PLEASE, LOVING ME

PLEASE, LOVING ME
HARU



Hello guys apa kabar nih. Semoga selalu baik-baik saja ya. Eits tapi untuk masalah hati apa kabar? Semoga selalu baik-baik juga sama si doi hehe.


Jangan lupa like, comment dan follow ya. Baca juga novel HELLO DOSEN KUTUBKU. Terima kasih.


___________________


Sembari menunggu istrinya di periksa, Kendra menenangkan diri dan mengingat sepertinya ada yang kurang dan mengganjal dihatinya.


“Oh ya, aku ingat. Ini pasti Rey sudah mendapatkan informasi tentang Brian. Aku telfon saja dan memintanya datang kesini”ucap Kendra sembari mengetikkan pesan untuk Sekretaris Rey.


“Rey mana Ken? Ko ga keelihatan?” Frans menanyakan keberadaan bestinya tersebut karena biasanya jika ada Kendra maka disitu ada Rey.


“Tunggu saja dulu. Dia sedang perjalanan kesini” ucapnya.


Beberapa menit Kendra menunggu diluar ruangan, akhirnya dia pun mendapat panggilan dari sang suster.


“Tuan Kendra Alexander” suara suster memecah konsentrasi Kendra.


“Bro, masuk sana gih. Istri lo mungkin udah saatnya lahiran” ucap dokter Frans sembari menepuk bahu Kendra.


Setelah mendapat support dari sang teman, dia pun segera masuk ke ruang persalinan. Disana sang istri tengah ada dalam posisi siap untuk persalinan. Pembukaan demi pembukaan dirasakan begitu sakit.


“Mas, aku ga kuat mas. Sakit banget” rintih Dera yang sudah tak kuat lagi untuk merasakan pembukaan.


“Kamu harus kuat sayang, kamu bisa”


“Mas, aku pengen di operasi aja sekarang mas. Aku ga mau nunggu nanti sore!!” rasanya ingin Dera menyerah begitu saja.


“Nyonya, dokter sedang ada urusan. Dan bisa operasi nanti sore. Maaf ya Nyonya, Tuan”


“Apa ga ada dokter lain? Dokter yang kompeten yang bisa menangani istri saya! Apa perlu saya….AWWWW” Kendra yang tengah bicara panjang lebarpun seketika beralih pada tangannya yang di gigit oleh Dera.


“Sakit.. hiks hiks”


Mengetahui Dera yang semakin kesakitan, membuat suster mengecek pembukaan pada Dera.


Dokter kandungan pun dipanggilnya setelah mengetahui Dera telah mengalami pembukaan sempurna.


“Tuan, tolong damping Nyonya Dera dan berikan support terbaik ya” pintanya.


“Baik, Dok” ucap Kendra.


Dokter dan beberapa perawat mempersiapkan segalanya mulai dari persalinan hingga peralatan yang diperlukan.


“Nyonya, ikuti intruksi saya ya. Ingat jangan mengejan terlalu keras ya”


Ucapan sang Dokter hanya dijawab anggukan oleh Dera.


“Sayang , kamu pasti bisa. Kamu pasti kuat” Kendra hanya mampu menyemangati istrinya. Kening yang terus dikecup sebagai support system. Dan juga dia rela jika badannya jadi korban kekerasan Dera selama persalinan.


“Tarik nafas bu, hembus kan”


“Tarik nafas, hembus kan” beberapa intruksi diberikan pada Dera. Rasa sakit yang tak mampu ditahannya lagi membuat tangan dan rambut Kendra jadi sasaran. Tak ada tolakan dari suaminya, Kendra benar-benar ingin merasakan bagian dari sakit yang istrinya rasakan. Hingga di intruksi sebelum kelahiran sang anak, tiba-tiba…


Terdengar suara bayi yang telah lahir dari rahim Dera. Namun sayang, Dera kehilangan kesadaran.


“Dokter, istri saya. Istri saya. Lakukan yang terbaik kalau tidak rumah sakit ini akan saya tuntut!!” Titah Kendra karena rasa khawatir pada nyawa sang istri. Tidak mungkin Kendra rela kehilangan sang istri walaupun sang anak sudah ada di hadapannya.


“Baik Tuan. Silahkan keluar dan dokter kami akan melakukan yang terbaik”


“Saya akan tetap disini. Anda paham” titahnya pada sang perawat yang mengharuskan berbuat lebih tegas pada Kendra.


“Jika Tuan tidak keluar sekarang juga maka akan menambah resiko untuk istri Tuan”


Tidak ada pilihan selain menuruti apa kata perawat. Kendra tidak tau harus bagaimana, langkahnya gontai, lemah dan tak berdaya meninggalkan sang istri ada di dalam ruangan.


Frans tau betul apa yang terjadi, dia tidak bertanya pada Kendra. Frans hanya menepuk bahu sang sahabat dan memberinya minum untuk menenangkannya.


“Kendra, Frans bagaimana Dera? Dimana dia? Sudah lahiran apa belum?” tanya sang Mama Kendra ketika telah sampai di rumah sakit.


“Tante, tunggu dulu tante. Dera sedang ada di dalam. Ada sesuatu yang terjadi di dalam sehingga Kendra diminta untuk keluar” Frans mewakili Kendra untuk menceritakan yang terjadi.


“Astaga Frans. Maaf tante ga tau. Ya Allah Nak, semoga Dera mampu bertahan ya Nak. Kamu bisa, Nak. Kamu kuat” ucapnya sembari di kuatkan pula oleh Alula. Sedangkan Alexander hanya mampu memperhatikan orang yang ada disekitarnya. Dia pun bingung harus bagaimana karena ini juga adalah cucu pertama dari menantunya.


Satu jam berlalu. Sang jabang bayi yang telah dilahirkan telah dimandikan dan dibersihkan pula ari-arinya. Perawat yang mewakilinya pun menemui keluarga Kendra.


“Dengan keluarga Nyonya Dera. Ini anaknya alhamdulillah telah selamat dan bisa di adzankan di ruangan sana” ucapnya pada Kendra dan menunjuk ruangan yang dimaksud.


“Baik Sus. Istri saya bagaimana?” tanyanya sembari mengharap sebuah keajaiban tentang Dera.


“Istri Tuan belum sadarkan ini karena beliau masih kekurangan oksigen. Namun tenang beberapa jam kedepan insyaallah sudah bisa siuman” jawaban itu lah yang sangat diharapkan Kendra.


Akhirnya langkahnya pun dibimbing menuju ruangan untuk bayi. Tepat di incubator di dekat jendela yang membuat keluarganya yang lain mampu melihat dari luar. Kendra mengadzankan bayinya sekaligus memberi nama “AFRIO HECTOR ALEXANDER” yang artinya anak yang percaya diri, tabah dan keturunan dari Alexander.


Tidak terasa saat mengadzani anaknya, Kendra meneteskan air mata haru mengingat sang istri telah melahirkan anak dan justru kini dirinyalah yang harus berjuang seorang diri di ruang ICU setelah melahirnya putra kesayangannya.


“Hello Afrio, lihatlah Mommy mu sedang berjuang di ruangan sana. Dia telah memperjuangkan kamu hingga kini kamu ada di bumi. Semoga kelak kamu akan jadi laki-laki yang bisa kami andalkan, yang bisa menjaga Mommy mu seperti Daddy yang selalu menjamin keselamatan kalian berdua” air mata terus mengalir. Tanpa sadar keluarga Kendra dan keluarga Dera yang telah sampai di rumah sakit itu pun merasa haru memperhatikan wejangan dari sang Daddy pada anaknya.


____________________


Dua keluarga yang sedang berdiri memperhatikan pria yang sangat menyayangi anaknya.


“Terima kasih ya telah memberikan pria yang baik untuk menikah dengan anak kami. Pasti Papa Dera disana bangga dan bahagia memiliki menantu dan keluarganya juga menyayangi anaknya” ucap Bunda Dera pada Mama Kendra.


Mendengar kalimat tersebut terlontar begitu saja membuat Mama Kendra juga merasa haru karena secara tidak langsung Dera telah berjuang hidup dan mati memberikan seorang anak yang akan menjadi bagian dari hidupnya.


Suasana yang haru pun semakin menjadi ketika memperhatikan Kendra mencium malaikat kecil yang ada disana.


..._____________...


...Quotes...


...Suaranya kalau lagi telfonan, cara dia membalas chat, wangi parfumnya, cara jalannya, postur badannya, cara dia senyum, ketawanya ketika berbicara, genggaman tangannya, cara dia ngelihat kearahku, ragkulan hangatnya, cara dia benerin rambutnya, cara dia mengelus kepalaku dan cara dia memperlakukanku and everything about him, semuanya masih terekam jelas. I REALLY MISS HIM...