
Pagi ini, Burhan (Ayah Dera) menghampiri Lestari (Bunda Dera) di dapur. Beliau melihat kesibukan sang istri yang kini sedang mencoba menu baru untuk Fallery Bakery yang dikelolanya.
"Bunda, ayah pamit ya. Ini ada urusan yang harus di selesaikan" ucapnya.
"Loh, ayah mau kemana pagi-pagi begini"
Firasat Lestari merasa tak enak bertepatan dengan suami yang ijin padanya. Namun dia juga tidak bisa mencegahnya untuk tidak pergi karena memang ini urusan pekerjaan.
"Ada urusan di kota A Bun, paling nanti malam Ayah sudah di rumah. Nanti juga ada Pak Sigit Bun" Burhan menjelaskan pada istrinya agar tidak khawatir.
Dengan mendengar apa yang diucapkan suaminya, Lestari berusaha menghilangka. firasat tak enaknya.
Setelah Sigit sampai di rumah Burhan, mereka berpamitan pada Lestari.
Tas kecil yang dibawanya dimasukkan ke dalam bagasi.
Dinda yang tiba-tiba datang dari dalam rumah, membawakan om nya beberapa cemilan agar tak kelaparan nanti sewaktu perjalanan.
Mobil yang dikendarainya pun melaju dengan perlahan.
Sigit memulai pembicaraan agar suasana di mobil tak begitu kaku.
“Dera sudah menikah ya Mas?” tanya Pak Sigit sebagai rekan kerja Burhan.
“Iya Mas, dia sudah menikah sekarang. Bahkan sekarang sedang hamil. Kalau anak mu bagaimana Mas? Tanyanya.
“Anakku belum, masih juga kuliah semester 3 Mas”
Percakapan ringan pun mengalir begitu saja hingga tak terasa hampir satu setengah jam perjalanan mereka.
Perjalanan yang seharusnya melalui tol agar lebih cepat, namun sangat di sayangkan harus mencari jalan lain karena jal tol sedang ada peralihan arus.
Jadi mereka memasuki jalan sepi yang jauh dari rumah penduduk. Yang kanan kirinya di penuhi oleh pepohonan.
Tiba-tiba, terdengar suara klakson motor dan dengungan dari beberapa motor dari arah belakang.
Ada 6 pria yang mengenakan topeng hitam menggunakan 3 motor yang hampir menyerempet mobil yang dikendarai Pak Sigit dan Pak Burhan.
Awalnya mereka biasa saja dan tak berpikiran bahwa kini mereka lah yang menjadi sasaran.
Sigit dan Burhan panik, tidak mengetahui apa yang akan terjadi, mengapa sampai bisa ada penjahat menghampiri mereka.
Kini mobil mereka terkepung.
Sigit mencoba mengendalikan laju mobilnya. Di tambahlah kecepatannya, namun besar juga resikonya. Jika melajukan dengan pelan, tetap saja sangat berbahaya bagi mereka.
Namun beberapa kali salah satu dari pengendara motor tersebut mengetuk kaca mobil Sigit berkali-kali. Mau tak mau Sigit pun menuruti. Namun di cegah oleh Burhan, "Jangan berhenti, lajukan saja mobilnya. Sangat berbahaya jika nanti kita berhenti di tempat sepi seperti ini"
"Tapi percuma mas, Mau sampai kapan? cepat selesai lebih baik mas"
Tak lama setelah itu.
“Apa-apaan ini, Kenapa ini? Kenapa ada orang yang melempar telur ke mobil mu Mas” Burhan dengan khawatirnya memegang pegangan pada mobil.
“Kayaknya bukan orang baik Mas” Sigit masih dengan konsentrasinya mengendalikan setirnya.
“Sebenarnya dari tadi saya sudah curiga, mobil saya di kuntit orang bermotor” ucap Sigit yang telah mengetahui gerak gerik para pemotor.
“Ternyata benar, ini… ini percuma jika di terusin,. Jalannya makin sepi Mas, kita nanti bisa celaka jika di terusin. Mending berhenti aja kita” ucap Burhan karena tak ada pilihan lain selain berhenti dan menghadapi para penjahat tersebut.
“Baik Mas” sigit menghentikan laju mobilnya di tepi jalan.
Setelahnya Burhan dan Sigit melepas seatbelt dan turun. Tanpa memikirkan konsekuensinya yang akan dialaminya nanti, mereka berhadapan dengan para penjahat tersebut.
Dengan tubuh yang masih gagah namun tak dipungkiri usia mereka beranjak menua.
Sigit yang lebih maju dahulu dibandingkan Burhan.
Dengan nyali yang ada dia maju dan bertarung.
Sedangkan para pemotor yang seakan ditantang, segera turun dari motor dan membuka helmnya.
Tanpa sepatah jawaban dari mereka, satu penjahat maju untuk menghajar Sigit.
Bug.
Bug.
Bug.
Pukulan di punggung pun mendarat di punggung penjahat tersebut
Langkah kaki yang sudah professional menendang Sigit berkali-kali. Begitupun sigit yang membalas tendangan demi tendangan dia layangkan dan juga pukulan.
Satu per satu pria tersebut tumbang.
Sedangkan salah satu penjahat yang sempat di lumpuhkan Sigit, kini berusaha melarikan diri dan ditangkap oleh Burhan.
“Siapa yang menyuruh kalian!! Siapa yang nyuruh!! Kalau gak jawab saya akan lapor polisi” ucap Burhan pada laki-laki yang mengenakan topeng hitam. Dia mengunci pria bertopeng dengan lengannya.
Pria tersebut tak berkutik.
Namun tanpa diketahui Burhan, tangan pria bertopeng merogoh senjata tajam yang ada di sakunya.
Dengan cepat dia berbalik pada Burhan dan…
Sttttt..
Pisau menancap di perut Burhan.
Seketika Burhan lemah dan ambruk ke tanah. Darah yang mulai bercucuran dan pandangan Burhan semakin gelap.
Sigit yang kini masih berkelahi dengan penjahat mampu membekuknya dan berhasil membuka salah sati topeng yang dikenakan.
Dia mengingat wajah sang pelaku. Betapa kagetnya, pria bertopeng itu adalah pria yang sama persis dengan seorang laki-laki yang sempat dia lihat sewaktu bertemu dengan seorang wanita berambut panjang dan dia diberikan amplop coklat yang pikirnya itu berisi sejumlah uang.
"Bukankah dia??" Sigit belum selesai dengan lamunannya, penjahat tersebut berusaha kabur dan melarikan diri.Sayangnya, salah satu dari mereka menendang Sigit hingga terjatuh.
^
Di rumah.
“Astagfirullahaladzim” ucap Lestari karena teh panas yang diminumnya tumpah di tangannya.
“Tante, tante kenapa tan? Kalau panas jangan diminum dulu” ujar Dinda yang segera mengambilkan beberapa tisu untuk membersihkan tangan bunda Dera.
Lestari yang kini melamun tiba-tiba kepikiran sang suami.
"Sudah Dinda, tante mungkin kurang hati-hati saja. Oh ya tolong telpon om Burhan nak, sudah sampai mana? ko belum kasih kabar juga? seharusnya sih ini sudah sampai" jawabnya dengan hati tak tenang.
“Ya tan, Dinda ambil ponsel dulu di kamar”
Dinda segera menuju kamar, setelahnya dia menekan tombol di ponselnya. Tertera nama “Om Burhan” disana.
Di tekannya tombol memanggil. Layar ponsel yang awalnya memanggil telah berubah menjadi berdering,
namun kenapa ga ada jawaban? apa terjadi sesuatu? ah sudah, pikir yang positif thinking aja.. Batinnya.
Panggilan pertana tak terjawab “mungkin om Burhan sedang di jalan” dia menghilangkan overthinkingnya.
Dua kali, di cobanya lagi “mungkin om Burhan ke kamar mandi atau ponselnya di silent” masih dengan pikiran yang baik.
Ketiga kali, “Haduh om Burhan kemana ya.. tante Lestari khawatir nih om, angkat om” batinnya kini yang mulai gelisah.
Lestari yang melihat gelagat sang keponakan pun menjadi ikut gelisah, karena tak ada kabar apapun dari sang suami.
“Bagaimana Din.. apa di angkat?” tanya Lestari.