PLEASE, LOVING ME

PLEASE, LOVING ME
PEMAKAMAN



Ruang Rawat Burhan.


Sekali, dua kali dan tiga kali di coba. Alat pacu jantung pun tak berhasil.


"Tidak ada respon sama sekali. Pasien dinyatakan meninggal Senin pukul 14.05. Semua alat bantu bisa dilepas semua sus" ucap Dokter.


Suster melepas semua alat yang ada di tubuh Burhan.


Ayah Dera dinyatakan meninggal.


Dokter yang menanganinya keluar dari ruangan dan menemui keluarga Burhan.


Lestari yang semula duduk langsung berdiri untuk menanyakan keadaan suaminya.


Begitu pula Sigit sebagai orang terakhir yang bersama Burhan dan sebagai saksi kunci atas insiden tersebut.


“Bagaimana kondisi suami saya dok?” tanya nya setegar mungkin.


“Bu, maaf. Kami sudah melakukan semaksimal namun Tuhan berkehendak lain”


Deg.


Semuanya hancur. Tak terkecuali Novan, Dinda, Alex, Alula, Ayu dan Pak Sigit sangat kaget.


Secepat inikah om? Lantas bagaimana nanti kami menyampaikan pada Kak Dera, sedangkan kini kondisinya saja sangat lemah dan juga hamil. Batin Dinda.


Aku harus menyelidiki kasus ini. Tidak mungkin ini terjadi begitu saja tanpa sebab. Pasti ada dalang di baliknya.


Kalau misalnya mereka berniat merampok pasti barang ada yang hilang. Tapi kata Pak Sigit, orang-orang itu tak mengambil barang apapun dari mereka. Batin Novan yang sebagai abdi negara jiwanya pun terpanggil untuk menyelidiki kasus ini.


Novan lantas mencari keberadaan Kendra.


Dia masuk di ruangan dimana Dera di rawat.


“Kak, ayah Kak Dera meninggal” Novan berbisik pada Kendra agar Dera tak mendengarnya.


Kendra yang mendengar seketika berdiri dari duduknya.


Dia bangun dan mengepalkan tangan dan meninju tembok rumah sakit.


“Shitttt” Umpatnya


“Kak, kenapa gak lapor saja ke kepolisian. Biar ada perkembangan” ucap Novan.


“Van, biarkan ini menjadi urusanku. Kalau kamu mau membantu silahkan” jawab Kendra.


Dia menekan nama sekretaris Rey di ponselnya.


“Cari tau sekarang di lokasi jalan Pancar dekat tugu Pancasila. Cari bukti apapun itu yang dijadikan bukti atas kejadian yang menimpa mertuaku! SECEPATNYA!!" titahnya pada Rey.


Rey yang sudah mengetahui masalah ini dari Black Tiger segera melaksankan perintah Pak Bosnya.


Bagaikan terombang ambing tugas Rey begitu banyak. Belum masalah pekerjaan, masalah Mira yang selalu di intai oleh orang dan ini masalah penjahat yang tiba-tiba muncul di siang bolong.


Hampir 15 menit Dera pingsan, akhirnya kini sadar.


“Ayah…” itu lah yang diucapkannya.


Kendra hanya memperhatikannya dengan sendu.


“Sayang, minumlah dulu. Nanti kita ke Ayah ya..” ucap Kendra menenangkan istrinya.


Setalah Dera minum dan situasinya dianggap membaik. Kendra menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada ayah Dera.


“Sayang, yang tabah ya.. yang sabar.. yang kuat" Kendra berusaha menenangkan Dera terlebih dahulu dan memberinya minum untuk menstabilkan kondisinya.


Setelah Dera minum, Kendra menggenggam jemari Dera.


"Ayah sudah tiada” ucap Kendra dengan segala penekanan nada yang sangat dalam.


Hanya bisa termenung, diam dan menangis.


Dera memaksakan turun dari tempat tidurnya dan sekuat tenaga dia berjalan ke ruangan ayahnya.


Kendra yang melihat istrinya begitu memaksakan diri dan langkahnya yang gontai.


Akhirnya dia memutuskan untuk mengambil salah satu kursi roda yang ada di rumah sakit.


"Tunggu lah sini dulu sayang. Aku akan ambilkan kursi roda untukmu. Jangan paksakan dirimu untuk berdiri jika belum kuat" ujar Kendra.


Novan yang ada di ruangan itu pun merasakan apa yang dirasakan Dera kini. Pasalnya dia juga pernah kehilangan Ayah dan Ibu bersamaan akibat kecelakaan.


Hingga dia dibesarkan oleh oleh Tante dan Om nya dan di sekolahkan kepolisian. Begitu juga Dinda yang di kuliahkan.


Perlahan, Kendra menggendong tubuh mungil itu di kursi roda, didudukkan dan Kendra mendorongnya.


Hari ini benar-benar hancur. Hari yang terasa melelahkan dan terasa sangat panjang. Sangat tak pernah di sangka oleh Kendra sebelumnya ini semua akan terjadi.


Novan berjalan di belakang Kendra dan memperhatikan sepasang sejoli yang saling menyayangi.


Mengapa tak terjadi pada diriku? Mengapa istriku yang menerima ini. Batin Kendra.


Semakin mendekati ruangan sang ayah, terlihat Alex dan Pak Sigit yang berada di luar ruangan.


Dera pun meminta untuk Kendra mempercepat kursi rodanya.


Dan sesampainya disana.


“A… Ayahhhh” Dera yang kini berada di depan ayahnya hanya mampu memeluk tubuh kaku tersebut.


“Mengapa ayah tinggalkan Dera? Bukankah ayah menginginkan cucu dari Dera. Mengapa Ayah pergi secepat ini” Dera kini hanya menangis dan Kendra memberikan waktu untuk istrinya meluapkan segalanya.


Biadap kau!! siapapun itu.. akan ku temukan dirimu dimana pun!! kau telah menghancurkan hidup istriku, berarti kau juga harus menerima hal yang sama yang di rasakan istriku.. Istri ku kehilangan dan akan ku pastikan dirimu juga akan kehilangan sosok yang kau sayang.. Camkan itu!! Sumpah serapah Kendra mengutuki sang pelaku penusukan yang kini sedang di carinya.


………………………..


Pemakaman.


Sore harinya, ayah Dera dimakamkan. Karena dalam agamanya lebih cepat lebih baik dan jika bisa di lakukan di hari yang sama lebih baik di segerakan.


Pakaian warna hitam mendominasi pelayat yang datang. Mereka masih tak menyangka akan kehilangan sosok Burhan yang tegas namun ramah dan humoris, secepat ini.


Keluarga, Rekan kantor, rekan dari masa sekolah pun datang untuk melepas kepergiannya.


Ayu dan Lestari yang tak pernah jauh dari sang anak perempuan yang sedang rapuh kehilangan sosok pahlawan yang selama ini menjaganya dan mempertemukannya dengan laki-laki yang kini menjadi suaminya.


Novan dan Dinda yang merasa kehilangan dengan sosok Burhan, sebagai om yang baik dan hampir tak pernah marah, selalu romantis dengan tante Lestari walaupun usia pernikahannya memasuki 25 tahun.


Alula yang mengenal sosok Burhan sebagai ayah bagi Kakak iparnya yang sayang pada anak perempuan satu-satunya dan selalu ada waktu.


Berbeda dengan dirinya yang dulu masa kecilnya saja dia terpaksa ikut dengan kakek Anggara karena kesibukan orang tuanya.


Bagi Kendra, sosok Burhan adalah ayah yang baik yang mampu membentuk perempuan yang mandiri dan cantik hatinya yang kini menjadi istrinya.


Apalagi Sigit yang merasa bersalah karena tidak bisa menjaga rekan kerjanya. Dia kecolongan karena pria itu menusuk Burhan saat dia berkelahi dengan pria bertopeng yang lain.


Masih dengan suasana yang sedih dan dengan sekuat tenaga Dera harus bangkit. Dia berusaha menenangkan diri.


Sebelum pulang, Dera dan keluarga menaburkan bunga diatas tanah yang masih basah.


“Sayang, ayo pulang. Hujan hampir tiba” ucap Kendra. Dera hanya menurut.


“Tunggu sebentar mas..” Kendra pun hanya diam memperhatikan segala kesedihan yang dirasakan istrinya.


Dera mendekat ke makan ayahnya dan mencium pusara.


"Ayah, Dera iklas. Semoga Ayah di terima di sisiNya. Besok Dera kesini lagi ya Yah.. Dera sayang Ayah"