalan bilang sama Lula, biar diantar dia”


Benerkan gak boleh, sudah ku duga.


Daripada aku harus berbicara di tanggapi mending aku tidur saja.


……………………….


Ponsel Kendra berbunyi. Tepat setelah Dera tertidur.


Dia segera menekan tombol hijau dan pergi agak jauh dari istrinya.


........................


Di rumah Alexander & Ayu (Mama Papa Kendra)


“Gimana Pa? Kendra percaya gak?”tanya Mama dengan antusias.


“Percaya lah ma. Tunggu aja besok” Alex membanggakan dirinya karena telah membuat Kendra mau menurutinya.


Senyum kebanggaan Alex dan Ayu. Sedangkan Alula tetap cemberut karena orang tuanya merahasiakan sesuatu darinya.


………………………..


Pagi harinya, tiba-tiba saja Dera merasa sangat jenuh berada di rumah.


“Mas, aku ikut ke kantor ya. Aku sangat bosan dirumah terus. Hampir sebulan aku tak ada kegiatan”


Kendra yang selesai makan itu, mendengarkan apa yang di inginkan istrinya.


“Boleh saja, silahkan ganti pakaianmu. Gak pakai lama. 15 menit harus sudah siap. Kalau lama ku tinggal”


AKhirnya aku bisa keluar dari rumah ini walaupun hanya pindah ke kantor Kendra.


Sesampainya di kantor Kendra, Dera yang menjadi pusat perhatian orang banyak segera berjalan di belakang Kendra.


Semua mata melihat dan bertanya-tanya saat melihat Dera berjalan di belakang Kendra. Dia pun tak menghiraukan. Dera berjalan menunduk hingga sampai di dalam ruangan Kendra.


Setelah masuk ke ruangannya Kendra duduk di kursinya dan menyalakan Laptop. Dera duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Tidak berapa lama datanglah Nisa sekretaris kedua Kendra jika di kantor.


Hanya jika di kantor saja dan itu pun hanya untuk menghandel perkembangan PT Petra Corp.


Bagaimana aku akan menyampaikan pada Dera tentang permintaan Papa mengenai seorang cucu.


Hubunganku dan dia saja seperti kucing dan anjing.


Argh kenapa harus terburu-buru punya anak sih, aku harus cari alasan apa.


Nisa masuk mengantarkan kopi.


“Buatkan segelas susu untuknya juga” Perintah Kendra pada Nisa.


“Baik Pak” Jawab Nisa pada Kendra lalu memandang Dera yang sedang duduk di Sofa.


Kendra meninggalkan Dera di dalam ruangannya sendiri. Kendra melangkah ke ruangan Sekretaris Rey untuk mencari solusi.


“Rey, bagaimana ini Papa memintaku untuk segera memiliki anak. Sedangkan kamu tau sendiri hubunganku dan Dera seperti apa”


Rey tak kaget mendengar apa yang dikatakan Pak Bosnya karena ini memang skenario antara dia dan kedua orang tua Kendra.


“Menurut saya, lebih baik Anda turuti saja kemauan mereka. Nantinya juga mereka akan tumbuh semakin menua Pak Bos”


“Kamu menyumpahkan orang tuaku!”


“Tidak, memang begitu adanya”


“Jika memang iya, aku harus memulai nya dari mana?”


“Bicaralah empat mata Pak Bos, yakin lah semua akan baik-baik saja”


“Kalau dia tidak mau gimana?”


“Ya di coba dulu Pak Bos”


“Oke, akan ku praktikkan hari ini juga”


Kendra kembali lagi ke ruangannya. Dia duduk dan menyusun skenario yang harus dilakukan untuk meminta Dera mengandung anaknya.


5 menit kemudian Nisa masuk lagi ke dalam ruangan Kendra membawakan segelas susu untuk Dera dan menaruhnya di atas meja Kendra. Setelah itu keluar dan menutup pintu kembali.


“Minum Susumu!” perintah Kendra pada Dera.


“Aku masih kenyang Mas, baru saja sarapan. Nanti ya mas” Jawab Dera.


“Sini!” Panggil Kendra sambil melambaikan tangannya. Dera pun berdiri dan mendekat kearah Kendra.


.


.


.


puji


.


Cinta memang tak selalu manis, tapi aku yakin. Cinta akan selalu pulang pada rumah utamanya.