
Jangan lupa vote dan sarannya ya man-teman.
Karena saran dan masukan dari kalian itu penting banget.
Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semaangat update cerita ini
Terima kasih sudah membaca ceritaku
Dan jangan lupa memberi bintang 5 ya🌟🌹
Happy reading
🌹☺️
Tangannya mengepal kuat. Kendra tidak suka dengan perkataan istrinya tadi “Iya, aku suamimu. Ayah dari baby ini. Apa nya yang lucu? Bukanlah sesuatu hal yang bisa kau jadikan lelucon Dera" Di sisi lain Kendra mulai geram, Namun disisi lain juga dia harus sabar menyikapi istrinya yang tengah hamil.
“Oh benar saja. Menurutku memang itu sebuah lelucon Rasanya aku ingin tertawa sekarang”
Amarah langsung menyelimuti diri Dera. Namun Kendra mencoba untuk mengontrol emosinya. Tidak ingin membuat istrinya terluka apalagi ada malaikat kecil yang harus dijaga.
“Aku suamimu Dera. Bersikaplah sopan padaku. Ada apa sebenarnya, ceritakan saja? Apa ada yang mengomporimu sesuatu yang tidak benar? Siapa? Biar ku cari dia!! tapi jangan bersikap seperti ini padaku” ucap Kendra dengan menatap tajam istrinya.
Dera mendengar perkataan kendra langsung tertawa.
Sungguh lucu sekali.
“Haha… suamiku..” kata Dera sambil menatap tajam dua bola mata itu. Bera berusaha tidak berpengaruh sama sekali dengan tatapan intimidasi itu.
"Tidak ada yang namanya suami menyimpan bangkai selama hampir setahun kita menikah. Menyimpan dan memberikan tempat khusus bagi perempuan masa lalu nya. Memberikan KAMAR dengan penuh kenanganmu bersamanya. Lantas, apakah masih bisa ku sebut DIRIMU MENYAYANGIKU?!! MENYIMPAN DENGAN RAPI BAHKAN MEMPERLAKUKANNYA SECARA ISTIMEWA.
"Oh ya, satu lagi. Memanggil nama perempuan lain di hadapan istrinya. APA ITU PANTAS MAS?!!”
Deg
Kendra tertegun dengan perkataan Dera. Dia tak menyangka sosok Dera yang lembut dan tak pernah marah, kini seakan berubah menjadi wanita yang tak dikenalinya.
“Tidak ada perempuan lain selain kamu. Aku suami mu, aku milkmu. Lantas apa maksudmu mengenai sebuah perlakuan istimewa bagi perempuan di masa lalu ku? aku tidak memperlakukan siapapun dengan istimewa. Cuma kamu di hatiku, kamu berarti di hidupku sayang"
Kendra berusaha meraih wajah Dera, namun dia bisa menghindar karena memang Kendra sudah keterlaluan.
Dan sekali lagi Dera tertawa mendengar perkataan Kendra. Diperdengarannya Kendra seperti sedang membual sekarang dan berpura-pura tidak tau mengenai Lidia.
Dera tertawa di iringi dengan buliran kristal yang mulai membasahi kedua matanya. Entah kenapa rasanya sangat sakit sekali melihat laki-laki yang dia cintai membohongi nya.
Bisa-bisa nya Kendra masih tak jujur mengenai Lidia. Itu yang membuat Dera makin marah.
Sebenarnya Dera hanya butuh kejujuran dan pengakuan saja. Tidak lebih.
Diusapnya dengan kasar buliran kristal itu. Dera tidak ingin terlihat lemah di hadapan laki-laki yang telah menghianatinya.
“Tapi tidak dengan hatimu. Aku sama sekali tidak memiliki itu. Walaupun ada bayi ini di dalam rahim ku belum tentu kamu mencintaiku sepenuhnya. Buktinya saja kamu masih menyimpan rapi semua kenangan mu bersama Lidia. Apa kamu pikir aku tidak tau tentang kamar yang selalu di kunci, yang ku pikir awalnya itu gudang atau kamar yang tak terpakai.
Ternyata aku salah, hahaha bodohnya aku yang selama ini tidak berusaha mencari tau apa isi kamar itu sesungguhnya. Tenang saja Kendra, jika kamu mau kembali ke perempuan itu silahkan. Biarkan aku hidup dengan anak ini sebisa ku.
Aku pun tak meminta apapun dari mu. Cukup kamu membiarkanku hidup dengan tenang dan bahagia sudah lebih dari cukup” jawab Dera dengan menatap lekas iris ata Kendra
“Untuk apa aku memiliki ragamu tapi hatimu saja masih terbayang wajahnya? Hubungan yang dijalani tanpa ada hati yang penuh cinta dan tulus akan percuma jika kamu tak memiliki perasaan yang sama!!" Panjang lebar Dera berbicara. Dan sepanjang itu pula dia berusaha untuk tegar mengucapkan setiap kata yang keluar dari mulutnya.
Kendra terdiam dengan tatapan dari sang istri. Dia mencoba untuk mengabaikannya.
“Aku hanya milikmu Dera, berhenti berbicara yang tidak ada gunanya” ujar Kendra dengan dingin.
"Sudah lah, mungkin ini hanya hormon kehamilanmu saja. Aku akan menyiapkan sarapan untukmu dan membawanya kesini, agar kamu tak usah repot-repot ke bawah. Tunggu, aku akan meminta Bibi membuatkan makanan capcay ayam untukmu” Kendra lantas bangkit dari duduknya dan mengalihkan pembicaraan.
“Jangan berusaha mengalihkan ku. Dan apa kau yakin dengan perkataanmu itu? Apa kau tidak sedang membual sekarang? Omong kosong apa lagi ini, HA?!"
Langkahnya Kendra yang tadinya ingin mengambilkan makanan untuk Dera langsung terhenti ketika mendengar perkataan istrinya “Apa maksudmu Dera?”
“Tidak perlu berpura-pura bodoh Kendra. Aku tau semuanya”
Kendra terdiam di tempatnya. Jantungnya berdetak tidak beraturan.
“Lidia, mantan kekasih yang sangat berarti bagimu bukan. Kalian saling menyayangi namun hubungan yang kalian jalin di tentang oleh Papa Alex. Kalian juga hampir menikah namun kehadiran ku yang tiba-tiba ada di tengah-tengah kalian sehingga terpaksa kamu backstreet dengannya. Dan saat akad pernikahan kita akan terlaksana, saat kami semua menunggu kedatanganmu ternyata kamu sedang Video Call dengannya. Bukan kah begitu?” dera mengingat semua yang diucapkan Kendra.
Dera tersenyum tipis melihat keterdiaman dan keterkejutaan suaminya itu.
Dera yakin berarti memang benar tebakannya. Bahkan di kamar Kendra ada beberapa barang yang menurutnya itu barang seorang cewek. Misalnya saja dengan sebuah liontin yang pernah di temukan di sebuah laci.
Rahang Kendra mengetat. Ketakutan yang dialami beberapa hari ini akan terjadi.
“Lalu?! apa lagi yang kamu tau!! Kenapa tidak sekalian saja kau buka di depanku?! Buka semua!!" Tanya Kendra dengan tatapan dingin yang menusuk.
"Aku kecewa padamu. Dulu ku kira kamu orang yang sangat menyayangiku, tapi ternyata? kau bisa menyembunyikan semuanya tanpa ku tau. Aku kecewa padamu Mas.
Awalnya aku sebisa mungkin tidak mencintaimu, namun lambat laun kau bersikap seolah agar aku bisa menerima mu. Tapi sekarang??"
Dera menatap lekas iris mata itu. Sungguh berat untuk mengatakannya. Pergi atau bertahan adalah sebuah pilihan tersulit ntuknya.
Tapi Dera lebih baik memilih. Daripada nantinya ada hati yang selalu berkorban menghadapi sebuah kebohongan dengan kebohongan.
Dengan mata yang mulai berkaca-kaca, Dera menatap sendu wajah itu.
Ada yang retak tapi bukan kaca. Ada yang berdarah tapi bukan luka.
“Kenapa kau tega melakukan ini? Apa salahku? Kamu bilang padaku jika kamu akan selalu menjaga ku. berjanji untuk membuatku tersenyum. Lantas kemana pergi janji itu? Tolong lepaskan aku. Jika bahagiamu tidak bersamaku, aku iklas menerimanya.”